Forbidden Area [Come Back Home : 2/2]

lym

Title : Forbidden Area | Sub-title : Come Back Home | Cast : Kim Seok Jin BTS, Kim Jin Hee Fiestar | Genre : Full of fantasy, angst |Rating: PG 15 | Duration : Chaptered | Other cast : Nam Joon (Rapmon) BTS, Sojin Nasty Nasty, Seung Wan (Wendy) Red Velvet, Ji Hyun (Soyou) Sistar, Youngjae BAP, Young Ji KARA, Tae Hyung (V) BTS, Sojin Girl’s Day | Scripwriter/Author : Lee Yong Mi / Reshma | Summary : Satu merindukan yang lain untuk kembali, satu tak bisa kembali karena ia tak sama lagi seperti dulu. Credit : bekey@cafeposterart.wordpress.com

Author’s Note :

Kembali lagi dengan author imut disini >< /digampar/

Oke, akhirnya author kembali dengan lanjutan dari FF ‘Come Back Home😀 /applause/ Oh ya, sekedar peringatan … disini bakal muncul banyak cast ahaha /ketawa nista/

Tapi tenang aja, sebenarnya supporting cast disini ga terlalu penting (?) Tapi author jamin semua supporting cast bakal muncul di chapter lainnya, dimana ARTINYA semua chapter itu bakal saling berhubungan ^^/

Contoh : di ‘1004’ muncul cast Taehyung dan Youngji dimana mereka diutus untuk mengambil hantu dan manusia di bumi untuk dijadikan tumbal, bukan?

Lalu di ‘Come Back Home‘, ternyata Seokjin dan Jinhee bertemu dengan dua makhluk bersayap hitam dan diculik ke suatu tempat?

Lihat, ada hubungannya bukan?

Karena itu, disini author hanya bisa mem-support kalian agar bisa menemukan benang merah yang saling menghubungkan satu sama lain ^^

Dan ingat, jaminannya : semua cast yang muncul akan memiliki bagian tersendiri di chapter lain 🙂

Oke, selesai cuap-cuapnya. Happy readingreaders tercinta~

P.S : Disini ada dua Sojin yang keluar, yang pertama adalah Jo Sojin anggota dari ‘Nasty Nasty‘, yang kedua Park Sojin anggota ‘Girl’s Day‘. Jo Sojin adalah penyihir, sedangkan Park Sojin adalah manusia. Yang pertama muncul adalah Sojin penyihir, sedang yang kedua adalah Sojin manusia. Thank youdan maaf membuat bingung ><

-FA-

Sang laki-laki mengusap kulitnya yang menyentuh udara dingin. Saat itu malam dan seperti biasa, temperatur suhu menurun begitu saja. Tidak seperti di dunia mereka, tempat dimana mereka disekap itu jauh lebih dingin dibandingkan suhu terendah saat malam. Beberapa kali ia harus meniup udara hangat pada kedua tangannya agar tak membeku.

“Kau tak apa-apa?” tanya perempuan hantu itu, sedikit khawatir melihat raut wajah laki-laki tersebut berubah pucat. Sang laki-laki hanya mengangguk, ia tak bisa mengeluarkan suara karena dingin yang mulai menjalar ke dalam tubuhya, “Wajahmu tampak pucat,” tambah sang perempuan khawatir. Ia melihat sekeliling, mencari apakah ada sesuatu yang dapat membuat mereka—eum, lebih tepatnya laki-laki itu karena hantu tidak bisa merasakan apa pun—sampai matanya terpaku pada sesosok laki-laki bertopi yang sedang mengayunkan tangannya di udara.

Bersamaan dengan itu, tampak percikan-percikan api muncul dari tangannya. Kedua matanya membulat. Tanpa ragu ia melesat ke arah laki-laki tersebut.

