Pregnant

pregnant

Image as cover goes to Google which lil bit edited by me. Sung Soo Hee presents a fiction titled;

Pregnant

Rating: PG-15 // Length: One-shot // Genre: Marriage Life and Romance // Casts: EXO‘s Min Seok and OC‘s Min Ran, supported with other casts.


Previous; [I Want A Ice Cream!] and [Cooking]


Summary: Kim Minseok dan perhatiannya ke istrinya, Kim Minran, menunggu kehadiran anak mereka.

.

.

Minseok menggeliat pelan di atas ranjangnya. Tubuhnya lantas dibalik ke arah kiri. Manik matanya mulai terbuka dan hal pertama yang ia lihat adalah Minran yang sudah bangun dan balas menatapnya.

Minseok menarik sudut bibirnya tinggi. Namja itu menarik selimut naik hingga sebatas dadanya. Tubuhnya pun dirapatkan ke arah sang istri.

“Selamat pagi,” ucapnya pelan lalu mengarahkan wajahnya ke arah Minran. Bibir Minseok lantas menyapu permukaan bibir Minran.

Minran tersenyum setelah Minseok mengakhiri ciuman pagi mereka dengan menarik wajahnya mundur. “Selamat pagi yeobo,” sahutnya pelan.

Minseok tersenyum lembut. Tangannya lalu terulur memeluk tubuh Minran dan kepalanya disandarkan di pucuk kepala Minran. Minseok memejamkan matanya sebelum menguap pelan.

“Masih mengantuk, huh?” tanya Minran dengan jemarin yang kini sibuk menggelitik pelan leher Minseok.

Minseok terkekeh geli karena ulah sang istri. Namja itu menoleh ke arah Minran lantas menganggukan kepalanya pelan. “Kau membuatku lelah berlari ke mini market hanya untuk sebatang cokelat semalam,” ucapnya pelan.

Minran mendengus mendengarnya. Tangan yeoja itu kini berada di dada Minseok dan mendorongnya pelan. Lantas bibirnya mengerucut beberapa mili.

“Kau tak suka, huh? Ini kan keinginan baby,” serunya kesal.

Minseok hanya bisa menghela napas panjang. Sejak mengandung mood Minran selalu berubah secara mengerikan. Namja itu berpikir sejenak, mencoba mencari jawaban bagus yang tak membuat Minran kian kesal.

“Marah, eh?”

“Tidak marah tapi merajuk!”

Minseok terkekeh pelan mendengarnya. Namja itu lantas menegakkan tubuhnya. Menyebabkan selimut yang menutup tubuhnya sebatas dada turun meluncur hingga ke pinggangnya. Minseok lantas menoleh menatap Minran hanya masih mengerucutkan bibirnya di depannya.

Minseok menggeser tubuhnya ke arah Minran. Wajahnya lalu diturunkan mendekat ke arah perut Minran yang terlihat sedikit berisi itu. Namja itu lantas mengecup perut Minran yang tertutup piyama tidurnya.

“Jangan marah oke, baby? Appa tak kesal dengan apa yang kau minta. Tolong jelaskan itu eomma-mu. Arrachi?”

Minran yang mengerucutkan bibirnya hanya bisa diam melihat tingkah Minseok. Suaminya itu kembali mengecup perut Minran yang masih terlihat rata karena tak terlalu menyembul itu. Lantas yeoja itu segera memudarkan wajahnya kesalnya saat Minseok mulai mengelus perutnya pelan.

Minran tak tahan untuk tak mengulas senyumnya. Yeoja itu lalu mengusap kepala Minseok yang sibuk mengusap perutnya. Membuat sang suami mendongak ke arahnya sebelum tersenyum pelan.

“Kau sangat menyayanginya?” tanya Minran pelan. Kini jemari Minran mulai bergerak mengusap perutnya.

Minseok mengangguk menjawab pertanyaan Minran. Tangannya lalu digunakan menyibak selimut yang menutup tubuh Minran hingga turun sebatas lutut.

