Forbidden Area [Come Back Home : 1/2]

lym

Title : Forbidden Area | Sub-title : Come Back Home | Cast : Kim Seok Jin (Jin) BTS, Kim Jin Hee (Jei) Fiestar | Genre : Full of fantasy, angst |Rating: PG 15 | Duration : Chaptered | Other cast : Tae Hyung (V) BTS, Young Ji KARA, Seung Wan (Wendy) Red Velvet, Young Jae BAP | Scripwriter/Author : Lee Yong Mi / Reshma | Summary : Satu merindukan yang lain untuk kembali, satu tak bisa kembali karena ia tak sama lagi seperti dulu. Credit : bekey@cafeposterart.wordpress.com

Author’s Note :

AKHIRNYA SELESAI :” Maaf karena author terlalu lama meninggalkan readers :” Selamat membaca FF tak karuan ini :”

Warning : SIDERS. Menyingkir dari sini sekarang juga.

-FA-

Semua orang berkata bahwa cinta pada seseorang yang telah pergi takkan membuatmu bersatu dengannya.

Hal itu memang benar adanya.

-FA-

Malam itu tidak ada bedanya dari malam-malam yang dulu. Oh, tunggu. Ada yang berbeda dari malam kali ini. Terlihat seorang laki-laki yang melangkahkan kakinya dengan malas ke dalam sebuah gang gelap. Ia sedang tidak berada dalam mood yang baik akibat kejadian beberapa hari yang lalu, sehingga siapa pun yang mengganggunya sekarang …

“Ah, ada seorang bocah disini.”

Lagi, tiga orang pemabuk bodoh itu menghalangi jalannya. Ini adalah hal yang biasa terjadi setiap malam saat ia melangkah pulang melalui gang itu, namun khusus untuk malam ini, ia sangat tidak ingindiganggu.

Emosinya memuncak ketika salah satu dari mereka menyentuh pundaknya.

“Singkirkan tanganmu dariku.”

Laki-laki itu tampak tak menyukai saat pundaknya disentuh dengan kasar. Ia menyentakkan bahunya, membuat tangan yang menyentuhnya itu terlempar ke belakang.

“Ck, beraninya kau!” ucap orang setengah mabuk di hadapannya seraya melempar botol alkoholnya ke sembarang arah. Ia menyerang sang laki-laki dengan sebuah kepalan keras, namun laki-laki itu berhasil menghindarinya.

“Sudah berapa kali aku bilang kalau aku tidak suka saat kalian berada lima meter dariku, dasar manusia tak tahu diuntung!”

Ia menarik sesuatu dari sakunya—sebuah pistol.

“Matilah kalian semua!”

Tiga buah tembakan terdengar meraung di langit malam. Lalu suara benda yang jatuh pun terdengar nyaring.

Ia sangat tidak menyukainya.

“Dasar berisik.”

Kakinya melangkah meninggalkan tiga tubuh tak bernyawa itu, yang kini berlumuran dasar segar dari masing-masing lubang di kepalanya.

-FA-

Di sisi lain, seorang perempuan berlari menembus gelapnya malam. Ia tidak menghiraukan apakah ia akan menabrak orang-orang di dekatnya atau tidak, karena ia tidak akan bisa menabrak mereka meskipun ia mau.

Ia tidak memiliki raga lagi. Ia hanyalah jiwa yang lepas.

“Tidak….” gumam perempuan itu seraya menatap kedua tangannya yang kini transparan. Bukan hanya tangan, melainkan tubuhnya pun kini menjadi transparan. Ia terlonjak ketika seseorang berjalan melewatinya begitu saja, benar-benar tak menyadari akan keberadaannya disitu, “Aku tidak mau…. Hiks, tidaaakk!!!”

Ia lagi-lagi berlari, merasa tubuhnya sangat ringan karena ia sama sekali tak menginjak tanah. Keinginan untuk menangis menyeruak dalam dirinya, namun matanya tak bisa mengeluarkan air mata lagi.