“Kau bisa mengeluarkan api dari tanganmu?!” tanyanya cepat, membuat sang laki-laki terlonjak ke belakang. Ia menatap perempuan hantu itu aneh, “Perkenalkan, namaku Jin Hee! Sekarang, temanku—uhm, sebenarnya ia tak bisa dianggap sebagai teman—sedang kedinginan disana. Apa kau bisa menciptakan api disana? Untuk menghangatkannya?”

Laki-laki itu terdiam sesaat, “Uhm … oke, senang berkenalan denganmu, Jin Hee-ssi. Namaku Nam Joon, dan seperti yang kau lihat aku bisa membuat api. Tapi semua itu percuma kalau tak ada sesuatu yang bisa dibakar.”

“Oh,” Jin Hee baru menyadari mengapa laki-laki itu hanya membuat percikan apinya saja, “Apa kau tak bisa menciptakannya begitu saja?”

“Hanya bisa saat aku bersama temanku,” jawabnya seraya melihat sekeliling, “Sepertinya hanya aku yang berhasil diculik disini—oh, tunggu. Sepertinya itu temanku—Sojin noona!”

Jin Hee melihat seorang perempuan yang berdiri tak jauh dari mereka menoleh. Matanya terpaku beberapa saat pada Jordan, sebelum ia berlari mendekat dengan senyum yang mengembang di wajahnya, “Nam Joon-ah! Syukurlah bukan hanya aku yang terjebak disini!”

Nam Joon tertawa, “Kau tidak berhasil kabur dari mereka?”

“Tidak,” Sojin menggeleng, “Tapi yang lainnya berhasil melarikan diri. Setidaknya hanya kita berdua yang akan mati.”

Jin Hee menyela, “Mati?”

“Tidak usah didengarkan,” ucap Nam Joon seraya beranjak dari duduknya, “Kau butuh api, bukan? Aku dan Sojin noona bisa membuatnya.”

“Benarkah?!” tanya Jin Hee dengan mata yang berbinar. Nam Joon mengangguk. Dengan cepat Jin Hee menuntun mereka menemui laki-laki yang kini hampir membeku di tempatnya, “Astaga! Kau tidak apa-apa?! Tenang, aku membawakan api untukmu! Nam Joon-ssi, Sojin-ssi, kumohon!”

Sojin mengangguk, begitu pula dengan Nam Joon. Mereka mengarahkan kedua tangan mereka ke arah yang kosong dari makhluk apa pun, kemudian secara bersamaan mereka mengucapkan sebuah mantra. Jin Hee memperhatikan bagaimana lidah-lidah api menjalar keluar dari tangan mereka, terarahkan pada tempat kosong tersebut dan mulai berbagi cahaya untuk menutupi kegelapan.

“Hei! Disana ada yang menyalakan api!”

Lalu beberapa makhluk pun mulai menghampiri mereka, menghangatkan tubuh dari suhu yang tak masuk akal. Laki-laki itu sendiri segera beranjak dan mendekatkan dirinya pada api yang terbentuk.

“Kau merasa baikan?” tanya Jin Hee, menyadari bahwa raut wajah sang laki-laki kembali normal.

“Ya. Terima kasih,” jawab laki-laki itu, merasa dingin yang menyerangnya seakan lenyap begitu saja, “Maaf jika aku merepotkanmu.”

“Ti—tidak! Kau sama sekali tidak merepotkanku!” sanggah Jin Hee cepat. Ia menyembunyikan wajahnya di balik tangan—meski hal tersebut percuma karena ia bertubuh transparan sekarang, “Oh, ya. Kau belum mengatakan siapa namamu!” ucapnya seraya melayang mendekati sang laki-laki, menatapnya dengan tatapan penuh keingin tahuan.

“Namaku?” ulang laki-laki tersebut, yang segera disambut oleh anggukan dari Jin Hee, “Eum, oke. Namaku Kim Seok Jin, panggil saja Seok Jin. Namamu Jin Hee, bukan? Aku mendengarnya tadi.”