“Tentu saja aku sangat menyayanginya. Dia buah hati kita, sayang,” balas Minseok yang kini kian merapat ke arah Minran. Ia lantas meletakkan kepalanya menyandar di pucuk kepala Minran.

Minran tersenyum. Sedikit membalik tubunya ke arah Minseok dan menggosokan wajahnya ke dada sang suami. Ia dapat mengendus aroma tubuh Minseok yang membuatnya nyaman.

Minseok tersenyum pelan. Tangannya lantas mengusap kembali perut Minran lembut. Ia menurunkan wajahnya dan mengarahkannya ke telinga Minran.

“Kau mau sarapan apa, huh?” tanya Minseok pelan. Kini jemari yang mengusap perut sang istri beralih memainkan anak rambut Minran.

Minran mendongak sejenak. Manik matanya menyisir langit-langit kamarnya. Pipi yeoja yang tengah mengandung tiga bulan itu mengembung pelan. Minseok hanya bisa menahan senyumnya menatap tingkah menggemaskan Minran.

“Kau kan hanya bisa memasak tanpa kompor Minseok. Maksudku kau tahu kan?”

Minseok mendengus mendengarnya. Kim Minseok memang bukan Do Kyungsoo yang bisa memasak. Seketika kepalanya berputar kejadian tempo hari yang membuatnya harus mengenakan apron dan berkutat di dapur hanya untuk telur dadar khusus bagi sang istri.

Minseok berdecak pelan. Namja itu segera menarik tubuhnya agar duduk cepat lalu melipat tangan di depan dadanya. Wajahnya dipalingkan dari Minran yang mengerjap menatapnya.

“Jangan bahas itu, Kim Minran. Aku memang tak terlalu bisa memasak. Tapi aku sudah kursus sedikit dengan Kyungsoo beberapa hari yang lalu. Ingat itu.”

Minran terkekeh pelan mendengarnya. Ia segera menegakkan tubuhnya dan menyandar pada bahu Minseok. Yeoja itu lantas menggosokan kepalanya di bahu Minseok pelan. Merajuk.

“Oh ayolah, Minseok-ie. Jangan marah, heum? Aku bercanda yeobo.”

Minseok melirik Minran sekilas. Rahangnya mengeras melihat Minran. Lantas Minseok hanya bisa menghela napas panjang melihatnya. Istrinya terlalu menggemaskan. Gumam Minseok.

“Oh baiklah! Berhenti merajuk dan katakan apa yang mau kau makan pagi ini.”

Minran mengulas senyum tiga jarinya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Minseok dan memeluk perut Minseok. “Sandwich tuna dengan banyak keju dan salad buah seperti biasanya,” ucapnya.

Minseok mengangguk pelan. Ia lantas segera menggeser tubuhnya dari Minran dan melepaskan pelukan sang istri di perutnya. Minseok lantas menepuk kepala Minran.

“Satu sandwich tuna dengan banyak keju, salad buah, dan satu gelas susu ibu hamil datang, nyonya,” ucapnya lalu melenggang ke dapur cepat setelah mengecup pucuk kepala sang istri.

.

.

Minseok mengeraskan rahangnya. Namja itu lantas menekan dengan brutal tombol di kalukulator seraya menatap berkas-berkas daftar pengeluaran toko bunganya. Ia masih kesal dengan kejadian beberapa jam yang lalu karena ulah sang istri.

Jimin melirik bosnya yang tengah dalam mood hancur itu seram. Ia lalu menyikut lengan Sehun yang sibuk merangkai berberapa buket bunga pesanan pelanggan.

“Sehun, kau tahu kenapa mood Minseok hyung seperti urgh kau tahu kan?” tanya Jimin berbisik pelan.

Sehun menoleh melirik Minseok sekilas. Wajah namja itu lalu kembali lekat menatap perkerjaanya dengan wajah datar.

