[Ficlet] Partner : Action

140415-kai-exo-new-teaser-picture-for-overdose

Title : Partner | Sub-title : Action | Cast : Kim Jong In (Kai) EXO, Son Seung Wan (Wendy) Red Velvet | Genre : AU, Action |Rating: PG-15 | Duration : Ficlet series | Other cast : – | Scripwriter/Author : Lee Yong Mi / Reshma | Summary : Memiliki partner payah itu … menyebalkan.

Author’s Note :

Halo~ Author kembali dengan ficlet series /dibantai/ /cerita sebelumnya mana/ /sabar lagi on going/

eum … karena disini ada banyak adegan darah , jadi yang punya fobia darah harap berjaga-jaga ya ‘-‘)a

oke, happy reading ^^

PS : Sorry for any typo(s)

Peluru itu hanya berjarak lima sentimeter dari sudut matanya. Jika ia tak dapat menghindar, mungkin saja wajahnya akan mendapatkan lubang menganga yang berarti.

What the hell.

Ups, bibirnya tanpa sengaja menggumamkan kata kutukan itu. Gerakan tubuhnya tergolong cepat, sehingga tiga detik kemudian benda yang meluncurkan peluru itu telah berpindah tangan.

Dari tangan musuh menuju tangannya.

“Tu—tunggu dulu….” sang musuh merasa hidupnya mulai terancam ketika benda berbentuk pistol itu teracung tepat di depan wajahnya, “Ki—kita bisa bernegoisasi dulu, bukan? Kau tidak perlu me—menekan pelatuknya….”

“Apa yang kau harapkan dari seorang gadis?”

Bang!

Timah panas telah bersarang di tengkorak sang musuh.

“Pengecut,” ia menghapus kasar percikan darah akibat tembakan secara dekat itu, “Oke, dan dimana partner tak berguna itu sekarang?”

Tanpa menunggu, ia melompati tubuh-tubuh tak bernyawa yang telah lama ia bereskan tadi. Dengan cekatan, ia berlari menelusuri lorong yang menghubungkan antara ruang—dimana ia membantai habis lima orang musuh—itu dengan tangga yang menuju ke bawah. Melihat ada bekas darah di lantai, membuat ia yakin bahwa ada sosok tubuh terluka yang diseret secara paksa melalui tangga tersebut.

Ck, bisa-bisanya main kasar.

Meminimalisir suara yang dibuat dari langkahnya, ia melangkah menuruni tangga. Tubuhnya dirapatkan ke dinding, kemudian secara perlahan ia mengintip dari balik dinding …

..

.

Hanya untuk menemukan partner-nya terikat di atas kursi dengan tubuh penuh luka.

“Sial.”

Lagi-lagi ia tak bisa menahan bibirnya untuk tak menggumamkan kata kutukan. Sepenglihatannya tadi, ada sekitar tiga orang berjubah hitam (mungkin mereka pikir mereka adalah ksatria baja hitam) yang berdiri di dekat partner-nya yang terikat. Jika ia menerobos masuk dan menembakkan pistolnya, ada kemungkinan salah satu peluru justru mengenai sang partner.

Beginilah kalau ia mendapatkan partner baru dalam misi berbahaya.

“Katakan, dimana partner-mu?!”

Oh, sepertinya tiga orang itu sedang mencarinya. Apa mereka tidak menyadari bahwa bos mereka telah terbunuh?

“Mungkin partner-ku telah membunuh bos-mu itu,” seratus poin untuk sang partner! “Bagaimana kalau kalian periksa dulu kondisi bos kalian?”

Buak!

“Jangan bercanda!” hardik salah satu di antara mereka, sedangkan partner-nya hanya bisa meringis akibat rasa sakit dari pukulan kuat itu, “Bos kami tidak akan mati semudah itu!”

Partner-ku pun tidak akan mati semudah itu,” balas sang partner, membuat ia merasa cukup tersentuh, “Apa kalian tak tahu? Ia perempuan berkulit baja! Peluru tidak akan bisa menembusnya!”

Well, aku akan senang sekali membunuh kalian semua.”

Sang partner tersenyum lebar melihat ia yang kini telah berdiri tidak jauh dari mereka, dengan kedua pistol yang melekat pada tangannya. Tiga orang itu bereaksi lambat—mereka menoleh tepat ketika tiga peluru menembus leher masing-masing.

Semuanya ambruk begitu saja di atas lantai.

Partner!” ucap sang partner girang ketika melihat ia berjalan ke arahnya, melempar pistol yang dipegang ke sembarang arah dan meraih sebuah pisau dari dalam sakunya. Sayang, kegembiraan itu menghilang ketika sang pisau membuka tali yang mengikat tubuhnya sekaligus mengiris kulitnya sedikit.

“Perempuan berkulit baja?!” ia menatap sang partner sinis, “Sekali lagi kau menyebutku begitu, aku tak sungkan untuk menusukkan pisau ini tepat di jantungmu.”

“Aw, partner. Jangan marah.”

“Cepat berdiri sebelum aku menyeretmu!”

Sang partner tertawa, “Iya, iya! Kau bisa cepat tua kalau terus marah seperti ini, Wendy-ah!”

Pisau itu kembali teracung ke wajahnya, “Sebut namaku lagi maka kau akan mati.”

“Oke, aku akan diam!”

“Bagus,” Wendy menyimpan pisaunya ke dalam saku, “Ini memang tugas pertamamu tapi … lumayan. Mungkin melihatmu berdarah seperti ini, maka bos akan meluluskanmu … Kai.”

Kai kembali tertawa, “Setidaknya panggil aku ‘Kak’. Aku lebih tua satu bulan dibandingkan denganmu.”

“Terserah,” balas Wendy seraya berjalan menaiki tangga, diikuti Kai di belakangnya.

 

FIN

7 thoughts on “[Ficlet] Partner : Action

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s