Mémoire [Toheart Fanfiction]

zulfhania PRESENTS

memoire

MÉMOIRE

– Genderswitch Fanfiction –

Nam Woohyun (boy) | Key (girl) | Kim Myungsoo (girl)

General, lil bit hurt

© zulfhania 2014

Biarkan ini menjadi kenangan. Sepotong kenangan beraroma rindu.

‘Mungkin dia hanya lupa pernah mencintaiku.’


Gelas berisi cairan warna kuning pucat baru saja diletakkan di atas meja oleh sebuah tangan yang tampak begitu ringkih dan rapuh. Pria yang duduk di balik meja mengangkat kepala demi melihat dan tersenyum berterimakasih pada wajah si pemilik tangan.

“Terimakasih.” ucapnya.

Bibir si gadis terangkat untuk membalas senyuman pria itu. Dengan hanya sebuah senyuman, ia sudah menjawab ucapan pria itu, bukan?

“Hari ini kau ada acara apa, Woohyun oppa?” tanya si gadis setelah mengambil posisi duduk di depan pria itu.

Woohyun tampak berpikir. “Entahlah. Sepertinya tidak ada.”

“Oh, begitu. Bagaiman–“

“Oh! Sepertinya aku harus bertemu dengan Myungsoo hari ini!” pekik Woohyun, tanpa sempat mendengar ucapan yang akan diucapkan si gadis.

“Myung… Soo?” Sepertinya gadis itu merasa suaranya tercekat saat menyebut nama yang sudah tak asing baginya itu.

Woohyun mengangguk. “Hm. Kurasa aku harus bertemu dengannya. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.” Ia menatap mata si gadis begitu muncul sebuah ide. “Ingin ikut denganku?”

Mata si gadis mengerjap beberapa saat. “Tidak. Ada hal yang harus kukerjakan hari ini. Selamat bertemu dengan Myungsoo. Sampaikan salamku padanya.”

Setelah berkata begitu, si gadis bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.

“Key~a!”

Langkah si gadis terhenti begitu namanya dipanggil. Ia menoleh dan menemukan Woohyun sedang menatap ke arahnya dengan tatapan yang begitu dalam. Ah, ia rindu sekali dengan tatapan itu. Tatapan yang dulu merupakan cemilannya setiap hari.

“Kau pucat sekali. Apakah kau sakit?” tanya Woohyun.

Kembali bibir tipis Key terangkat, menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Lalu kembali melangkah menuju kamarnya. Setelah pintu kamar tertutup rapat, ia menyandarkan punggungnya disana. Matanya terasa panas dan yang bisa ia lakukan hanyalah menggigit bibir. Tangannya mencengkeram erat bagian depan kaosnya. Merasakan hatinya tercabik mendengar Woohyun akan bertemu dengan gadis lain. Tapi di sisi lain ia juga merasakan hatinya bergetar karena tatapan Woohyun tadi. Hatinya cemburu. Hatinya rindu. Namun hatinya juga kecewa. Sungguh, rasanya ia tak mampu lagi untuk menahan perasaannya yang berkecamuk. Ia ingin sekali berteriak, tetapi yang keluar dari mulutnya hanyalah isakan. Dan tubuhnya pun meluruh, seiring dengan jebolnya pertahanan airmata.

Cincin emas yang melingkar di jari manis Key kini tampak sudah tidak bermakna lagi baginya.

Iya, Oppa. Aku memang sakit. Aku sakit karena kau sama sekali tidak mengingatku. Aku sakit karena kau lupa pernah mencintaiku, Woohyun Oppa.

* * *

Akhir Desember di tahun 2014. Woohyun keluar dari gedung kantornya dan merapatkan jaketnya lebih rapat. Entah kenapa cuaca malam ini lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena sore tadi salju turun dengan lebatnya yang hingga saat ini salju masih saja turun walaupun tidak selebat tadi. Atau mungkin juga karena malam ini adalah malam tahun baru.