“Se—seseorang! Kumohon tolong aku,” ia berujar di tengah kesendiriannya, “Aku tidak mau seperti ini! A—aku tidak mau sendiri…. Tidak!!”

Tiba-tiba saja, sebuah cahaya putih menyilaukan matanya. Ia harus memejamkan matanya agar tak terbutakan oleh cahaya itu, lalu ketika ia membuka mata, ia melihat sesosok perempuan bersayap putih di hadapannya.

Sesosok perempuan bersayap putih. Oh, tentu saja hal itu adalah hal yang wajar. Melihat seseorang yang memiliki sayap adalah hal paling wajar di muka bumi ini, haha….

Tidak. Perempuan itu hampir saja pingsan setelah melihat sosok bersayap itu.

“Oh, maaf aku mengejutkanmu,” ucap sang sosok bersayap, merasa bersalah dengan kemunculannya yang tiba-tiba, “Tapi aku harus menjemputmu sekarang juga. Kau tidak perlu berada di dunia ini lagi dengan wujud tak nyatamu.”

“Men—menjemput?” tanya perempuan itu bingung, “Lalu kemana kau akan membawaku?”

“Ke tempat yang jauh lebih baik daripada tempat ini,” jawab sosok itu seraya tersenyum, “Jadi, apakah kau akan menerima—“

Sebuah petir melesat tepat ke arah mereka, membuat keduanya terkejut dan melompat ke belakang secara spontan. Sosok bersayap itu segera menoleh ke atas, dan ia terbelalak melihat dua orang melayang turun dengan sayap berwarna hitam pekat milik mereka.

“Oh, jadi sedang ada wingstale yang menjemputnya?” tanya salah satu dari dua sosok bersayap hitam itu—yang baru mereka sadari sebagai seorang perempuan, “Tae Hyung, apa menurutmu kita bawa saja roh yang satu ini?”

Noona tidak perlu menanyakan pendapatku,” balas sosok yang lain—kali ini laki-laki—dan perempuan bersayap hitam itu menjilat bibirnya.

“Pergi dari sini, kau wingstale kecil.”

Sang wingstale tampak sangat ketakutan, sehingga tanpa menunggu lagi ia mengembangkan sayapnya dan melayang pergi meninggalkan tiga orang yang kini saling bertatapan itu.

“Oh, kucing kecil yang malang,” ucap perempuan bersayap hitam itu, menatap pada sang arwah yang terdiam di tempatnya berdiri—atau lebih tepatnya, melayang, “Lihat, tidak ada yang bisa menyelamatkanmu sekarang. Kurasa kau akan sangat senang untuk menginap sejenak di tempat kami.”

“A—apa maksudmu?” tanya sang perempuan, semakin bingung akan apa yang terjadi di hadapannya. Ia juga mendengar dengan jelas beberapa kata yang tak ia pahami, seperti apa itu wingstale?

“Ia tidak paham akan makhluk apa kita ini, Young Ji noona,” balas Tae Hyung seraya berjalan mendekati perempuan itu, “Lebih baik kita segera membawanya.”

“Ide yang bagus,” ucap Young Ji seraya menjentikkan jarinya. Sang perempuan merasa penglihatannya melemah dan dalam sekejap, ia telah terjatuh ke dalam pelukan Tae Hyung. Young Ji memandang semua itu dengan tatapan jijik, “Kau memeluk ‘sebuah’ hantu.”

“Siapa yang peduli?” Tae Hyung dan Young Ji tiba-tiba terdiam. Mereka mencium bau yang sangat khas, bau dari sesuatu yang menjadi penghilang rasa dahaga mereka….

Bau darah.

“Ada yang baru selesai membunuh,” bisik Young Ji pelan. Lagi, ia menjilat bibirnya, “Kau ingin kesana?”

Tae Hyung tersenyum, “Suatu tantangan yang menarik untuk menemukan siapa yang membiarkan air minum kita tumpah begitu saja.”

-FA-

Rumahnya tampak seakan tak ada lagi yang menghuni disana. Semua ia biarkan berantakan, bukan karena ia tak ingin membereskannya, namun ia takut untuk merapikan tempat itu kembali.