“Masalah suami dan istri,” sahutnya cepat.

Jimin kembali menatap Minseok yang masih brutal menghitung pengeluaran bulan ini di toko bunganya. Ia hanya bisa bergidik menatapnya. Kim Minseok terlihat menyeramkan bagi Jimin sekarang.

Minseok mendongak. Mengalihkan tatapannya dari meja kerjanya dan menatap Jimin yang tengah menatapnya. Minseok mengeraskan rahangnya dan meletakkan kalkulator di mejanya kasar hingga menimbulkan bunyi yang gaduh.

“Hei Park Jimin! Kembali bekerja! Kau ingin gajimu kupotong, huh?”

Jimin tercekat mendengarnya. Segera berbalik ke beberapa deretan bunga dalam pot untuk menyiraminya. “N—nde hyung!” sahutnya cepat. Jimin tak ingin berurusan dengan Minseok yang mood-nya sedang buruk seperti saat ini.

Minseok mendengus melihatnya. Tatapan matanya lalu menyapu seluruh penjuru tokonya. Tokonya tengah sepi sekarang. Tak ada para pembeli dan hanya ada para karyawan yang sibuk merangkai buket pesanan atau pun mengurus tanaman. Minseok hanya bisa mendesah panjang setelahnya.

Istrinya sedikit keterluluan. Minseok kembali mendengus mengingatnya. Bagaimana mungkin Minseok dipaksa untuk minum susu hamil Minran? Hei! Kim Minseok sedang tak mengandung! Dan mengapa ia diharuskan meminum susu ibu hamil istrinya? Minseok mendengus kesal mengingat rasa susu ibu hamil Minran.

Aku tak suka rasa vanilla. Aku ingin rasa susu cokelat. Kau minum saja ya? Baby ingin kau minum susu itu daripada dibuang percuma.”

Minseok ingat jelas bagaimana raut wajah Minran yang menyodorkan susunya. Jangan lupakan senyum tiga jari andalan Minran dan sebuah suara merajuk yang membuat Minseok mengerang keras karenanya. Dan akhri yang paling tragis dari sarapan pagi itu adalah Minseok yang meneguk segelas susu ibu hamil karena keinginan Minran.

Minseok menutup mulutnya saat ingatan mengenai rasa susu ibu hamil itu melintas di kepalanya. Urgh. Perut Minseok terasa diaduk mengingat rasa susu itu.

Minseok mendesah panjang sesudahnya. Namja itu lantas menyandar pada punggung kursi dan melirik sudut meja kerjanya. Bingkai foto pernikahannya berada manis di sudut mejanya. Minseok tak dapat menahan diri untuk mengulas senyum kecil melihatnya.

Minseok mengingat jelas bagaimana pertemuannya dengan Minran dulu di kampus mereka. Hanya karena sebuah buku, mereka bertemu di perpustakaan kampus. Dan fakta yang masih tak dapat Minseok lupakan adalah hubungan mereka yang berkembang cepat hingga mereka dapat menikah seperti sekarang.

Minseok lantas menyangga wajahnya mengamati bingkai foto itu. Kepalanya lantas mendongak dan menerawang langit-langit ruangannya. Ia akan menjadi seorang ayah dalam waktu enam bulan lagi. Dan Minseok masih tak percaya akan fakta itu.

Minseok mengingat-ingat bagaimana gejala kehamilan Minran dulu. Mual dan mood swing. Minseok bahkan ingat saat Minran memukul kepalanya dengan lobak karena namja itu mengucapkan satu bualan di minggu kelima kehamilannya. Selain itu Minseok mencoba segala hal yang Minran idam-idamkan selama ia hamil.

Es krim. Coklat. Puding pisang. Spagethi. Sushi. Telur dadar.

Minseok membuka kelopak matanya setelah berhasil mengingat apa yang Minran inginkan selama sebulan belakangan. Minseok bahkan mengingat jelas bagaimana rasanya udara dingin menerpa tubuhnya saat harus berlari ke mini market di tengah malam untuk beberapa es krim dan coklat.