Ah, benar. Malam ini adalah malam tahun baru. Seharusnya hari ini ia mengistirahatkan tubuhnya untuk pesta menyambut tahun baru malam ini. Bukannya malah memaksakan diri untuk lembur kerja.

“Aish! Pukul setengah 12 malam!” rutuknya setelah melirik jam tangan.

Sekali lagi Woohyun merapatkan jaketnya sebelum berlari menerobos hujan salju. Ia lupa kalau ponselnya mati dan ia bisa memastikan kalau saja ponselnya saat ini masih menyala pasti benda kecil itu sudah berkali-kali menjerit minta diangkat. Dan karena ponselnya mati, sudah bisa dipastikan pasti gadisnya sedang menunggunya sekarang.

Woohyun berbelok melewati salah satu toko perhiasan yang masih buka. Namun begitu menyadari sesuatu, ia menghentikan larinya dan berputar balik. Ia memasuki toko tersebut dan keluar lagi dengan membawa sekotak kecil yang dibalut kain beludru dengan nuansa ungu di tangannya. Kemudian ia kembali berlari membelah hiruk-pikuk Kota Seoul di malam tahun baru.

Sementara itu di dalam salah satu apartemen di kawasan Seoul, seorang gadis duduk bersila di atas sofa sambil memeluk bantal dengan wajah terkantuk. Matanya tak lepas menatap ponsel di atas meja yang selama enam jam terakhir ini sama sekali tidak bersuara ataupun menjerit atau apapun itu. Yang jelas sudah enam jam terakhir ini orang itu belum memberinya kabar. Dan tentu saja belum menampakkan batang hidungnya. Padahal orang itu berjanji padanya akan menghitung mundur bersama pada malam tahun baru di apartemennya.

“Key~a!”

Baru saja Key memikirkannya, orang itu sudah muncul di depannya setelah mendobrak pintu apartemen dengan keras. Bahkan Key sampai terlonjak dari sofanya. Namun rasa kaget itu berubah dengan seiringnya langkah kaki Woohyun yang mendekatinya dengan napas terengah dan langsung merengkuh tubuh kecilnya.

“Ponselku mati. Maaf tidak mengabarimu.” bisik Woohyun.

Key mengangguk di dalam rengkuhan Woohyun. Ia ingin mengatakan kalau tidak apa-apa, tetapi sepertinya anggukannya sudah cukup untuk menjawab ucapan Woohyun.

Woohyun melepas pelukannya dan mengajak Key untuk duduk di sofa. “Ada suatu hal yang ingin kubicarakan dan kuberikan padamu.”

“Apa itu?” tanya Key setelah mereka berdua duduk.

Woohyun merogoh sakunya dan mengeluarkan sekotak kecil berkain beludru ungu. Mata Key membulat begitu mengenali kotak kecil itu. Di dalam drama, biasanya di balik kotak itu adalah sepasang cincin. Apakah Woohyun akan memberikannya cincin?

Woohyun membuka kotak tersebut dan Key benar-benar terkejut dibuatnya. Dugaannya benar.

“Aku ingin melamarmu.” ucap Woohyun dengan suara yang begitu dalam.

Napas Key tercekat. Tangannya tanpa sadar terangkat untuk menutup mulutnya yang ternganga saking tidak menyangkanya. Ya. Ia benar-benar tidak menyangka. Selama ini Woohyun hanyalah ia anggap sebagai kakak sepupunya. Tidak lebih. Namun malam ini, Key benar-benar sedang dikejutkan oleh sebuah kenyataan dan pernyataan.

Woohyun meraih jemari tangan kiri Key dan memasangkan salah satu cincin emas itu di jari manisnya. “Aku tahu ini benar-benar mendadak sekali dan kau pasti terkejut. Maka dari itu aku tidak memaksamu untuk menjawabnya malam ini.” Setelah cincin itu terpasang sempurna di jari manis Key, Woohyun mengusap puncak kepala gadis itu dan menatapnya dalam. “Kau boleh menjawabnya saat kau sudah yakin dengan perasaanmu.”

