Bad Luck [Chapter – 1]

Bad Luck; [1/4]

❝oh, you again? are we meant to be?❞

Bad Luck by puchanli

Kris Wu & Jessica Jung | Ok Taecyeon

[Chaptered | Romcom, Fluff | Teen]

Dislaimer : sadly, I don’t own any of the characters; storyline belongs to me. Any similarity is purely coincidental. This story is also posted on my personal blog.

[Prolog] [On going]

“Sampai jumpa, Sica,” Tuan Jung memeluk erat putri semata wayangnya. “Appa akan memberi kabar jika sudah sampai nanti,” ia melepas pelukannya, meninggalkan sebuah senyuman simpul dan kemudian berlalu.“Hati-hati, Appa,” Jessica mengangguk sebelum ayahnya benar-benar turun menggunakan lift. Ia berbalik dan menutup pintu kamar barunya.

Jessica Jung, begitu namanya. Dia seorang calon sekretaris perusahaan ayahnya sendiri yang harus melakukan tugas magangnya di sebuah perusahaan yang jauh dari rumahnya untuk mendapatkan izin bekerja. Tinggal di tengah kota Seoul untuk 3 bulan lamanya dan ikut merasakan secara langsung hiruk pikuk dan suasana Seoul adalah pengalaman pertama baginya. Jessica harus akui bahwa ia tidak suka semua hal yang berbau pindah dan adaptasi, maka untuk pertama kalinya ia harus menjalaninya demi terwujudnya keinginan yang selama ini ia harapkan.

Pada awalnya, ia menyukai suasana sepi dan sunyi yang dimiliki apartemen barunya ini. Sebagai seorang calon sekretaris adalah suatu keharusan untuk menciptakan suasana kondusif agar kerjanya bisa berjalan lancar. Dan Jessica menikmatinya. Namun kemudian, berselang dua hari setelah ia menetap di apartemen itu, seorang pendatang baru datang dan menempati kamar yang tepat berada di sebelah kamar Jessica.

Jessica Jung adalah tipikal wanita yang kurang peduli dengan sekitarnya, bukan karena diaintrovert, tapi ia memang tidak terlalu senang berhambur dengan orang-orang yang tidak sesuai tipe dengannya. Karena itu, setelah mengetahui kebanyakan penduduk di apartemen adalah seorang wanita-wanita tua tukang gosip, Jessica lebih memilih untuk tidak menyapa mereka. Dia membenci penggosip, ditambah lagi penggosip tanpa suara yang selalu berpindah ke kamar satu ke lainnya hanya untuk membicarakan hal yang tak ada gunanya.

Namun, tetangga baru Jessica bukanlah seorang wanita penggosip tanpa suara, melainkan tipe seseorang yang jauh lebih tidak ia senangi yang datang dengan berbagai barang yang juga tidak ia sukai.

Dentuman suara pengeras suara yang memekakkan telinga membuat dinding kamar Jessica ikut bergetar hebat. Jessica yang semula sedang menulis kembali agendanya di jurnal hariannya merasakan keganjilan yang mengganggunya. Ia bangkit dan keluar kamarnya.

Tok tok tok

Tidak ada balasan dari dalam. Kembali ia berusaha dengan lebih keras.

Tok tok tok!

Seseorang membuka pintu dan berdiri di depan Jessica. Lelaki tinggi berwajah aneh muncul bersamaan dengan lagu-lagu hip hop tak terkenal dari dalam ruangan.

“Siapa pemilik kamar ini?” Jessica bertanya cuek, meninggikan suaranya satu oktaf untuk menyamai dentuman musik tadi.

Lelaki tadi menaikkan alis kemudian berbalik. “Hyung, ada yang ingin bertemu denganmu!” Ia berteriak, setelah itu lagu-lagu yang diputar dengan volume di atas wajar itu perlahan melemah dan mati.

Seorang lelaki lain yang juga tinggi dengan wajah yang tak kalah cuek pun muncul menggantikan lelaki sebelumnya. Jessica masih di sana dengan lengannya yang menyilang di depan dadanya. “Ada yang bisa dbantu?” Ia bertanya, dengan suara beratnya.

“Kuharap kau tidak keberatan untuk mematikan sound system-mu karena aku butuh ketenangan,” Jessica menaikkan lehernya yang jenjang untuk membuat kesan bahwa ia tidak terlalu pendek untuk berbicara dengan lelaki menjulang di hadapannya. “Kau pendatang baru, bukan? Hormati penduduk lain di sini.”