Minseok mendesah panjang. Kenapa jika istri tengah mengidam selalu suami yang menjadi korbannya? Gumamnya pelan lantas memejamkan matanya lekat.

Minseok membuka kelopak matanya saat sesuatu dalam kantong celananya bergetar. Ia segera merogoh ponselnya yang bergetar. Manik mata Minseok memutar malas mengetahui siapa yang memanggilnya.

Kim Minran

ID name itu dengan manis memenuhi layar ponsel Minseok. Minseok menarik napas panjang sebelum menjawab panggilan itu.

“Ada apa, yeobo?”

Minseok mengerutkan keningnya. Yang terdengar di ponselnya hanya suara tarikan napas berat yang tak teratur. Tak ada suara Minran sama sekali.

Yoboseyo?”

Minseok!”

Minseok melebarkan matanya mendengar suara Minran yang tercekat dengan tempo tak teratur. “Y—ya, Kim Minran! Kau kenapa, huh?” sahutnya cepat.

Peperutku sakit, Minseok. Aauw! Bisa kau pu—”

Tut.

Minseok memutuskan telepon itu sepihak. Namja itu lantas memasukan ponsel ke saku celananya cepat dan menarik jaket hitam yang disampirkan di kursi kerjanya. Langkah Minseok berjalan tergesa menuju keluar ruangannya.

Minseok tak tahu apa yang terjadi. Suara Minran yang tercekat dengan napas tak teratur dan rintihan itu sudah membuat namja itu cemas. Jangan katakan jika Minran dalam keadaan bahaya sekarang! Kepala Minseok dipenuhi berbagai prasangka yang tak menentu.

“Ya hyung! Kau mau kemana?” Sehun yang melihat bosnya berjalan tergesa itu berteriak.

Minseok melangkah kian cepat. Tanpa menoleh ke arah Sehun ia berucap, “Aku dalam keadaan genting! Kau jaga tokonya dengan benar!”

.

.

Ujung sepatu yang Minseok pakai sudah menghentak permukaan lantai di ruangan itu berulang kali. Ia lantas menoleh ke belakang. Menatap ruangan yang ditutupi kain putih yang menggantung. Di sana Minran dan calon anak mereka tengah diperiksa.

Minseok mengeraskan rahangnya. Tak tahu apa yang harus ia ucapkan sekarang. Saat tiba di rumah Minran sudah menjerit beberapa kali di ruang tamu. Tangan istri Minseok itu tak bisa lepas dari perutnya yang mulai berisi. Dan Minseok segera menggendong Minran ke mobil lalu membawanya ke dokter kandungan mereka.

Manik mata Minseok mengikuti pergerakan seorang namja yang terpaut beberapa tahun darinya berjalan keluar ruang pemeriksaan. Minseok menarik napas panjang. Mempersiapkan dirinya mendengar keadaan yang mungkin tak diharapkan.

“Tuan Kim Minseok?”

Hyung!”

Dokter kandungan yang bernama Park Yoochun itu hanya terkekeh geli menatap ekspresi wajah Minseok. Minseok mendengus. Kenapa namja yang berdiri di depannya masih bisa bercanda, huh? Pikir Minseok kesal.

“Kau khawatir dengan keadaan Minran?”

Hyung!”

“Oke, oke. Aku hanya bercanda mengerti,” sahut Yoochun lalu mengulas senyum kecil. Yoochun melepas kacamatanya dan memasukannya ke kantung jas putihnya. “Kim Minran baik-baik saja.”

“Y—ye?”

Kedua alis Minseok naik dan menyatu. Dahinya berkerut mendengarkan ucapan Yoochun yang sudah lama ia kenal itu. Lantas apa yang membuat Minran merintih kesakitan seperti itu? Kepala Minseok dipenuhi berbagai dugaan.

