Ficlet Series—UNO

djncjc

Ficlet Series—UNO

Park Je Woo’s present

Lu Han, OC’s Rinchan

Romance//Teenage

 

“Rinchan! Jangan lupa utangmu, okay!”

Gadis yang sedang berjalan dengan menunduk itu mendongak. Ia mendesah kesal sambil mengacak rambutnya kesal.

“Aish, harusnya aku tidak bermain permainan bodoh itu!” gumamnya. Matanya menatap seorang pemuda yang sedang bermain futsal. Dadanya berdegup cepat.

“Huh!” dengusnya. Ia memilih kembali melanjutkan perjalanannya. Gadis itu tidak siap jika harus memenuhi utangnya sekarang. Ia terlalu malu.

“Aku pasti sudah gila! Bagaimana kalau aku akan dibenci olehnya?!” ia bermonolog lagi. Tubuhnya sudah sampai di depan gerbang sekolah. Kepalanya menyender di gerbang sekolah. Rinchan terlihat seperti seseorang yang frustasi.

“Tapi sejujurnya aku tidak mau punya utang…” lirihnya. Kepalanya menoleh ketika mendengar suara tawa beberapa orang lelaki. Jantungnya berdegup cepat lagi. Apalagi ketika suaranya terdengar. Rinchan menghela napas panjang lalu menganggukkan kepalanya.

“Luhan!” panggilnya. Yang dipanggil menoleh sambil tersenyum. Ia mempersilahkan teman-temannya untuk pulang terlebih dahulu. Luhan berjalan mendekati Rinchan. Sementara gadis itu mati-matian berusaha agar tidak gugup.

“Ada apa?” tanyanya.

Tuhan, dia sudah ada di depan Rinchan! Apa yang harus ia lakukan? Rinchan sebenarnya belum siap namun disisi lain ia mau utangnya selesai hari ini juga. Gadis itu bukan tipe orang yang akan menumpuk utang banyak-banyak.

“I… itu…”

Luhan menaikkan sebelah alisnya.

“Apakah kau mau membicarakan tentang kerja kelompok sejarah?” celetuk Luhan. Rinchan menggeleng.

“Sebelum aku mengatakannya, aku harus mempersiapkan sesuatu terlebih dahulu.” Kata Rinchan. Ia mengeluarkan handphonenya dan mencari perekam suara. Setelah menghela napas—entah sudah ke berapa kali, gadis itu mulai membuka mulutnya.

“Aku menyukaimu. Aku menyukai bagaimana kau serius dalam memperhatikan guru. Aku suka ketika kau bermain futsal. Aku menyukai tawamu dan suaramu. Aku menyukaimu, Luhan.”

Rinchan memejamkan matanya kuat-kuat. Ia menundukkan kepalanya

“Jika kau mau membenciku, tidak apa-apa. A-aku hanya menjalankan utangku karena bermain UNO.” Tukas Rinchan. Pemuda China itu tersenyum lembut. Tangannya mengangkat dagu Rinchan. Rinchan membuka matanya dengan perlahan. Tubuhnya lemas dipandangi oleh Luhan. Ini adalah kali pertama baginya ketika Luhan menatap matanya dengan lama.

“Aku menyukaimu juga.”

Tiga kata itu berhasil membuat Rinchan terpaku.

“H-hah?”

“Aku. Menyukaimu. Juga.”

Rinchan terdiam. Ia memandang Luhan.

“Kau bercanda.”

Seusai Rinchan mengatakan hal itu, Luhan mencium bibirnya sekilas. Membuat alasan kenapa ia mematungnya menjadi tiga kali lipat. Gadis itu mengerjapkan kedua matanya tak percaya.

“Aku serius. Aku juga suka suara dan tawamu. Wajahmu cantik dan tingkahmu juga. Aku menyukai semua yang ada pada dirimu, Rinchan. Aku mungkin pengecut karena membiarkanmu mengucapkannya duluan karena aku takut kau menolakku.” Kata Luhan.

Bahkan aku lebih takut bahwa kau membenciku.

“Ah ya, perekam suaramu masih menyala ‘kan?” tanya Luhan. Rinchan memandang handphonenya.

“I-iya…” jawab Rinchan.

“Baguslah karena kata-kata ini penting.”

Luhan memegang pundak Rinchan.

“Rinchan, aku menyukaimu juga. Maukah kau menjadi kekasihku?”

—kkeut

9 thoughts on “Ficlet Series—UNO

  1. Halo, wah kita belom berkenalan/? Athens, 00L

    Lihat judulnya uno kirain mau main uno, UNO ahahah:v jaman jaman kelas 8 dulu suka main UNO *curcol* yap, keep writing and good luck’-‘

    Xoxo,
    Athens♡

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s