Terkadang ada saatnya dimana seseorang hanya tak ingin membuang kenangan yang ada.

Laki-laki itu menghela nafas. Ia membiarkan tubuhnya jatuh ke atas sofa, memejamkan matanya akibat rasa pusing yang terus berputar di dalam kepalanya. Dokter sendiri telah menyarankannya untuk beristirahat, bahkan atasannya dalam pekerjaan pun menyuruhnya untuk mengambil cuti selama satu minggu. Andai saja sang atasan itu tahu bahwa butuh waktu lebih dari satu minggu untuk melupakan hal paling penting dalam hidupmu.

Bahkan mungkin membutuhkan waktu selamanya untuk melupakan perempuan yang sangat kau cintai.

“Semua orang di dunia ini hanyalah orang-orang brengsek,” gerutunya seraya memukul sisi sofa dengan kuat, “Selalu memakai topeng. Mereka pikir aku tidak tahu kalau mereka semua tertawa di atas penderitaanku?! Dasar manusia brengsek!”

Ia melempar pistolnya ke sembarang arah, membuat benda kecil itu tergeletak begitu saja di atas lantai. Pikirannya hanya terfokus pada satu nama, dimana ia sangat—sangat—merindukan pemilik dari nama tersebut sekarang.

BRAK!

Ia terkejut mendengar pintu rumahnya terbanting begitu saja. Tanpa sadar ia berusaha mengambil pistolnya, namun gerakannya terhenti oleh suara seorang perempuan.

“Jadi ini, orang yang berani-beraninya membuat minuman kami tumpah?”

Kepalanya menoleh ke arah suara, menemukan seorang perempuan dan laki-laki—yang tentu saja telah kita semua kenali sebagai Young Ji dan Tae Hyung—berdiri di depan pintu rumahnya. Tersadar, ia segera meraih pistolnya dan mengacungkan benda tersebut ke arah mereka berdua.

“Siapa kalian?!” tanyanya dengan suara sekeras mungkin yang dapat ia keluarkan, “Menghancurkan pintu rumahku…. Sebaiknya kalian mati!”

Lagi, ia menembakkan peluru yang tersisa di dalam pistolnya, menghabiskan semuanya untuk meluapkan emosi pada mereka yang menghancurkan salah satu kenangannya bersama dengan …

“Sudah kubilang, Tae Hyung. Kita tidak perlu bersikap baik pada seorang manusia.”

Kedua matanya terbelalak. Ia tak percaya melihat dua orang itu masih berdiri dengan tegak di tempat mereka berdiri, sama sekali tak merasa terganggu pada bagian berlubang pada tubuh mereka. Bukan hanya itu, lubang-lubang itu pun tertutup dengan cepat.

Mereka bukan manusia. Ya, tentu saja mereka bukan.

“Berarti kali ini noona yang menang,” ucap Tae Hyung seraya melangkah masuk bersama dengan Young Ji, “Noona bisa menangkapnya.”

“Oh, terima kasih!” balas Young Ji tanpa niat. Ia berjalan mendekati sang laki-laki, sedangkan laki-laki itu melempar pistolnya ke arah Young Ji.

Ups, ia tepat mengenai dahi perempuan itu.

“Menjauh dariku!” raung sang laki-laki, berlari ke ruangan lain untuk mencari apa yang dapat ia gunakan sebagai senjata. Young Ji menekan dahinya, merasa marah pada manusia yang berani melukai dahinya.

“Mulai lagi,” ucap Tae Hyung lalu ia menghela nafas. Ia mengambil langkah mundur, tak ingin tubuhnya terkena dampak dari kekuatan Young Ji yang akan menerjang rumah itu sesaat lagi.

“KEMBALI KAU, MAKHLUK BRENGSEK!” teriak perempuan itu dengan sayap yang mengembang. Ia mengibaskan sayapnya kuat, membuat angin menerjang keras ke sekelilingnya, mengangkat rumah tersebut ke atas.

Lalu ketika angin tersebut hilang, rumah itu jatuh ke atas tanah dan hancur berkeping-keping. Tae Hyung—yang telah melayang ke udara untuk menyelamatkan dirinya—segera melayang turun.