“Seok Jin?” ucap Jin Hee mengulang namanya. Seok Jin sendiri mengangguk, “Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku merasa familiar dengan namamu—“

Tiba-tiba saja, Jin Hee terdiam. Seok Jin mengernyit, merasa aneh dengan bungkamnya perempuan itu.

“Jin Hee-ssi, kau kenapa?”

Tidak ada jawaban. Perempuan itu hanya menatap kosong pada lantai di bawahnya, merasa shockakan sesuatu yang menghantam kepalanya begitu saja.

Ia melihat kilasan suatu bayangan. Bukan, bukan hanya satu melainkan kilasan dari banyak bayangan. Seakan ada beberapa adegan yang berputar di dalam kepalanya, memaksa ia untuk mengingat sesuatu saat itu juga.

Seok Jin… Seok Jin… dan Seok Jin….

Tidakkah ia pernah mengenalnya?

-F.A-

Jin Hee memperlambat langkahnya. Ia segera bersembunyi di balik sebuah pohon ketika dirasakannya orang yang ia ikuti sedari tadi akan menoleh ke belakang. Sangat tidak lucu jika orang itu berhasil menemukannya yang telah menguntit selama satu jam!

Kemungkinan buruknya juga, ia bisa dilaporkan ke polisi.

“Seung Wan! Seung Wan, dimana kau?” panggil orang itu pelan, berharap tak ada yang mendengarnya—meski harapannya percuma karena Jin Hee dapat mendengarnya dari jarak sejauh tujuh meter—dan secara tiba-tiba, sesosok cahaya muncul dari dalam sebuah bunga.

“Seok Jin oppa!” gumam sosok cahaya—maksudnya, sosok peri kecil bercahaya—tersebut riang. Ia memperbesar ukuran dirinya, dengan sayap yang kini tak terlihat di punggungnya, lalu ia memeluk Seok Jin erat, “Kau darimana saja? Sudah lebih dari satu minggu kau tidak mengunjungiku! Apa kekasihmu merenggut semua waktumu untukku, huh?” tanyanya dengan bibir yang maju karena kesal. Seok Jin tertawa. Ia mengacak-acak rambut Seung Wan seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya—sebuah gelang perak.

“Bukan kekasihku yang merenggutnya, melainkan benda ini,” ucap Seok Jin di sela tawanya. Ia meraih lengan Seung Wan, memasangkan gelang tersebut di pergelangan tangannya. Seung Wan ternganga.

“I—ini indah sekali, oppa….” gumam Seung Wan dengan mata yang tak lepas dari gelang tersebut.

“Aku menghabiskan separuh gajiku untuk membelikanmu itu,” balas Seok Jin yang segera mendapat tatapan dari Seung Wan.

“Kau tak seharusnya membelikanku benda semahal ini,” ucap Seung Wan, merasa sedikit tak enak. Seok Jin menggeleng.

“Tidak. Kau selalu membantu hubunganku dengan Ji Hyun noona, jadi tak ada salahnya aku membalasmu dengan ini. Kau harus selalu menyimpannya, oke?”

Seung Wan membalas dengan senyum yang sangat lebar. Ia mengangguk antusias, kemudian memeluk Seok Jin dengan erat. Mereka berdua tak menyadari bahwa Jin Hee merasa terbakar melihat kedekatan mereka-yang-hanya-mengaku-sebagai-sahabat-itu.

“Aku menyukai laki-laki yang salah,” gumam Jin Hee seraya beranjak dari tempatnya bersembunyi. Ia bergegas melarikan diri dari sana sebelum ada yang menyadari air matanya jatuh.

.

Sudah satu bulan berlalu. Jin Hee tak pernah lagi mengikuti laki-laki bernama Seok Jin tersebut, apalagi melihat perempuan bernama Seung Wan. Kini, ia memutuskan untuk mengunjungi makam Young Jae. Akhirnya ia mengerti juga bagaimana perasaan laki-laki itu. Sangat melelahkan untuk mengejar-ngejar seseorang yang takkan pernah mencintaimu kembali.