“Opp–“

“Sst.” Jari telunjuk Woohyun mendarat dengan manis di depan bibir tipis Key.

Dan Key sama sekali tidak bisa mendefinisikan perasaannya begitu Woohyun menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam. Tatapan yang sebenarnya sudah sejak dulu diberikan padanya. Tetapi dulu Key hanya menganggap itu adalah tatapan kasih sayang dari seorang kakak. Ternyata malam ini Key baru menyadari kalau tatapan itu adalah tatapan seseorang yang memiliki perasaan lebih dari seorang kakak kepada adiknya.

“Sudah kubilang jangan jawab sekarang. Aku tidak memaksamu.” bisik Woohyun lirih. Ia tersenyum lalu mengacak rambut Key yang panjangnya tidak sampai sebahu. Walau begitu, Woohyun tidak pernah menganggap Key adalah gadis yang tomboi. Di matanya, gadis itu adalah gadis yang paling feminim yang pernah ia lihat.

Woohyun melirik jam tangannya. “Sebentar lagi hitung mundur akan dimulai. Ayo.”

Key merasa hatinya berdebar begitu tangan Woohyun menarik tangannya dan membawanya menuju balkon. Ada yang tidak beres pada jantungnya kali ini. Oh, bahkan syaraf keseimbangannya pun seperti tidak berfungsi. Mendadak ia merasa tubuhnya lemas. Tersedot habis oleh detakan jantungnya yang amat konyol ini.

“Sepuluh… Sembilan… Delapan…” Woohyun mulai berhitung.

Woohyun semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan Key. Hal tersebut justru membuat Key semakin gugup. Saat Woohyun mengisyaratkan padanya untuk ikut hitung mundur, Key sama sekali tidak bisa mengeluarkan suaranya. Tercekat di tenggorokan.

“… Tiga… Dua… Satu!”

TREEET! BUM!

Bunyi suara terompet yang bersahutan dengan suara letupan petasan dan kembang api yang bergemiricik di langit memekik telinga meramaikan kota Seoul malam itu. Mata Key berbinar menatap pesona langit yang begitu indah oleh bunga-bunga api dari letupan kembang api. Woohyun sampai gemas melihat ekspresi lucu yang ditunjukkan Key. Maka dari itu ia memperkecil jarak dan mengecup lembut bibir tipis gadis itu yang terasa dingin. Inilah ciuman pertama mereka.

* * *

Key menyentuh bibirnya. Mencoba untuk merasakan kembali bibir Woohyun yang pernah singgah disana. Rasanya baru kemarin pria itu mencuri bibirnya. Kini pria itu bagaikan menghilang dari dalam hidupnya. Mereka memang masih tinggal serumah, setidaknya Woohyun masih menganggap Key adalah adik sepupunya. Namun, Woohyun sudah tidak menganggap Key sebagai kekasihnya lagi.

Raga mereka memang dekat, namun hati mereka terasa jauh. Sulit untuk Key menjangkau kembali hati Woohyun yang pernah singgah di hatinya.

“Kau melamun?”

Key menoleh dan menemukan Myungsoo berdiri di sebelahnya dengan membawa beberapa piring kotor. Key memaksakan sebuah senyum dan mengambil piring tersebut dari tangan Myungsoo.

“Tidak apa-apa, Eonni. Aku hanya lelah.”

Myungsoo menghentikan gerakan tangan Key yang hendak mengambil piring dari tangannya. Bahkan Key sampai kaget karena gerakan tangan Myungsoo yang terbilang mendadak.

“Kalau begitu biar aku saja yang mencuci. Kau istirahat saja. Kau tampak pucat, Key~a.”