“Wanita memang cepat emosi,” ucap Tae Hyung seraya menarik Young Ji. Mereka menemukan laki-laki itu telah pingsan akibat tertimpa meja yang hancur. Tae Hyung menatap Young Ji penuh arti.

“Apa? Salahkan laki-laki itu karena ia membuatku emosi,” jawab Young Ji tak acuh.

-FA-

Perempuan itu mendapatkan kembali kesadarannya setelah lama terlelap. Ia menemukan dirinya berada di sebuah ruangan yang tampak asing. Apa yang sebelumnya terjadi?

Oh, ia ingat. Ia disekap oleh makhluk bersayap hitam dan—astaga, iadisekap!

“Ba—bagaimana ini?!” gumamnya bingung, “Aku berada di dalam suatu ruangan—lalu apa masalahnya? Aku sudah tidak berwujud, jadi aku tidak perlu merasa panik. Orang saja bisa menembusku, jadi tentu saja aku bisa menembus dinding!”

Ia melayang dengan gembira menuju ke dinding terdekatnya hanya untuk menemukan bahwa ia terpental ke belakang, dengan tubuh yang bergetar akibat listrik ringan yang mengalir di dinding tersebut.

“Aku tidak bisa menembusnya?” tanyanya tak percaya. Ia mendekatkan tangannya ke arah dinding, lalu ia segera menariknya kembali karena listrik tersebut berusaha menjalar ke ujung jarinya, “Auw! Apa ini? Seharusnya arwah sepertiku dapat menembus apa pun, seperti yang ada di dalam film!”

Yah, ia memang benar. Tentu saja ada keanehan di tempat dimana ia berada, dan seharusnya ia menyadari bahwa ‘disekap’ berarti ia tidak akan dibiarkan kabur begitu saja.

Suara benda yang bergerak segera masuk ke dalam telinganya, membuat ia berbalik dengan cepat. Ia melihat sekeliling ruangan, memastikan darimana suara tersebut berasal sebelum ia terpaku pada sebuah kain lebar berwarna putih yang tergeletak di atas lantai.

Bukan, kain tersebut bukan tergeletak. Kain tersebut sedang menutupi seseorang yang masih terlelap sampai detik itu.

“Aku harus membangunkannya!” gumam perempuan itu. Ia melayang rendah ke arah kain tersebut, lalu terdiam, “Bagaimana caraku mengangkat kainnya?”

Ia menepuk dahinya, merasa kecewa akan fakta bahwa ia tak bisa lagi memegang benda apa pun.

“Sudahlah, aku akan menunggu orang ini bangun,” ucapnya pada dirinya sendiri. Ia kembali melayang ke sudut ruangan, menunggu dengan tenang disitu.

Pikirannya benar-benar teralihkan dari fakta bahwa ia terperangkap di dalam sana.

.

Di sisi lain, seseorang yang tertidur di bawah kain tersebut mulai terjaga. Ia membuka matanya, melihat hanya ada warna putih yang dapat ia lihat.

Pikirannya segera berjalan, ‘Dimana aku?!’

Tangannya menyingkirkan warna putih tersebut—yang ia sadari bahwa itu adalah kain berwarna putih—dan ia menemukan dirinya berada di dalam sebuah kamar. Terdapat meja berwarna coklat di hadapannya beserta dengan sebuah jendela dengan tirai berwarna putih.

Namun ada yang aneh. Cahaya yang menembus melalui kaca pada jendela tersebut tidaklah berwarna seperti cahaya matahari. Ia lebih terlihat seperti … cahaya abu-abu.

“Kau sudah sadar?!”

Ia terlonjak akibat suara bernada tinggi—khas perempuan—yang tiba-tiba saja terdengar sangat jelas dari arah belakangnya. Tubuhnya berbalik, membuat matanya terpaku pada sesosok perempuan yang kakinya tidak menapak pada lantai.

Diulang sekali lagi, seorang perempuan yang melayang di udara.