Baru saja Jin Hee menginjakkan kakinya di depan pemakaman umum itu, ia melihat sesosok perempuan yang tampak khusyuk dalam berdoa. Bukan, bukan itu yang menarik perhatiannya, melainkan … perempuan itu berdoa di samping makam Young Jae?

“Maaf,” ucap Jin Hee yang menghampiri perempuan itu, “Apa yang sedang kau lakukan disi—“

Kedua matanya membulat ketika sang perempuan menoleh, menampilkan wajah yang sangat ia kenal.

“Seung … Wan?”

Perempuan itu menatapnya sinis.

“Hai, Jin Hee.”

.

Kedua perempuan tersebut memilih untuk berbicara di taman di sebelah pemakaman tersebut. Tidak ada yang membuka mulut di antara mereka. Keduanya terhanyut dalam pemikirannya masing-masing.

Pemikiran yang sama, mengenai satu orang saja.

“Jin Hee-ssi, aku membencimu.”

Membutuhkan waktu beberapa detik bagi Anne untuk melihat perempuan itu dengan tatapan ‘kita-baru-bertemu-dan-kau-sudah-membenciku?’.

“Aku yang pertama kali bertemu dengan Young Jae,” ucapnya yang mengundang banyak pertanyaan di dalam pikiran Jin Hee (seperti ‘Dimana kalian pernah bertemu?’ ‘Apa hubunganmu dengannya?’), “Tapi kau dan perempuan itu merebutnya dariku. Setelah merebutnya, kalian justru menyakiti hatinya!”

“Oke, tunggu sebentar, Seung Wan-ssi,” ucap Jin Hee, kini merasa sedikit kesal karena jelas sekali bahwa Jin Hee menunjukkan rasa bencinya, “Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau maksud. Oke, sebenarnya aku mengerti kalau kau yang lebih dahulu bertemu dengan Young Jae—meski aku tau tahu bagaimana cara kalian bertemu—tapi kau menuduhku merebutnya? Astaga, demi apa pun aku sama sekali tak menginginkan laki-laki itu!”

“Kau memang tak menginginkannya, tapi ia jelas menginginkanmu!” balas Seung Wan ketus, “Padahal aku selama ini berada di dekatnya, tapi ia sama sekali tidak melirikku! Ia hanya menganggapku sahabatnya dan—“

“Bukankah kau bersahabat dengan Seok Jin?”

Pertanyaan spontan dari Jin Hee itu membuat Seung Wan terdiam.

“Darimana kau tahu bahwa aku bersahabat dengan Seok Jin oppa?” tanya Seung Wan yang dibalas angkatan bahu oleh Jin Hee.

“Kalau kau cemburu karena Young Jae menyukaiku, maka aku cemburu karena kedekatanmu dengan Seok Jin!” balasnya keras, membuat Seung Wan terbelalak.

“Kau menyukai Seok Jin oppa? Yang benar saja! Ia telah memiliki kekasih—“

“Aku sudah mengetahui hal itu,” ucap Jin Hee cepat, tak ingin diingatkan perihal kekasih Seok Jin, “tapi dibandingkan dengan kekasihnya sendiri, kau jauh lebih dekat dengannya. Karena itu … aku merasa cemburu padamu.”

Seung Wan menggeleng pelan, “Astaga! Jadi kau cemburu padaku dan aku cemburu padamu, sedangkan kita sendiri sama sekali tidak menyukai laki-laki yang bersama dengan kita?”

Keduanya mengangguk seraya tertawa kecil, merasa bodoh dengan apa yang mereka rasakan satu sama lain.

.

Jin Hee merasa heran melihat Seok Jin yang berlari begitu saja melewatinya. Sepengetahuannya, Seok Jin bukanlah laki-laki yang secara tak sopan berlari begitu saja tanpa mengucapkan permisi terlebih dahulu. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya?

“Seung Wan—Seung Wan, kau dimana?!”