Bibir pucat Key kembali tersungging. “Tidak apa-apa, Eonni. Aku baik-baik saja. Ini rumahku jadi biarkan aku yang mencuci.”

“Apa yang terjadi?” Kepala Woohyun menyembul dari balik pintu dapur. Menatap dua makhluk hawa yang sedang berdiri di balik wastafel.

“Key memaksakan diri mencuci piring bekas makan kita, Nam Woohyun. Padahal, lihatlah wajahnya, pucat sekali! Kurasa ia sedang tidak sehat. Tetapi ia tidak mau mendengarkanku.”

Key tersenyum pada Woohyun. “Aku baik-baik saja, Oppa. Sungguh.” Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Myungsoo. “Jadi biarkan aku saja yang mencuci, Myungsoo Eonni.”

“Tapi—“

“Biarkan saja Key yang mencuci, Myungsoo~a.” Woohyun melerai hingga kedua makhluk hawa itu kembali menoleh padanya. “Key memang seperti itu orangnya. Sini, kau bersamaku saja. Ada yang ingin kutunjukkan padamu.”

Myungsoo menghela napas pendek, mengalah. Ia mundur selangkah lalu berbalik menghampiri Woohyun yang berdiri di bingkai pintu dapur. Pria itu mengulurkan tangannya dan Myungsoo menyambut uluran itu dengan senyuman yang amat cantik.

Sementara Key hanya melihat pemandangan itu dengan hati teriris. Sampai mereka berdua menghilang dari pandangannya, ia masih menatap pintu dapur dengan tatapan kosong. Matanya terasa panas hingga ia tak sadar kalau tatapannya sudah berkabut terhalang oleh airmata.

Key mengerjapkan mata dan menyeka airmata yang mendadak mengalir. Ia menyalakan kran dan membilas piring kotor di tangannya. Namun wajah Woohyun yang tersenyum manis pada Myungsoo saat wanita itu menyambut uluran tangannya kembali terbayang.

Bukan salah Myungsoo kalau Woohyun bersikap seperti itu. Ini sama sekali bukanlah salah Myungsoo, Key sendiri tahu itu. Tetapi entah kenapa hatinya merasa cemburu sekali hingga ia menyalahkan Myungsoo atas segala sikap baiknya Woohyun pada wanita itu.

Namun segala kerusakan hubungannya dengan Woohyun bermula sejak munculnya wanita itu, jadi bolehkah Key tetap menyalahkan Myungsoo atas segala kejadian buruk yang menimpa hidup serta hatinya itu?

Mungkin seharusnya kejadian pada malam tahun baru itu tidak pernah ada. Mungkin seharusnya Key menahan Woohyun untuk tidak pergi bertemu teman-temannya setelah ciuman pertama mereka di balkon apartemen saat itu. Mungkin seharusnya Key tidak perlu pergi kesana. Karena siapa yang bakal tahu kalau semuanya berubah setelah mereka melakukan hitung mundur bersama saat malam tahun baru?

* * *

“Bukankah kau bisa pergi pagi nanti? Ini sudah terlalu larut, Oppa.” kata Key menatap Woohyun yang sedang memakai jaket kulitnya dengan tatapan khawatir.

Woohyun mendekati Key dan menangkup wajah gadis itu. “Hari ini adalah hari ulangtahunnya. Aku tidak ingin melewatinya begitu saja. Dia adalah teman terbaikku, aku ingin selalu ada di sampingnya setiap saat dia sedang berbahagia.”

Key tersenyum, merasa luluh dengan tatapan yang begitu dalam di kedua manik Woohyun. “Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Dia pasti bangga sekali memiliki teman sepertimu.”

Woohyun balas tersenyum. “Itu sih sudah pasti.” katanya kemudian mencubit pipi Key dengan gemas.

Oppa!” Key memukul tangan Woohyun, sementara pria itu hanya tertawa.

“Aku pergi dulu ya. Tidak usah menungguku, kau tidurlah.” Woohyun mengecup puncak kepala Key kemudian berlalu keluar apartemen setelah melambaikan tangannya pada gadis itu.