“Ka—kau tidak perlu takut!” ucap perempuan itu, membuat ia mengernyitkan dahinya. Oke, ia merasa sedikit lucu dengan keadaan yang terjadi sekarang.

Bagaimana ia bisa takut pada perempuan yang hanya melayang? Ya ampun, kalau saja muka perempuan itu hancur dan dipenuhi banyak darah, mungkin saja ia bisa berlari ketakutan saat itu juga. Sebaliknya, tidak ada yang salah dari sang perempuan—kecuali masalah kakinya yang tak perlu dibahas lagi—yang membuat ia tahu ia sedang berbicara dengan sosok apa.

Ia berbicara pada sesosok hantu. Wow.

“Aku tidak tahu mengapa kita bisa berada disini,” ucap hantu tersebut yang mengalihkan pikirannya kembali, “namun seingatku, ada dua sosok bersayap hitam yang membuat kesadaranku menghilang. Lalu, ketika aku mulai sadar, aku telah berada disini….”

Sama persis dengan kejadiannya—hanya untuk bagian dua sosok bersayap hitam itu.

“Berarti apa yang terjadi pada diri kita itu sama,” sang laki-laki berjalan mengelilingi ruangan, berniat untuk menyentuh dinding berwarna putih—

“JANGAN SENTUH! DINDING ITU MENGANDUNG LISTRIK!”

—dan ia menarik tangannya dengan cepat, terhindar dari serangan listrik ringan.

“Listrik?” tanyanya yang dibalas anggukan oleh hantu itu, “Bagaimana bisa ada listrik di dinding ini?”

“Aku tak tahu, tapi aku juga terkena dampaknya,” jawab sang hantu pelan. Laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya.

“Kau hantu, bukan? Seharusnya kau bisa menembus dinding ini tanpa terpengaruh oleh listrik yang ada disana.”

“Aku sudah mencobanya!” rajuk hantu itu dengan bibir yang maju karena kesal, “listrik tersebut menyengatku, membuatku takut untuk menembusnya lagi.”

Laki-laki itu terdiam, berusaha mencerna perkataan dari sang hantu, “Kalau memang hantu sepertimu tak bisa menembus dinding ini … lantas dimana kita berada?”

Mereka berdua kini sama-sama terdiam, tak punya jawaban akan pertanyaan sederhana tersebut.

-FA-

Waktu berjalan begitu lama ketika tak ada percakapan yang terbentuk.

Begitulah yang dirasakan oleh dua makhluk tersebut. Mereka masih terkurung di tempat yang sama, tanpa tahu entah berapa lama waktu yang telah mereka lewati. Sang perempuan hanya bersenangdung pelan seraya menatap keluar jendela, sedangkan sang laki-laki terduduk di atas kursi tanpa tahu harus berbuat apa.

“Bosan~,” ucap perempuan itu untuk kesekian kalinya. Ia menoleh ke arah laki-laki yang duduk tanpa bergerak sedikit pun itu, “Kau tidak punya ide mengenai cara agar kita dapat keluar dari tempat ini secepat mungkin?”

Laki-laki itu menggeram, “Untuk pertanyaan yang sama yang kau tanyakan kesepuluh kalinya, maka aku akan menjawab dengan hal yang sama. Tidak ada ide sama sekali,” ia berujar kesal seraya menutup kedua telinganya, mengabaikan keberadaan hantu perempuan itu.

“Setidaknya jangan mengabaikanku,” bisik sang perempuan yang jelas takkan terdengar oleh laki-laki itu. Keheningan yang tercipta membuat suasana terasa canggung, namun itu hanya berjalan sesaat karena pintu ruangan tersebut terbuka dengan keras.

“Aku meninggalkan kalian berdua dalam waktu dua hari dan tidak ada apa pun yang terjadi? Kalian sungguh aneh.”

Young Ji melompat ke dalam ruangan tersebut dengan sayap yang terbentang lebar, namun gerakannya terhenti di udara karena Tae Hyung menahan pundaknya sebelum ia melangkah lebih jauh.