Laki-laki itu berteriak, tidak mempedulikan tatapan aneh dari orang-orang yang mendengarnya. Ia hanya terus melihat sekeliling dengan mata penuh rasa takut, membuat Jin Hee menyadari bahwa memang ada sesuatu yang salah.

Oppa?”

Bagus, sekarang Seung Wan telah muncul dari balik suatu pohon. Tentu saja perempuan itu tidak akan berubah dari wujud perinya di depan banyak orang.

“Seung Wan!” Seok Jin menghela nafas. Ia segera berlari ke arah sang perempuan dan memeluknya erat, “Kumohon, kau jangan pergi. Cukup ia saja yang pergi, jangan kau….”

“Apa maksudmu?” tanya Seung Wan bingung. Seok Jin melepas pelukannya dan memegang kedua pundaknya erat.

“Ji … Ji Hyun noona telah meninggal…. Di—dia meninggalkanku sendiri….”

Dan laki-laki itu jatuh ke atas tanah, menangis keras akibat kehilangan yang menyerangnya begitu saja. Seung Wan berniat membantu laki-laki itu berdiri, namun pandangannya terpaku pada sosok Jin Hee yang berdiri tak jauh dari tempat mereka dengan tangan yang menutup mulutnya.

Perempuan itu terlihat terkejut mendengar berita yang ia dengar.

“Jin—Jin Hee­-ssi! Tunggu!”

Jin Hee menulikan telinganya. Ia berbalik dan berlari dalam sekejap, meninggalkan Seung Wan yang tak tahu harus memilih antara Seok Jin atau dirinya.

Ooppa—“ Seung Wan menutup mulutnya, berhenti melanjutkan kalimatnya karena tangisan Seok Jin semakin keras. Perempuan itu menghela nafas, sebelum ia membantu Seok Jin berdiri.

‘Jin Hee bisa menunggu,’ batinnya seraya menuntun Seok Jin untuk duduk di bangku terdekat.

.

“Jin Hee-ssi, kau harus mengerti.”

Jin Hee tertawa sinis di sela air matanya yang sedari tadi tumpah, “Bagaimana aku bisa mengerti?! Sekarang Seok Jin berubah drastis, Seung Wan-ssi. Aku tidak melihat senyum yang biasa menghiasi wajahnya. Seok Jin sudah mati!”

“Ia tidak mati!” raung Seung Wan, menyadari bahwa Jin Hee telah berlebihan, “Itu wajar ketika manusia kehilangan seseorang yang ia cintai dan—“

“Lalu bagaimana denganku?!” tanya Jin Hee seraya menunjuk dirinya sendiri, “Aku hampir gila karenanya selama berbulan-bulan! Aku tak pernah menunjukkan diri di hadapannya! Aku mencintainya dalam diam, Seung Wan-ssi! Lantas apa yang harus kulakukan sekarang?!”

Seung Wan terbungkam. Tentu ia tak tahu bagaimana perasaan dari seorang manusia seperti Jin Hee, karena ia hanyalah seorang peri. Ketika Young Jae meninggal, tak banyak yang bisa ia lakukan selain memaksakan senyumnya pada orang lain.

“Jawab aku!!” raung Jin Hee dengan suara seraknya. Ia berlari meninggalkan Seung Wan yang membeku di tempatnya. Perempuan itu hanya dapat menatap punggung Jin Hee yang berlari menyeberangi jalan …

..

.

Lalu tubuh Jin Hee terlempar ke udara akibat dorongan dari mobil dengan kecepatan yang tinggi.

-FA-

Jin Hee membuka kedua matanya. Ia merasa bahwa dirinya seakan tertidur untuk waktu yang lama. Apa saja yang telah ia lewatkan?

“Jin Hee-ssi, kau sudah sadar?”

Suara lembut itu membuat ia menoleh. Tatapannya bertabrakan dengan tatapan khawatir dari seorang laki-laki.