Lelaki tadi memutar bola matanya. “Aku sudah memesan tempat ini sejak lama sekali, asal kau tahu saja.” Ia menaikkan alis tebalnya. “Tapi aku tidak keberatan untuk mengecilkan volume lagunya.”

“Terima kasih,” Jessica mengakhiri singkat dan berbalik meninggalkannya tanpa memberikan seulas senyum pun.

Begitulah Jessica. Sikapnya memang tidak pernah berubah sejak dulu. Selalu dingin. Terkadang malah terlalu dingin. Suatu hal yang dibenci oleh beberapa orang, namun baginya, itu adalah sebuah keajaiban. Dan Jessica suka sikap kedinginannya.

Jessica Jung adalah tipikal wanita yang berbeda. Dia suka tenang yang sangat mencekam, dimana tak ada suara yang bisa didengar kecuali suara hembusan nafas atau detakan jantung. Dia suka ketika dirinya sendirian, dimana dia nyaris bisa merasakan dirinya mulai berubah dengan cara merenung. Namun, tidak sebaik kelihatannya, Jessica Jung tidak suka kegelapan. Sama sekali. Dia lebih memilih berada di ruang ramai yang penuh sesak daripada harus berdiam diri satu menit dalam ruangan tanpa cahaya. Satu hal yang aneh darinya, begitu pun menurut dirinya sendiri.

Selain mengidap agoraphobia, Jessica Jung juga tipe seorang wanita pekerja keras yang jugakeras. Dia senang bekerja, terlebih untuk sesuatu yang memang telah inginkan sejak lama. Sifat ambisius yang alami telah diturunkan dari ayahnya melalui setiap detik aliran darahnya adalah suatu hal yang sangat Jessica syukuri. Karena baginya, tidak semua orang bisa memiliki sifat seperti ini. Dan yang dimaksud dengan keras adalah fakta bahwa dia memang tidak selunak wanita pada dasarnya. Ia dingin, dan terkadang cenderung ke keras kepada orang lain, atau bahkan sarkastik. Tak ada yang bisa mengelak, karena memang itulah yang ia rasakan.

Karena sifatnya yang cenderung ambisius, cukup berhasil menarik perhatian salah satu tetangganya yang beberapa hari ini sering menangkapnya berdandan rapi dengan jalan cepat serta hentakan high heels di pagi-pagi sekali. Suara dding dari lift di dekat kamar wanita itu selalu terdengar ketika jam masih menunjukkan pukul 6:00 am.

Semua orang akan bertanya, apakah yang akan dilakukannya?

Maka untuk menghilangkan rasa penasaran yang memuncak, salah satu tetangga Jessica, sebut saja bernama Kris Wu, mencoba untuk mengulang kembali kejadian yang pernah dia lakukan sebelumnya. Ia menghidupkan sound system-nya keras-keras hingga membuat suara mengganggu dari gesekan kaca jendela dengan kusennya.

Dan agaknya usahanya benar-benar berhasil karena kuramg dari satu menit kemudian, terdengar suara pintu diketok dari luar dengan tidak sabar. Ia berbalik untuk membukakan pintu.

Ketika pintu terbuka, seorang wanita berkulit putih susu dalam balutan handuk yang menutupi dada hingga lututnya berdiri di depannya dengan tatapan menantang. Rambutnya yang masih basah ia biarkan menjuntai indah di kedua bahunya yang kecil.

“Ada yang bisa kubantu?” Lelaki bernama Kris Wu tadi bertanya.

“Kukira kita pernah mengalami percakapan yang sama,” Jessica membalas, menyilangkan tangannya dengan cuek, matanya tajam menusuk mata Kris.

Kris menaikkan kedua alisnya yang bertautan.

“Matikan sound system-mu, babo!” Jessica mendengus keras-keras, tak sungkan bahkan mengatai tetangga yang baru dikenalnya beberapa hari lalu.

“Kukira ini hak-ku untuk melakukan hal yang aku inginkan,” Kris membalas, tampak sedikit terkejut dengan reaksinya yang di luar dugaan. “Aku berhak melakukan hobiku, bukan?”