“Berhenti bermain-main dan lakukan tugas dengan baik, Young Jinoona!” ucap Tae Hyung yang membuat Young Ji cemberut. Perempuan iblis itu menghilangkan sayapnya, lalu ia menatap ke arah dua penghuni ruangan tersebut, “Kalian berdua! Ikut kami sekarang dan jangan banyak tanya kalau kalian ingin selamat!”

“Ancaman yang klasik,” gumam laki-laki itu pelan, membuat Young Ji menatap tajam ke arahnya.

“Kau ingin aku menghancurkanmu seperti aku menghancurkan rumahmu itu?”

Tanpa banyak basa-basi sang laki-laki segera berdiri dan mengikuti langkah Tae Hyung dan Young Ji, begitu pula dengan sang hantu perempuan. Mereka berjalan melewati lorong-lorong gelap dengan pencahayaan yang remang, dimana sesekali keduanya terlonjak akibat melihat binatang yang tidak pada bentuk wajarnya (seperti laba-laba yang 100 kali lebih besar dari laba-laba asli). Ketika mereka sampai pada pintu di ujung lorong, Tae Hyung membuka pintu tersebut.

Keduanya terperangah ketika melihat ada begitu banyak makhluk sejenis mereka—manusia dan hantu—yang berada disana. Semua dengan raut wajah yang sama.

Takut.

“Masuk!” bentak Tae Hyung seraya mendorong mereka kasar. Pintu itu kembali tertutup, menimbulkan listrik yang terlihat dengan jelas oleh semua makhluk yang terkumpul disana. Laki-laki itu berdecak, merasa kesal akan perlakuan tak sopan yang mereka terima, namun perasaan kesalnya itu menghilang ketika sang perempuan bersembunyi di balik punggungnya.

“Sembunyikan aku, kumohon,” bisik perempuan itu pelan seraya merapat pada tubuhnya. Sang laki-laki mengernyit.

“Menyembunyikanmu dari apa?” tanyanya bingung. Ia tak mungkin mencari sesuatu yang menyebabkan perempuan itu harus bersembunyi dari kerumunan makhluk tak jelas di hadapan mereka tersebut.

“Ada Young Jae disana.”

Demi kelanjutan cerita ini….

Siapa itu Young Jae?

“Aku tak mau ia menemukanku,” ucap perempuan itu melanjutkan kalimatnya, “Apalagi dalam kondisi kami telah menjadi makhluk yang sama. Aku sama sekali tak mau berurusan dengannya!”

“Memangnya apa yang membuatmu tak ingin bertemu dengannya?” tanyanya lagi, masih penasaran akan apa hubungan sang perempuan dengan Young Jae itu.

Hening sejenak.

“Ia mantan pacarku.”

What the….

-FA-

‘Penjara’ mereka yang baru seakan tak bisa diam dalam sejenak, selalu saja berisik tanpa ada yang dapat membungkamnya. Kedua makhluk pemeran utama itu hanya duduk di dekat pintu, menyaksikan keramaian yang tak pernah reda itu.

“Aku masih penasaran akan satu hal,” ucap sang laki-laki yang mengawali percakapan mereka, “Kalau si Young Jae itu benar mantan pacarmu, lantas mengapa kau menghindarinya? Bukankah ia pernah menjadi seseorang yang paling berharga dalam hidupmu?”

Perempuan itu terdiam sesaat, lalu ia tertawa sinis.

“Paling berharga?”

Ia melipat kedua tangannya di depan dada.

“Apa kau pikir aku bersama dengannya karena aku mencintainya?”

Kali ini sang laki-laki yang terdiam, tak tahu harus menjawab apa dari pertanyaan—yang menurutnya—sangat pribadi tersebut.

“Kukatakan padamu,” perempuan itu kembali berujar, “Aku tak pernah ingin berpacaran dengannya, namun kedua orang tuaku memaksa karena hanya dengan cara itulah kami akan mendapatkan uang. Ya, aku tahu pikiranmu pasti penuh dengan cerita klasik yang menggelikan, namun itulah yang benar-benar terjadi padaku.”