Yoochun mengulas senyumnya menatap Minseok. Ia lantas mengambil pena dan secarik kertas lalu mulai menulis beberapa resep. “Hanya sakit perut biasa karena terlalu banyak mengonsumsi makanan yang asam. Kau harus menjaga pola makan Minran, Minseok. Kau mengerti?” ucapnya tanpa menoleh ke arah Minseok.

Minseok membulatkan matanya. “Hanya sakit perut biasa?” Minseok nyaris memekik saat mengucapkannya.

Yoochun mendorong secarik kertas resep obat ke arah Minseok dengan senyum kecil, “Ya begitulah, hanya sakit perut biasa. Di masa pertama kehamilan mungkin semuanya serba cemas ya?”

Minseok menghela napas panjang. Ia menyandar pada punggung kursi dan menganggukan kepala pelan. “Ya, sangat mencemaskan bahkan,” sahut Minseok.

Yoochun tertawa mendengar ucapan Minseok. Sedangkan Minseok hanya menatap ke ruang pemeriksaan yang masih tertutup oleh kain putih yang menjadi tirai itu.

“Minran baik-baik saja kan, hyung? Dimana dia?” tanya Minseok.

Yoochun menghentikan tawanya lalu mengangguk pelan. “Dia baik-baik saja. Perawat sedang menyuntikan vitamin untuk kekebalan tubuhnya,” balas Yoochun yang membuat Minseok menarik napas panjang.

“Kurasa kau harus lebih perhatian ke Minran,” ucap Yoochun seraya menyangga wajahnya menatap Minseok. “Maksudku jangan terlalu banyak menggodanya dan selalu pantau keadaanya. Satu hal lagi yang penting, turuti semua hal yang dia inginkan.”

Minseok mendengus mendengar kalimat terakhir yang Yoochun ucapkan. Turuti semua yang dia inginkan. Termasuk minum susu ibu hamil, huh?

“Apa harus menuruti semuanya?”

Yoochun menganggukan kepalanya, “Pengertiannya di sini bukan dalam arti jika tak dituruti anak kalian akan menjadi anak yang selalu ngiler seperti kata orang dulu. Ini hanya untuk membuat perasaan Minran senang hingga ia tak stres yang dapat menganggu kesehatan anak kalian.”

Minseok hanya mengangguk pelan. Ia menyadar pada punggung kursi dan mendongak. Helaan napas panjangnya lalu terdengar.

“Aku sudah berusaha menuruti semua yang Minran inginkan. Termasuk tadi pagi aku harus meneguk susu ibu hamilnya,” balas Minseok.

Yoochun hanya bisa tertawa mendengarnya. Meneguk susu ibu hamil Minran? Yoochun tak dapat membayangkan wajah Minseok yang merupakan sepupunya itu. Namja itu menggelengkan kepalanya. Kesulitan membayangkan ekspresi wajah Minseok.

Minseok mendengus dan berdecak mendengar kekehan Yoochun. Namja itu segera berdiri dan menarik resep yang Yoochun tulis cepat.

“Jika tahu seperti ini aku tak akan mengatakannya padamu, hyung,” sungut Minseok kesal lalu berjalan menghampiri ruang pemeriksaan. Menengok keadaan Minran dan meninggalkan Yoochun yang masih tertawa keras.

.

.

Minseok menggeliat tak nyaman. Ada sesuatu yang seperti menusuk perutnya beberapa kali dan itu sangat menganggunya. Minseok lantas membuka kelopak matanya perlahan.

Manik mata Minseok mengerjap beberapa kali dan mendapati Minran tengah menusuk perutnya dengan jari telunjuknya. Ia segera menegakan tubuhnya dan mengusap matanya yang masih memberat.

“Kenapa tak tidur, huh? Ini sudah malam.” ucap Minseok pelan.