Key balas melambaikan tangan walaupun Woohyun sudah tidak melihatnya lagi. Ia baru berhenti melambai saat ciuman di balkon tadi kembali terbayang. Ia menyentuh bibirnya dan tersenyum kecil. Sepertinya ia sudah siap untuk memberikan jawaban pada Woohyun saat pria itu kembali ke rumah nanti.

Tiba-tiba saja ponsel Key berbunyi. Nama Nam Woohyun berkerlap-kerlip di layar ponselnya. Key tak bisa menahan senyum saat menerima panggilan itu.

“Biar kutebak saat ini kau pasti sedang memikirkan ciuman pertama kita tadi!” sahut Woohyun segera setelah sambungan tersambung, bahkan sebelum Key menyapa terlebih dahulu.

Oppa, kau ini cenayang atau apa sih?”

“Kalau begitu, benar kan?”

Key tidak langsung menjawab. Wajahnya bersemu merah dan ia tidak tahu apakah ia harus mengaku atau tidak.

“Sudahlah, tidak usah memikirkanku dulu. Tidurlah. Biarkan kau berjumpa denganku di alam mimpi.”

Oppa, kau ini benar-benar—“

“Tampan? Oh, terimakasih, Key~a. Aku memang sangatlah tampan.”

Lagi-lagi Key kehabisan kata-kata. Wajahnya semakin memerah sampai ia merasa kalau wajahnya saat ini sudah seperti kepiting rebus.

“Untung saja tadi aku sudah mengecas ponselku jadi aku bisa meneleponmu dan mengatakan hal ini padamu.”

Mata Key mengerjap. Menunggu lanjutan kalimat Woohyun.

“Aku mencintaimu, Key~a. Selamat malam. Tidurlah yang nyenyak.”

Kemudian sambungan terputus. Tetapi Key masih terdiam dengan ponsel yang masih ditempelkan di telinga. Suara Woohyun barusan benar-benar telah menembus gendang telinganya. Bagaimana cara Woohyun mengucapkan kalimat yang demikian berharga itu sungguh membuat hati Key berdebar saat ini. Sepertinya ia tidak akan bisa tidur malam ini.

Key berjalan mendekati pintu balkon dan menutupnya. Bunga-bunga api masih tampak ramai menghiasi langit di atas Kota Seoul. Tapi Key sudah tidak berniat lagi untuk melihatnya. Woohyun benar, ini sudah saatnya untuk tidur. Matanya sudah sangat lelah dan ia rasa tidur adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.

Baru saja Key merebahkan tubuhnya di atas kasur, ponselnya kembali berbunyi. Ia tak bisa menahan senyum saat lagi-lagi nama Nam Woohyun berkerlap-kerlip di layar ponselnya. Apakah pria itu akan meneleponnya setiap beberapa menit sekali? Sungguh pria yang romantis!

Oppa, apakah kau akan terus mengganggu tidurku?” teriak Key sebelum suara di seberang ponselnya menyahut terlebih dahulu seperti tadi.

Namun, suara di seberang tidak langsung menyahut. Bahkan Key mendengar suara napas tersentak dan bunyi ‘ngiung-ngiung’ dari seberang ponsel yang entah apa artinya.

Oppa?” Suara Key mendadak khawatir.

“Maaf.” Terdengar suara wanita dari seberang ponsel.

Kening Key mengernyit. Mendadak ia mendapat firasat buruk.

“Apakah Anda mengenal pria pemilik ponsel ini?” tanya wanita itu hati-hati.

“Iya. Saya…” Key ingin sekali mengatakan kalau ia adalah kekasihnya, tetapi ia sadar kalau ia belum memberikan jawaban atas pernyataan Woohyun tadi malam, jadi yang bisa dijawabnya adalah, “Saya Key, adik sepupunya. Anda siapa?” ucapnya gugup. Keringat dingin mulai menjalari telapak tangannya.

