MASTER HUN [ Chapter – 2 ]

 

master hun 

By.Alana

Park Jiyeon and Oh Sehun

Support Cast.

Pak Suho

Pak RT.Jongin

Oom Taeyang

Genre : Gaje

Disclaimer….Mohon maaf kalau ada tokoh-tokoh yang dinistakan! Hanya guyon/canda/ ga beneran. Semua tokohnya minjem, tapi ceritanya pure punya Alana. Begitu. Terima kasih atas perhatiannya.

 

Hampir seluruh isi lemari tumpah di atas kasur. Dari model yang feminim sampai yang maskulin, berserakan tidak jelas di mana-mana. Aish, seperti mau pergi ke pesta pangeran saja!  Jiyeon memutar bola matanya, lalu menjatuhkan diri di atas tumpukan bajunya. Jam berapa sekarang ?  

 

“Setengah tujuh!!!”  teriaknya kencang.  

 

Jiyeon berlari ke depan cermin untuk merias wajahnya. Please, janga dandan yang aneh-aneh !  ujar hatinya mengingatkan. Apanya yang aneh ? Cuma pakai bedak, lipstick, eye shadow, blush on, dan maskara….dan…?  

 

“O TIDAAAAAAAAAk  !!  ” ini sungguh aneh !  jerit Jiyeon lagi. Buru-buru dia menghapusnya. Gagal sudah ! 

 

“Jiyeon !” panggil Eomma tercinta dari luar kamar. Jiyeon merengut ketika menadapati wajah Eommanya tersenyum penuh arti.

 

“Anak gadis Eomma sekarang sudah besar ! ”  

 

“Eomma jangan ngeledek ! aku sedang pusing.”  Jiyeon berusaha mencari baju kesayangannya. Ya, sudahlah, ini saja. Pasrah. 

 

“Memangnya dia baik ?”  tanya Eomma curiga.

 

“Tidak tahu.”  Ujarnya santai.

 

“Berapa umurnya ?”

 

“Tidak tahu.” jawab Jiyeon dengan senyuman.

 

“Kenapa tidak tahu ?” Sang Eomma mulai memasang wajah angkernya.

 

“Nanti aku tanyakan , Eomma. Memangnya kenapa ?”

 

“Dia terlihat mengerikan.” 

 

Jiyeon melirik Eommanya yang masih terlihat khawatir. Maklum, baru kali ini Jiyeon di ajak seorang namja ngedate. Kenapa harus mengerikan ? Jiyeon tidak setuju dengan asumsi eommanya. Dia mengatakan hal itu karena dia tidak pernah bicara dengan Sehun. 

 

“Eomma, dia tidak seperti yang orang katakan tentang dia. Dia sama dengan kebanyakan namja yang aku kenal. Hanya saja dia memang….”

 

 

Jiyeon terdiam. Apakah benar jika dia mengatakan kalau Sehun itu cacat. Lalu apakah Eommanya akan berpendapat miring tentang dia. Bagaimana jika Eommanya tidak setuju, Sehun mengajaknya keluar untuk makan, lalu Jiyeon di kunci di dalam kamar, tidak boleh bertemu dengannya lagi. Lalu putuslah harapan Jiyeon untuk mengenal lebih banyak tentang Sehun, dan bagaimana jika nanti Sehun akan di adili sebagai namja penggoda anak perawan orang. Dan dia akan di usir dari sebelah rumahnya, dan nantinya…..Oh Tidaaaaaaak !  

 

“Jiyeon !”  panggil sang Eomma menyadarkan.

 

“Apa, Eomma ?”

 

“Liptstickmu ketebelan!  Bibirmu kayak habis ditabrak truk !” ujar Sang Eomma .

 

Jiyeon melihat bayangan dirinya di cermin. Sekarang sempurna sudah wajah badutnya.

 

“Sini, biar Eomma yang make over kecantikanmu yang alami yang kamu dapatkan dari Eommamu ini.”  Jiyeon melirik pada Eommanya yang ke pede-an. 

 

“Baiklah Eomma.”

 

 

 

 

Lalu Jiyeon berdiri dengan anggunnya menunggu kedatangan Sehun. Tapi sudah lewat lima belas menit dari jam tujuh, Sehun belum juga datang. Apa-apaan ini !  Jiyeon mulai kumat emosinya. Dia melongok untuk melihat kondisi dan situasi di rumah Sehun. Lampunya mati. Heh! kemana orang itu ? Apakah dia pergi. Tapi mobilnya ada di rumah.

 

Pada akhirnya Jiyeon kembali diliputi oleh perasaan curiga, khawatir, penasaran…

 

Ya, dia harus ke sana, untuk memastikan apakah Sehun ada di rumah atau tidak. Tapi bagaimana jika dia tidak ada di rumah.

 

“Mau ke mana ?” tanya sang Eomma.

 

Jiyeon nyengir di depan pintu. Dia menunjuk ke rumah sebelah. 

 

“Katanya dia yang akan ke sini, tapi kenapa kamu yang ke sana?” 

 

“Eomma, aku khawatir dia kenapa-kenapa .” ujar Jiyeon dengan wajah tegang. Untuk sekedar meyakinkan Eommanya saja.

 

“Terserah kau saja.”  Eommanya tidak ambil pusing. Dia membiarkan Jiyeon keluar rumah dan pergi ke rumah Sehun.