Minran mengerucutkan bibirnya. Tangannya kini sibuk menarik piyama biru tua yang Minseok pakai. Minseok hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah Minran. Minran menginginkan sesuatu. Gumamnya pelan.

Minseok menyibak selimut yang menutup tubuhnya lantas segera duduk. Ia lalu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Tangan Minseok lalu mengusap lembut kepala Minran.

Ucapan Yoochun berputar sepintas di kepalanya. Turuti semua yang dia inginkan. Minseok menghela napas panjang. Bersiap menuruti keinginan Minran yang mungkin akan membuatnya frustasi.

Cha, katakan padaku ada apa, heum?” tanya Minseok seraya menarik sudut bibirnya naik.

Minran mengigit bibir bawahnya. Manik matanya melirik Minseok takut-takut. Minseok menghela napas panjang mengerti arti tatapan Minran. Istrinya ragu untuk mengatakan apa yang ia inginkan malam ini.

Minseok tersenyum. Bibir Minseok lantas menyapu permukaan bibir Minran cepat. Setelahnya ia menepuk lembut kepala Minran dan menarik kepala istrinya merapat ke dadanya.

“Kau dan baby ingin apa, heum? Katakan saja aku akan menurutinya dengan senang hati,” ucap Minseok pelan.

Minran mendongak. Manik matanya mengerjap menatap Minseok beberapa kali. Masih ragu untuk mengatakannya. Minran merapatkan tubuhnya ke Minseok. Lantas memeluk perut Minseok.

“Kau janji akan menurutinya?” tanya Minran lirih.

Minseok menganggukan kepalanya pelan, “Aku janji akan menuruti keinginamu dan baby, sayang.”

Minran menghela napas panjang mendengarnya. Ia lantas memilin ujung piyama yang Minseok pakai dan kepalanya menunduk.

Minseok hanya bisa mengusap kepala sang istri saat melihat tingkah Minran. Lantas ia mengecup kening Minran lembut. Tangan kiri Minseok diarahkan untuk melingkar dengan manis di pinggang sang istri.

Ingatan Minseok berputar kembali saat mengingat bagaimana Minran menjerit kesakitan karena sakit perut tadi siang. Dan setelah mereka pulang dari tempat Yoochun, Minran tampak murung serta tak merengek apa pun. Minseok hanya bisa menghela napas panjang dan mengusap kepala Minran lagi. Apa pun yang diminta Minran, ia akan menurutinya. Tekad Minseok dalam batinnya.

“Minseok-ie, aku dan baby ingin melihatmu bertanding sepak bola dengan Luhan dan Sehun sekarang.”

“M—mwo? Ber—bertanding futsal?”

Minseok lantas menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Manik matanya mengamati alarm yang ada di nakas meja. Pukul 01.03. Ragu untuk memenuhi keinginan Minran. Lagi pula mungkin Sehun dan Luhan sudah tidur dengan pulasnya dan akan sangat menolak permintaan Minseok ini.

Minseok menundukan wajahnya menatap Minran. Manik mata Minran yang mengerjap penuh harap itu hanya bisa membuat Minseok mendesah panjang—frustasi. Mungkin harusnya Minseok tak bertekad akan menuruti apa pun keinginan Minran.

Fin

A/N: Well, jangan tengok ending yang urgh aneh gak ketulungan. Aku gak punya ide nentuin ending yang enaknya gimana. Jadi, ending-nya awkwkwardly banget. Heheh :’3 Dan terima kasih untuk kak Dian yang bolehin aku minjem namkornya. Makasih banget ya kak :3 Btw, minta feedback boleh dong. Makaseeeh :’33

Advertisements

3 thoughts on “Pregnant

  1. Nice FF thor. Endingnya juga bagus, gak aneh-aneh amat.
    Aku suka banget sama FF ini, akhirnya bisa nemuin FF yang cast utamanya minseok. Habis jarang sih . . . ㅋㅋㅋ
    Keep writing thor! selalu ditunggu FFnya. . .
    화이팅! 😉

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s