“Selamat malam, Key ssi. Nama saya Kim Myungsoo. Maaf kalau saya mengganggu waktu tidur Anda, tetapi pria pemilik ponsel ini…”

Segaris airmata mengalir dari pelupuk mata Key bahkan sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Ponsel di tangannya terlepas begitu saja dan ia langsung berlari keluar apartemen tanpa memakai jaket dan alas kaki.

Pasti wanita itu salah sambung. Tidak mungkin. Tidak mungkin hal itu terjadi pada pria yang baru saja mengaku mencintainya.

Key berlari menembus dinginnya malam. Ia tidak peduli dengan telapak kakinya yang sudah mati rasa akibat dingin yang menjalar seluruh tubuhnya. Ia memang sudah mati rasa, sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Selain rasa takut di hatinya.

Di perempatan jalan, langkahnya terhenti. Matanya terpaku pada sebuah kecelakaan yang terjadi beberapa menit yang lalu disana. Oppa…

Salah seorang wanita menyadari kehadiran seorang gadis yang memakai piyama dengan penampilan yang amat berantakan, bahkan gadis itu tidak memakai alas kaki. Wanita itu berjalan mendekat, melepaskan jaket kulit yang ia kenakan, dan memakaikannya pada gadis berpiyama itu.

“A-apa yang terjadi?” tanya Key dengan suara tercekat.

Wanita itu meremas bahu Key yang bergetar. “Oppa-mu mengalami kecelakaan, Key ssi.”

Key tidak pernah tahu kalau kecelakaan itulah mula dari segala mimpi buruknya di dunia ini. Esok harinya Woohyun terbangun dengan tidak mengingatnya sama sekali. Dokter bilang, Woohyun amnesia.

* * *

Key berdiri di balik pintu dapur. Matanya mengarah pada kedua insan yang sedang duduk berdempetan di ruang tengah. Terlihat dari bagaimana cara Woohyun menatap Myungsoo, Key tahu bahwa ia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk meraih kembali hati pria itu.

Semenjak kecelakaan yang terjadi saat malam tahun baru itu, wanita yang mengaku bernama Kim Myungsoo seringkali hadir untuk sekedar menjenguk Woohyun ataupun menemani Key yang sedang bersedih. Ditambah dengan kenyataan kalau Woohyun mengalami amnesia, Myungsoo ingin selalu menemani Key dan menguatkan gadis itu. Beruntung pada akhirnya pria itu mengingat kalau Key adalah adik sepupunya. Sayangnya, Woohyun tidak pernah ingat kalau ia pernah mencintai, bahkan hampir melamar adik sepupunya itu.

Key melihat Myungsoo tertawa dan Woohyun langsung menjepit hidung wanita itu sehingga Myungsoo berhenti tertawa dan malah memukul tangan pria itu. Melihat pemandangan itu, hati Key benar-benar sakit. Benar, ia sudah tidak memiliki kesempatan itu lagi.

Woohyun telah mencintai wanita lain. Woohyun telah mencintai wanita yang telah menyelamatkan nyawanya saat peristiwa kecelakaan itu.

“Key~a!”

Key terkejut saat suara Myungsoo memutuskan lamunannya. Ia balas menatap kedua insan yang tengah menatap ke arahnya. Dan saat tatapannya bertemu dengan Woohyun, entah kenapa Key ingin sekali menangis. Setiap kali tatapannya bertemu dengan mata Woohyun, ia ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya, menangis keras sembari memukul dada pria itu yang telah dengan teganya membuat ia mencintainya saat pria itu sudah tidak lagi mencintainya.

“Kenapa kau diam disana? Sini, bergabung bersama kami!” Myungsoo memukul-mukul sofa di sebelahnya, mempersilakan Key untuk duduk disana.