Seok Jin.

“Kurasa … aku baik-baik saja….” jawab Jin Hee seraya beranjak, membuat tubuhnya melayang lagi, “Berapa lama aku tertidur?”

“Lebih dari dua hari?” ucap Seok Jin yang dibalas anggukan olehnya, “Aku masih heran, mengapa hantu bisa tidur?”

“Tanyakan pada yang menciptakanku,” balas Jin Hee ketus. Baru saja Seok Jin membuka mulutnya, tiba-tiba saja pintu ruangan yang selama ini tertutup, membuka dengan keras. Dua makhluk bersayap hitam yang menangkap mereka semua berdiri di depannya dengan raut wajah … sedih?

“Ke—keberadaan kalian …” ucap salah satu di antaranya dengan suara yang serak. Apa dia baru selesai menangis? “… tidak dibutuhkan lagi disini. Pergilah.”

“Apa?” gumam Seok Jin dan Jin Hee bersamaan.

“Young Ji noona, sudahlah,” hibur yang lainnya seraya mengusap lembut rambut sang perempuan. Ia menarik perempuan itu untuk bersandar di bahunya, “Kalian sudah bebas! Dalam waktu sepuluh detik, aku akan mengembalikan kalian di tempat dimana kalian bertemu dengan kami.”

“Kita akan pulang?” tanya Seok Jin tak percaya. Jin Hee mengangguk cepat, merasa bahagia mereka akan terlepas dari tempat itu, namun ia juga merasa sedih.

Sedih akan berpisah dengan Seok Jin.

Apa ia harus mengungkapkannya sekarang?

“Sepuluh….”

“Seok Jin-ssi, kurasa aku harus mengatakan hal ini padamu….”

“Sembilan….”

“Apa?”

“Delapan….”

“Yah, aku mengatakannya karena aku tahu kita tak akan bertemu lagi.”

“Tujuh.”

“Ya sudah, katakan saja!”

“Enam.”

“Aku pernah mengenalmu dulu.”

“Lima.”

“Apa?!”

“Empat.”

“Aku pernah mengenalmu, sangat mengenalmu.”

“Tiga.”

“Bagaimana bisa? Aku belum pernah bertemu denganmu!”

“Dua.”

“Iya, tapi aku yang bertemu denganmu.”

“Satu.”

“Begitu. Lalu apa yang ingin kau katakan?!”

“Nol.”

Jin Hee tersenyum, bersamaan dengan setitik air matanya yang menetes.

“Aku mencintaimu, Seok Jin-ah….”

Lalu mereka semua menghilang—kembali ke tempat mereka masing-masing.

Oh, tidak.

Jin Hee tidak kembali ke tempatnya. Ia justru pergi menuju tempat yang lebih baik.

Apa kalian semua tahu bahwa ‘mereka’ yang masih bergentayangan di bumi karena ada sesuatu yang belum selesai mereka kerjakan?

Itulah yang membuat Jin Hee bertahan di bumi, karena ia belum menyatakan cintanya pada Seok Jin.

Dan sekarang, ia telah menyatakannya.

Ia telah pergi.

-FA-

“Ugh!”

Seok Jin meringis karena tubuhnya jatuh begitu saja di atas tanah. Ia membuka matanya, menyadari bahwa dirinya kini telah berada di depan rumahnya sendiri dalam kondisi utuh.

Seingatnya, terakhir kali iblis perempuan itu menghancurkan rumahnya.

“Ji—Ji Hyun noona….” gumamnya seraya beranjak, berjalan memasuki rumah tersebut dengan tergesa-gesa. Ia memeriksa setiap sudut yang ada hanya untuk menemukan bahwa rumahnya tetap kosong.

Berarti semua yang terjadi di dunia nyata tak terulang kembali.

Kekasihnya tetap telah pergi meninggalkannya.

Lantas bagaimana dengan Jin Hee?

