[Ficlet] Partner : Romance

proxy (242)

Title : Partner | Sub-title : Romance | Cast : Wu Yi Fan (Kris), Bae Joo Hyeon (Irene) Red Velvet | Genre : AU, Romance, Fluff |Rating: G | Duration : Ficlet series | Other cast : – | Scripwriter/Author : Lee Yong Mi / Reshma | Summary : Kenapa jadi terbalik?

Author’s Note :

Maaf atas update yang telat banget :” Dan maaf untuk alur cerita yang mudah ditebak nanti :v Happy reading and sorry for any typo(s)

Hari Sabtu dan Minggu harusnya menjadi hari dimana semua orang beristirahat dari kegiatan melelahkan selama lima hari belakangan, namun semua itu jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh perempuan ini.

“Iya, Pak. Saya sebentar lagi akan kesana—iya, saya akan membawa berkasnya.”

Sungguh, ia hanyalah seorang mahasiswi semester awal yang sedang mengalami libur perdana, namun semua kesibukannya untuk mengurus visa dan segala hal lain yang berhubungan dengan ‘pergi ke luar negeri’ membuat ia tak bisa menikmati liburannya dengan santai.

Well, memang ia yang memilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar  dari kampusnya sendiri, tapi pergi sejauh ribuan kilometer? Ini adalah pertama kali bagi ia untuk mengalaminya.

“Sepertinya kau sibuk untuk saat ini.”

Ia tersentak. Kegiatannya dalam mengatur berkas-berkas yang harus dibawa ke negeri seberang itu terhenti sejenak. Matanya terpaku pada sosok laki-laki yang melangkah mendekat dengan kedua tangan yang masing-masing memegang segelas coklat panas.

“Untukmu,” ucapnya lagi seraya memberikan gelas yang berada di tangan kanan. Perempuan itu tersenyum, menyambut dengan riang gelas tersebut dan mulai menyesap isinya. Rasa manis segera merasuki lidahnya, membuat ia tanpa sadar tersenyum tipis.

“Jadi … enam minggu?”

Pertanyaan itu membuat ia berhenti menyesap. Matanya melirik ke arah sang laki-laki yang belum meneguk sedikit pun minuman yang berada di tangannya.

“Iya,” jawab perempuan itu, kembali menegus cokelat panas yang mulai mendingin, “Enam minggu tidak akan selama itu—“

“Aku tidak mengkhawatirkan kadar bertemu kita,” sang laki-laki tertawa, merasa berhasil membuat rona di pipi perempuan di sampingnya, “tapi aku mengkhawatirkan bagaimana kuliahmu nanti. Kau tidak apa-apa meninggalkan beberapa mata kuliah?”

“Sebenarnya sayang,” balas perempuan tersebut. Ia menggantung kalimatnya sejenak ketika matanya terpaku pada langit malam, “tapi semua yang dilakukan memiliki resiko masing-masing, bukan? Aku memilih untuk mengikuti event ini, maka aku tidak akan mundur meski resiko apa pun yang kuhadapi.”

“Baiklah,” laki-laki itu mulai menyesap minumannya. Ia memilih untuk mengikuti pandangan sang perempuan ke arah langit, menemukan bahwa sang bulan sedang bersinar dengan terangnya, didampingi oleh bintang-bintang yang bertaburan di sekeliling bulan tersebut. Sesuatu melintas di dalam pikirannya, membuat ia sendiri merona karena memikirkan hal tersebut.

‘Apa ini tidak terlalu aneh? Bahkan sepertinya kalimat ini pasaran,’ batinnya, namun ia mulai merasakan ketidak nyamanan di dalam dirinya itu. Ia ingin mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, namun sang bibir memilih untuk tetap terkatup.

Ugh, ia merasa dilema sekarang!

“Yi Fan gege? Kau tidak apa-apa?”

Pertanyaan itu membuat Yi Fan tersentak, sehingga tanpa sadar ia mengucapkan sesuatu.

“Ka—kau lihat bulan di atas sana?”

Uh, dia sangat ingin merutuki mulutnya saat itu.

“Bulan?” ulang sang perempuan. Yi Fan mengangguk pasrah, “Oh, maksudnya bulan disana?”

Perempuan itu menunjuk ke arah bulan yang masih bersinar, membuat Yi Fan mengangguk lagi.

“Ada apa dengan bulan itu?”

Nah, pertanyaan ini yang ingin dihindari Yi Fan sekarang. Apa ia harus mengatakan isi pikirannya atau mengalihkan pembicaraan itu ke topik lain?

Namun wajah yang menunjukkan rasa penasaran di sebelahnya itu …

Yah, mungkin ia akan mengatakannya saja.

“Nanti disana …” Yi Fan sengaja tak menatap perempuan itu, “… kalau kau melihat bulan …”

Rasa malu semakin memuncak di dalam dirinya.

“… anggap saja aku sedang melihatnya juga….”

Sudah ia bilang, ini adalah kalimat yang paling sering digunakan! Ia tak sanggup melihat bagaimana reaksi dari sang perempuan!

Lima menit berlalu dan belum juga ada jawaban. Rasa malu Yi Fan telah menghilang entah kemana, sehingga kini ia menoleh untuk melihat apa yang sedang perempuan itu lakukan.

Ia mendapati sang perempuan masih tetap menatap bulan.

“Mengapa aku harus menatap bulan?”

Yi Fan merasa dunianya runtuh begitu saja. Oh, andai ia bisa menyembunyikan wajahnya!

“Iya, mengapa aku harus menatap bulan?” tanya perempuan itu seraya menoleh ke arahnya, “Mengapa kalau aku yakin Yi Fan gege akan selalu di sisiku meski tak berada di sampingku?”

O—oh….

Yi Fan kehilangan kata-kata.

Mengapa jadi Irene yang membuat ia tersipu? Harusnya ia yang membuat perempuan itu tersipu!

 

FIN

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s