“Ya, tapi selama kau tak mengganggu hak orang lain untuk mendapat ketenangan,” Jessica memotong, menyibakkan rambut curly-nya. “Hak-mu telah merebut hak-ku.”

“Oh, ya?” Kris menyilangkan lengannya dan menyandarkan tubuhnya di kusen pintu, “kalau begitu coba jelaskan padaku bagaimana hak-ku bisa merebut hak-mu?”

Jessica memutar bola matanya dengan kesal, ia berbalik dan lantas meninggalkannya bersamaan dengan getaran pintu yang dibantingnya. Ia kabur, bukan karena ia kalah atau tidak bisa membalas, namun ia tidak ingin membuang waktu-waktu berharganya dengan berargumen bersama orang bodoh. Ia mulai merutuki dirinya sendiri, mengapa dia tidak menerima tawaran ayahnya untuk tinggal di apartemen dekat perusahaan.

Pagi itu juga, setelah mengenakan pakaian formalnya seperti biasa, Jessica melenggang keluar. Ia mengunci pintu dan berjalan menuju lift di dekat kamar Kris. Suara dentuman itu masih di sana, di dalam kamar nomor 45 yang tepat berada di sebelahnya. Tiba-tiba bibirnya perlahan berbisik, seolah sedang merapah mantra untuk keburukan nasib tetangga sebelahnya yang berisik dan bodoh itu. Yang sudah berhasil merusak paginya.

Jessica selalu menggunakan taksi untuk menuju kantor perusahaan tempatnya magang. Perusahaan itu adalah badan usaha milik teman ayahnya sendiri yang bekerja di bidang pengiklanan dan pemasaran. Perusahaan besar yang kini mulai menjarah dan menempatkan berbagai cabang di seluruh dunia. Dan Jessica akan menjadi sekretaris manajer jika ia berhasil dengan magangnya selama 3 bulan ini.

Jessica meletakkan semua barangnya di atas meja kerjanya. Ia menarik kursi dan menyandarkan tubuhnya. Menghidupkan komputer kerjanya dan mulai membuat tugasnya. Hari ini ada setidaknya 7 proposal yang harus diajukan perusahaan untuk permintaan sponsor dalam rangka acara tahunan perusahaan ke perusahaan lain.

Ketika jarinya mulai menari dengan lihainya di atas keyboard, tiba-tiba telepon putih pucat di dekatnya berdering.

“Halo, dengan Jessica Jung, ada yang bisa dibantu?” Ia memulai, seformal mungkin.

“Nona Jung, bisa Anda datang ke ruang manajer saat ini?” Suara dari seberang menimpali yang berhasil membuat jantung Jessica berdebar gugup. Apa yang sang manajer butuhkan hingga ia harus datang ke ruangannya?

“Baiklah, Tuan,” Jessica membalas. Setelah itu telepon diputus dari seberang.

Jessica bangkit, menarik nafas sekali lagi dan berlalu dengan suara hentakan high heels-nya yang mampu menarik perhatian seluruh ruangan.

Jessica dipersilakan masuk oleh sang manajer yang mengenakan badge di dada kanannya yang bertuliskan jelas: Ok Taecyeon.

Ok Taecyeon adalah anak teman ayah Jessica. Ayahnya pernah mengenalkannya dengan lelaki itu ketika keduanya masih SMA. Jessica mengenalnya sebagai seorang lelaki yang cerdas dengan ide-ide cemerlang dalam pikirannya. Namun di sisi lain, Jessica juga mengenalnya sebagai seorangplayboy yang telah meninggalkan banyak jejak pacar di banyak gadis semasa mudanya dulu. Dan sekarang, terkadang Jessica masih merasa risih dengan sifatnya itu karena selama masa magangnya di sini, ia sering menangkap sorot mata menakutnya dari lelaki itu. Seperti mata yang penuh nafsu.

“Nona Jung, apakah Anda bisa membuatkan saya laporan proposal pekan lalu?” Manajer Taecyeon bertanya, setelah mempersilakan Jessica untuk duduk tepat di depannya. “Saya kehilangan beberapa data dan saya harap Anda masih menyimpan data proposal pekan lalu.”

Jessica terdiam sebentar kemudian ia mengangguk. “Akan saya lakukan sebaik yang saya bisa.”

“Bagus,” manajer Taecyeon mengangguk takzim, seulas seringai khas playboy terukir dari wajahnya. Ia menatap Jessica seolah wanita di depannya ini adalah seorang mangsa yang harus segera diterkam.