“Ya, Jin Hee!” laki-laki itu melompat keluar pintu dan berlari tak tentu arah, entah ia akan pergi kemana untuk mencari keberadaan Jin Hee. Orang-orang telah melihatnya dengan aneh, karena ia pergi tanpa mengenakan alas kaki, dengan baju yang terkena cipratan darah bekas orang yang ia bunuh dulu. Namun ia tak mengacuhkannya.

Ia hanya harus menemukan Jin Hee.

“Jin Hee!!” teriaknya memanggil perempuan itu dengan harapan sang perempuan akan muncul begitu saja di hadapannya, “Jin Hee, kau dengar aku?! Jin Hee, jawablah!!”

Sama sekali tak ada respon. Seok Jin terus berlari, kali ini tanpa sadar ia berlari ke arah rumah sakit terdekat.

Ia tak tahu apa yang membuat ia berlari masuk kesana, menelusuri lorong-lorong rumah sakit dan menaiki tangga, tertuju pada ruang VIP yang berada di lantai lima dengan nomor tujuh tertulis di pintunya.

Tangannya membuka pintu tersebut dan ia menemukan Seung Wan yang menangis terisak.

“Seung—Seung Wan?”

Seung Wan terlonjak kaget. Ia menoleh dan mendapati Seok Jin yang terengah di depan pintu, menatapnya bingung. Tanpa ragu perempuan itu berlari ke arahnya dan memeluk laki-laki itu erat.

Oppa! Me—mengapa kau selambat ini?!”

Seok Jin masih tak mengerti akan apa yang Seung Wan maksud.

“Ia telah pergi, oppa….” bisik Seung Wan di sela isakannya, “Ia telah pergi….”

Lalu pandangannya teralihkan pada ranjang yang terisikan oleh tubuh seseorang, namun kain putih telah menutupi tubuh tersebut dari pandangannya.

“Ia … seseorang yang sangat mencintaimu….” ujar Seung Wan seraya melepas pelukannya, “Maafkan aku, aku tak bisa menyelamatkannya…. Maafkan aku….”

Bahkan Seok Jin tak lagi mendengar permintaan maaf dari Seung Wan. Pandangannya telah sepenuhnya terpaku pada sosok tubuh di balik kain putih tersebut. Ia menggeleng dengan cepat.

‘Tidak mungkin, bukan?’

Perlahan, kakinya beranjak mendekati ranjang tersebut. Seung Wan hanya dapat melihat seraya menutup mulutnya untuk menahan isakan yang keluar, sedangkan Seok Jin semakin mendekati ranjang dengan tubuh yang gemetar.

‘Pikiranku pasti salah…. Ini tidak mungkin dia!’

Tangannya bergerak, membuka kain putih tersebut secara pelan.

Sangat pelan.

Lalu tubuhnya membeku. Butuh waktu sepuluh menit baginya untuk mengeluarkan suara.

“Katakan ini tidak benar, Seung Wan.”

Seung Wan mengalihkan pandangannya, tak bisa menahan air mata yang menginginkan untuk tumpah.

“Kubilang, katakan ini TIDAK BENAR, SEUNG WAN!” raung Seok Jin keras. Ia menyibakkan kain putih itu kasar, membuat sang kain terjatuh ke atas lantai dan menampilkan tubuh Jin Hee yang telah mendingin.

“Be—beberapa hari yang lalu … i—ia tertabrak mobil….” Seung Wan bersuara, bersamaan dengan isakan kecil dari bibirnya, “Ia … seseorang yang sangat mencintaimu, oppa…. Kau tak tahu seberapa besar cintanya padamu.”

Laki-laki itu tertawa paksa.

“Aku sangat ingin mengetahuinya.”

-FA-

Dua tahun kemudian….

“Masih adakah yang harus kupindahkan?” tanya Seok Jin pada seorang perempuan di hadapannya. Perempuan itu menggeleng.

“Tidak ada. Kau bisa melihat sendiri kalau tidak ada lagi barang di dalam mobil, bukan?”