Laki-laki itu mendengarkan perkataannya tanpa berkedip.

“Lagipula, Young Jae itu brengsek,” ucap sang perempuan melanjuti ceritanya, “Apa kau tahu tujuannya berpacaran denganku? Ia hanya ingin membuat perempuan yang ia sukai cemburu! Cih, dasar laki-laki menggelikan. Kematiannya dalam kecelakaan mobil setidaknya membuatku dapat bernafas lega sesaat.”

“Lalu mengapa kau bisa meninggal?” tanyanya yang membuat keheningan lagi-lagi menghampiri mereka berdua. Perempuan itu tampak merenung.

“Mengapa aku bisa … meninggal?”

Ia tertawa kecil.

“Entahlah. Aku sendiri tak tahu.”

-FA-

Pagi itu adalah pagi yang cerah, dimana seorang perempuan sedang menikmati waktunya dengan santai.

Terlepas dari kepergian mantan kekasihnya, ia benar-benar menikmati kehidupannya dengan tenang. Tidak ada lagi sosok laki-laki yang akan mengganggunya, terlebih tidak ada lagi sosok orang tua yang akan memaksanya menjadi kekasih seseorang demi uang. Ia telah terlepas total dari beban yang selama ini memberati punggungnya, sehingga senyum yang terdapat di bibirnya semakin mengembang.

“Astaga, Seung Wan! Apa kau tidak dapat terbang dengan pelan? Aku punya dua kaki bukan dua sayap!”

Ia menoleh ke arah suara, menemukan seorang laki-laki yang sedang berbicara sendiri seraya—tunggu, laki-laki itu tidak berbicara sendiri. Ada sebuah cahaya yang berada tepat di sampingnya.

Cahaya itu bukan termasuk cahaya pada umumnya. Sang perempuan memfokuskan pandangannya pada cahaya tersebut, dan ia menemukan … cahaya tersebut ialah manusia kecil yang memiliki sayap.

“Kau jauh lebih besar dariku, Seok Jin oppa. Seharusnya langkah kakimu itu melebihi kepakan sayapku.”

Ia tidak salah lihat, bukan? Laki-laki itu berbicara dengan seorang peri!

“Tapi tubuh kecilmu itu selalu bergerak gesit. Sesaat saja aku mengalihkan pandanganku, kau telah menghilang,” balas sang laki-laki seraya menghabiskan minumannya. Ucapannya tak digubris oleh sang peri yang kini melonjak di udara.

“Lihat, kekasihmu datang! Aku akan bersembunyi supaya ia tidak melihat keberadaanku disini!”

Lalu peri kecil itu menghilang. Sang perempuan melihat ada seekor kucing yang melangkah mendekati sang laki-laki, dan tiba-tiba saja kucing tersebut berubah menjadi manusia.

Keanehan apa lagi ini?!

“Maaf, apa aku membuatmu menunggu?” tanya perempuan-yang-berasal-dari-kucing-itu. Laki-laki—maksudnya, Seok Jin—tersenyum.

“Tidak. Kau tidak terlambat sama sekali,” jawabnya lalu ia mengulurkan tangan, “Ayo, kita pergi?”

Perempuan-kucing itu tersenyum lebar, menyambut uluran tangan Seok Jin lalu mereka pergi bersama. Kini hanya tinggal perempuan itu yang terdiam.

“Jatuh cinta itu memang bodoh….” gumamnya pelan, “Kini aku tahu apa yang sebenarnya Young Jae rasakan.”

Ia segera beranjak dari duduknya, melangkah pergi dari tempat itu.

“Seharusnya kau sadar, Jin Hee. Mungkin saja seseorang jatuh cinta pada pandangan pertama.”

 

Episode Two | Part 1 : Completed

Part 2 : Coming soon

06-12-2014

10:43

Bingung? Sama, author juga bingung(?) #plak

Anyway, pasti ada yang merasa kurang familiar dengan karakter disini, kan? Sengaja author buat seperti itu supaya kalian kenal dengan karakter dari girlgrup / boygroup antimainstream!

Sampai bertemu di chapter dua~

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s