Jessica mendengus pelan. Ia merasa risih dan tidak suka keanehan yang dimiliki manajer di depannya. Ia bersumpah, jika saja lelaki liar yang tampaknya memberi banyak perhatian padanya itu bukan bosnya, ia pasti sudah memukulnya keras-keras hingga tak sadarkan diri. Namun, untuk saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Jessica kembali ke ruangannya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Ia meraih koper kerja merah mudanya untuk mengambil jurnal agendanya selama ini. Semua data yang ia punya selama ia magang di sini telah ia tulis di buku itu. Namun, ketika jemarinya yang jeli membuka tasnya, buku itu tidak ada di sana…

“Huh?” Jessica mengerutkan keningnya, berhenti mencari dan berpikir barangkali ia tak sengaja meninggalkannya di apartemen. “Tidak,” ia menggeleng setelah memastikan bahwa ia masih mengingat betul bahwa buku itu ada di kopernya pagi ini.

Ia mempercepat gerak jarinya untuk mencari di tiap tempat di kopernya. Namun hasilnya nihil, buku hijau toska yang menjadi separuh hidupnya memang tidak ada di sana. Perlahan keringat mengucur di pelipis dan dahinya, menyusuri kulit putih susunya yang telah ia taburi bedak. Jessica berhenti sebentar untuk mengatur kembali nafasnya yang mulai tak teratur. Ia meraih segelas kopi hangat yang dibelinya tadi dan meneguknya pelan.

Jessica menggigit bibir bawahnya dan mulai menenggelamkan wajahnya di atas meja, kembali mengingat dimana kemungkinan buku agendanya berada. Ia mengetuk-ketuk meja kerjanya yang dilapisi kaca dengan jari telunjuknya dengan tidak sabar. Ia mulai panik, bingung, dan takut. Semuanya bercampur menjadi satu, menjadi sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jessica Jung tidak pernah merasa tidak nyaman seperti ini sebelumnya.

Ketika istirahat makan siang, Jessica menyempatkan dirinya untuk kembali ke apartemen. Sekedar ingin memastikan bahwa bukunya memang tertinggal di sana dan tidak hilang. Jessica berdiri di dalam lift dengan panik, berkali-kali matanya menyapukan pandangan di tiap sudut ruangan, mencari kemungkinan bukunya bisa saja terjatuh.

Ketika pintu metal lift terbuka, sesosok tinggi berdiri tepat di depannya. Tetangga barunya yang bodoh dan berisik tadi sedikit terkejut ketika Jessica muncul dari balik pintu.

Annyeonghaseyo,” ia menyapa dengan sebuah senyum sewajarnya.

Jessica tak membalas, bahkan tak sedikit pun melayangkan pandangannya pada lelaki yang menyebalkan itu. Ia berlalu begitu saja, mendorong tubuh tinggi Kris yang menghalangi jalannya. Ia kembali berjalan cepat menuju kamarnya dan segera membuka pintu. Kris memandangnya heran, namun kemudian ia tersenyum tanpa Jessica sadari.

Jam istirahat makan siang selama setengah jam penuh digunakan Jessica untuk membuang keringat dengan berlari ke sana ke mari mencari sebuah buku hijau toska. Selama kurun waktu itu pula, ia berhasil membuat kamarnya berantakan. Ia bahkan menghilangkan beberapa barang kecil yang terkadang sangat ia butuhkan seperti stik pemoles kuku, tutup botol parfum, atau penjepit kertas. Dan hasilnya masih sama, buku itu bahkan tidak ada di atas meja. Jessica merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan segelas air dingin di tangan kanannya. Ia memandang langit-langit putih dengan putus asa, apa yang sekarang bisa ia lakukan?

Jessica sudah mencari di tiap sudut ruangan, bahkan di tempat yang tidak mungkin seperti kamar mandi. Dan sekarang, satu kemungkinan keberadaan bukunya adalah bahwa bukunya mungkin terjatuh ketika ia berangkat tadi. Jessica kembali mengingat semua kejadian tadi pagi.