Seok Jin tertawa kecil, “Ya, kau benar.”

Mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah yang baru saja mereka beli. Beberapa barang berat—seperti sofa, meja, lemari, dan lainnya—telah diatur dengan rapi, begitu pula dengan tempat tidur mereka. Sekarang, mereka dapat bersantai sejenak sebelum kembali larut dalam pekerjaannya masing-masing.

“Kau mau kubuatkan kopi?” tanya sang perempuan seraya berjalan ke arah dapur.

“Ya, kalau bisa jangan terlalu pahit.”

Kehidupan barunya telah dimulai. Seok Jin sekarang berbeda drastis dengan Seok Jin yang dulu, karena ia tak lagi menunjukkan kelemahannya. Ia telah berhenti meratapi kepergian dari mereka yang mencintainya, begitu pula dengan Seung Wan.

Seung Wan tak bisa lagi menemaninya karena ia ingin terus menemani Young Jae di makamnya, berdoa untuk laki-laki tersebut.

“Ini kopinya.”

Ia tersenyum menatap secangkir kopi yang telah terletak di atas meja. Matanya menatap lembut pada sang istri yang baru ia nikahi seminggu yang lalu.

“Terima kasih, Sojin noona,” ucapnya tulus. Sang istri duduk di sebelahnya, mengikuti ia yang sedang membaca koran sembari menyesap kopi buatannya.

“Maaf jika kopinya tak enak,” ujar Sojin khawatir, karena ia cukup teledor dalam membuat sesuatu. Seok Jin segera menggeleng.

“Ini kopi terenak yang pernah kurasakan,” balasnya yang membuat wajah Sojin bersemu merah, “Aku menyukai semua yang noona buat untukku. Sekalipun itu racun.”

“Jangan bercanda,” ucap Sojin seraya memukul pundaknya pelan, meski dalam hati ia senang akan ucapan Seok Jin yang terdengar tulus itu.

Seok Jin memang ingin berubah.

Ia tak ingin lagi menyakiti hati seseorang yang mencintainya, sekalipun ia tak bisa membalas cinta dari orang tersebut dengan baik.

“Oh ya,” ucap Sojin, tampak lebih antusias dari sebelumnya, “Apa kau ingin pergi ke bioskop? Ada film terbaru yang keluar dan aku sangat ingin menontonnya. Bolehkah, Seok Jin-ah?”

Seok Jin mengangguk, “Tentu saja boleh. Kapan?”

“Besok malam!” jawab Sojin ceria, “Aku akan membeli tiketnya nanti. Kau ingin duduk dimana? Di depan, tengah, atau di belakang?”

“Belakang saja,” ucap Seok Jin seraya meletakkan korannya di atas meja, “Tapi film apa yang akan kita tonton?”

“Kau tahu mengenai novel tentang iblis itu, bukan? Filmnya telah selesai diproduksi dan akan segera tayang! Aku tak sabar ingin menontonnya!”

… Iblis?

Seok Jin kembali tertawa.

Kenangannya berputar lagi.

-FA-

Dua tahun yang lalu….

“Tae Hyung-ah, apa kau yang menuntun Seok Jin untuk menemukan Jin Hee?”

Tae Hyung tersenyum, “Ya.”

“Mengapa?” tanya Young Ji bingung. Mereka memang iblis yang murah senyum, namun tak pernah sekali pun mereka menolong makhluk lain. Lalu apa yang membuat Tae Hyung melakukannya?

“Cukup Jung Kook saja yang mengalami kejadian seperti itu, noona,” jawab Tae Hyung seraya mendekap kakaknya itu, “Cukup Jung Kook saja.”

.

Terkadang, kau hanya perlu belajar untuk mencintai seseorang yang mencintaimu.

Sebelum penyesalan datang menemuimu tanpa memberikan peringatan.

 

Episode Two | Part 2 : Completed

Coming soon : Episode Three [Erase]

20-12-2014

22:32

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s