Tatapan Key masih terpaku pada Woohyun. Woohyun balas menatapnya dengan sebuah isyarat yang dapat dimengerti oleh Key. Dan arti dari isyarat itu benar-benar menyakitkan untuknya. Woohyun menyuruhnya untuk pergi agar ia bisa berdua dengan Myungsoo. Sungguh menyakitkan.

“Ada hal yang harus kukerjakan, Eonni. Maaf. Aku harus kembali ke kamar.” kata Key, tersenyum paksa pada kedua insan tersebut.

“Oh, begitu. Baiklah.” ucap Myungsoo.

Setelah berkata begitu, Myungsoo kembali dijahili oleh Woohyun. Kali ini pria itu menarik daun telinganya hingga wanita itu menjerit kesakitan sekaligus bahagia.

Key mendengus, menertawakan dirinya sendiri yang amat menyedihkan. Berusaha untuk tak menghiraukan kedua manusia di ruang tengah itu, ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah gontai.

Sekali lagi, ia memperhatikan Woohyun dan Myungsoo yang kini sedang tertawa-tawa. Woohyun tampak mengusap puncak kepala Myungsoo dengan tangan kirinya. Jika kau perhatikan lebih jelas, tampak cincin emas melingkar dengan begitu cantik di jari manis Woohyun. Sayangnya, Woohyun tidak pernah tahu kalau cincin yang dipakainya adalah cincin yang sama dengan yang dipakai Key. Sayangnya, Woohyun tidak pernah tahu kalau cincin yang dipakainya adalah sebagai tanda kalau ia adalah milik Key.

Key menutup pintu kamar. Menyandarkan punggungnya disana. Tangannya mengusap-usap cincin emas yang melingkar di jari manisnya. Teringat dengan malam dimana Woohyun ingin melamarnya. Teringat dengan tatapan hangat yang diberikan Woohyun ketika itu. Dan teringat dengan ciuman pertama mereka di balkon.

Kini, semua itu hanya tinggal kenangan.

Woohyun tidak akan pernah mengingatnya. Sekalipun Key ingin sekali mengingatkannya, ia tidak akan pernah sanggup. Lagipula siapa yang akan percaya dengan perkataannya kalau Woohyun akan melamar adik sepupunya sendiri? Rasanya tidak mungkin.

Biarkan saja seperti ini, walaupun Key harus mengalami sakit yang teramat dalam saat melihat Woohyun bersama wanita itu. Mungkin Woohyun hanya lupa kalau ia pernah mencintai adik sepupunya sendiri.

Biarkan ini semua hanya menjadi kenangan. Sepotong kenangan beraroma rindu atas nama cinta.

– FIN –

Yuhuuuu~ saya kembali lagi dengan membawa fanfic perdana Toheart! Yes! Lagi-lagi fanfic perdana! Kali ini saya gak ketinggalan ketinggalan banget ya karena baru suka sama Toheart sekarang. Secara Toheart kan baru bulan Maret lalu debutnya jadi nggak perlu heran kenapa saya baru sukanya sekarang, soalnya saya juga baru suka sama Nam Woohyun-nya sekarang, hehe. Yang jelas saya suka sama Toheart setelah sembilan bulan mereka debut, jadi saya nggak ketinggalan ketinggalan amat. Oiya, kali ini saya tidak membawa fanfic yaoi, tetapi genderswitch! Yaps, anti mainstream dong bro! Fanfic perdana saya juga nih saya membawakan fanfic genderswitch, jadi maaf maaf aja ya kalo masih jelek, wkwk. Oke, happy reading guys ^^ Semoga menghibur! Oiya sekali lagi, selamat tahun baruuuu! Happy new year, readers!

Advertisements

2 thoughts on “Mémoire [Toheart Fanfiction]

    • kalo dibuat happy ending malah berasa mainstream banget, makanya sengaja kubuat endingnya hurt ._. hehe belom ada pikiran untuk buat sequelnya nih, btw thanks udah mampir ^_^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s