“Aku mandi dan menggebrak kamar lelaki sialan itu,” ia bergumam pelan dengan mata terpejam, membiarkan otaknya bekerja sekeras mungkin. “Lalu aku masuk taksi seperti biasa. Apa aku tadi membuka koper ketika di taksi?” Ia mengubah posisi duduknya. “Tidak, aku bahkan tidak mengambil handphone,” ia menggeleng. “Lalu aku membeli kopi seperti biasa, mengambil uang dari saku.” Ia berhenti sebentar. “Aku bahkan tidak mengambil dompet untuk membayar, itu berarti aku tidak membuka koper sama sekali. Tapi kenapa bukunya tidak ada?” Dalam sekejap wajahnya berubah serius, sangat serius.

“Ah!” Jessica menjerit dan merebahkan kembali badannya. “Bukunya sudah hilang,” ia berbisik pelan. “Bukunya hilang, Sica! Bagaimana itu bisa terjadi?!” Ia menjerit lagi. “Bagaimana reaksiappa nanti?! Dia pasti sangat kecewa!” Jessica menangkupkan kedua belah tangannya di depan wajahnya, menutupi kekecewaan pada dirinya sendiri.

Jam istirahat makan siang selesai dan Jessica harus kembali lagi ke kantor. Ia merapikan sebentar rambutnya yang mulai acak-acakan karena telah berpikir sangat keras. Wajahnya tampak aneh sekarang, rias wajahnya juga telah luntur. Dan jalannya pun lunglai.

Sebelum Jessica meraih lift, ia sempat mengetok pintu kamar Kris. Ia bahkan tidak tahu, mengapa ia melakukannya. Beberapa saat kemudian Kris membuka pintu dan terkejut (lagi) melihat kedatangan tamunya siang itu.

“Ada yang bisa kubantu?” Satu pertanyaan yang sama kembali terlontar.

“Aku hanya ingin memastikan,” Jessica menjawab pelan, memberikan kesan karakter yang jauh dari kata dingin, cuek dan keras. “Apakah kau melihat buku berwarna hijau toska dengan coverbergambar menara Eiffel di sekitar sini?”

Kris mengerutkan keningnya, bingung. “Tidak ada.”

“Baiklah, terima kasih,” Jessica berbalik, “maaf mengganggu.” Untuk pertama kalinya Jessica mengucapkan maaf setelah beberapa kali hanya bisa mengatai dan menyumpahi. Ia kembali berjalan lunglai menuju lift.

Setelah Jessica menghilang bersamaan dengan bunyi dding, Kris menutup pintunya dengan sebuah senyuman puas. Ia melirik sebuah buku hijau toska dengan cover gambar menara Eiffel tergeletak di atas mejanya. “Maafkan aku, Nona Jessica Jung, tapi aku hanya ingin tahu lebih jauh tentangmu. Kau gadis yang menarik.” Ia meraih buku itu dan membuka tiap lembar halamannya.

 

author’s note;

aaaaa first chapter!1! review-nya juseyo? c: the second chapter will be updated soon!

—puchanli.

Advertisements

10 thoughts on “Bad Luck [Chapter – 1]

  1. Pingback: Bad Luck [Chapter – 3] | INDO FANFICTIONS

  2. Pingback: Bad Luck (2/4) | INDO FANFICTIONS

  3. sorry sblumnya,q tiba2 j bc ff kmu tnpa prkenalan,to the point j,q bru bc ff kmu yg the story of us & q ktgihan sm krya2 ff kmu. jdi q brusha cari ff kmu dsini tp dgn kt cm utk cast yg jessica doang, & good job bget sm author ff nya pd bgus2 smua, q suka sm genre ni. & q hrap ttep dilnjut y…
    see u next time…

    • yaudah kenalan yuk ^^
      Hanna, 98L. dengan siapa disana? 😀
      aku juga suka jessica kok ‘3’)/ apalagi kalo dipairing sama kris XD hehehe
      makasih yaaaa udah mau bacaaa ^^)/
      kasih saran dn masukan donggg hehehe

      • q CT … 91 line…
        buat bbrp hal q clalu kasih msukan buat author2 baru biasanya,tp buat hanna terkecuali, krn emg gk da hal yg bs dikrithik sejauh ni. hnya bs brhrap smakin kdepan ff mu smakin baik….

  4. yaelah kris oppa jahat bgt -.- kasiam sica eonni dong,

    tp bagus kok thor ceritanya

    bahasanya enak mudah dimengerti dan gak di paksain

    chapter berikutnya jgn kelamaan ya thor 😀 keep writing fighting 🙂

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s