 

 

Jiyeon berjalan di depan pagar. Beberapa tetangganya yang baru pulang kerja, melirik Jiyeon dengan tatapan curiga. Termasuk Pak Suho, seorang pemilik toko yang menjual alat-alat masak dan perabotan rumah tangga yang tinggal di depan rumah Sehun. 

 

“Kenapa ngintip-ngintip rumah orang aneh itu malam-malam begini ?”  tanyanya kepo.

 

“eh..itu…anu…”

 

“Anu apa..?” tanya Pak Suho dengan mata jelalatan Bibirnya bergerak menyan menyon seperti sedang mengunyah risol. 

 

“Anu Pak Suho, saya hanya memastikan lampu di rumah Pak Sehun apa di putus ya dari PLN, kok gelap-gelapan ?”

 

Pak Suho ikut-ikutan melongok ke dalam rumah Sehun. Ugh, sialan! kepergok tukang perabot. Batin Jiyeon kesal. 

 

“Orangnya kemana ?” tanya Pak Suho sambil melirik Jiyeon.

 

“Kayaknya pergi. “

 

“Tapi mobilnya ada.”

 

“Kalau begitu dia perginya tidak naik mobil. “jawab Jiyeon.

 

“Apa kamu yakin ?” 

 

“Tidak yakin, Pak Suho.” jawab Jiyeon.

 

“Bagaimana kalau dia perginya naik motor.”

 

“Mungkin saja.”

 

“Tapi apa dia punya motor ?” Pak Suho pura-pura berpikir.

 

“Mungkin saja, Pak Suho.”

 

“Tapi apa dia bisa naik motor ?”

 

“Tidak tahu, Pak Suho.” 

 

“Kamu tidak tahu terus.”

 

“Saya memang tidak tahu Pak Suho.”

 

Pak Suho mendengus. Dia bingung kenapa malam-malam begini ribut di depan pagar rumah orang. Lalu berhentilah sebuah mobil di dekat mereka. Sopirnya melongok keluar jendela. 

 

“Ada apa kalian di situ ?”  tanya Oom Taeyang, dia seorang sales executif sebuah perusahaan otomotif di daerah Gangnam. 

 

“Kami sedang main petak umpet. Kebetulan dia yang yang jaga, tapi curang ! jadi kami sedikit berdebat di sini” jawab Pak Suho sekenanya. Jiyeon membungkuk meberi salam.

 

“Malam, Oom !” sapa Jiyeon.

 

“Eh, Jiyeon. Kamu kelihatan cantik malam ini. Mau ke mana ? ”  Oom Taeyang mulai terlihat ganjen. Dia turun dari mobil dan mendekati Jiyeon.

 

“Anu Oom..Saya tadi mau pergi ke Mall, tapi ga jadi. Dompet saya ketinggalan. Saya pulang dulu ya..”  Jiyeon berusaha untuk melarikan diri dari situasi aneh ini. Apalagi Oom Taeyang itu terkenal mata keranjang. Dia itu sangat suka sekali dengan gadis-gadis abege. Maklum dia belum punya istri. 

 

“Kenapa buru-buru?”  ujar Oom Taeyang menghadang langkah Jieyon.

 

Jiyeon melirik senyum aneh Oom Taeyang dengan risih. Aduh, Sehun kemana dirimu. Kenapa kau tidak menyelamatkan Jiyeon dari situasi parah ini ?

 

“Maaf Oom, Saya mau ambil dompet dulu !”  Jiyeon berusaha untuk menyingkirkan tangan Oom Taeyang

 

“Taeyang, kau jangan sembarangan sama anak perawan orang! nanti aku laporkan ke Pak RT. Jongin, kalau kamu masih kegatelan kayak gitu !”  ujar Pak Suho dengan tatapan garang. Syukurlah Pak Suho membantunya. Tapi tiba-tiba ada sebuah cahaya dari lampu senter yang menerangi wajah Taeyang. Lampu itu berasal dari dalam pagar.

 

Sehun ! teriak Jiyeon dalam hati. Dia sangat senang laki-laki itu muncul. Dengan wajah dinginnya dia berdiri menatap Taeyang. Sementara lampu senternya masih mengarah ke wajah Taeyang.

 

Taeyang berusaha menutupi cahaya itu dengan tangannya. 

 

“Apa-apan ini !”  dia terlihat kesal.

 

“Jangan ribut di depan rumahku !” ujar Sehun dingin. Dia menatap Taeyang tidak suka.

 

Jiyeon langsung bersembunyi di belakang Sehun. Dia mendapatkan rasa aman di belakang laki-laki itu.

 

“Jiyeon !” panggil Taeyang.

 

“Pergi dari sini !” usir Sehun galak. Dia memancarkan tatapan mata yang sadis, bengis, dan kritis .

 

“Pergilah Taeyang !”  ujar Pak Suho yang menvoba untuk menenangkan Taeyang. Dia mengandeng Taeyang agar naik ke mobilnya lagi. Sementara mata Taeyang masih terpusat pada Sehun yang masih mengarahkan senternya ke wajahnya. 

 

Pak Suho pun kembali ke rumahnya. Lalu ketika semua sudah pergi dan menghilang, Sehun menoleh ke arah Jiyeon.

 

“Kenapa kamu ke sini ? Aku sudah bilang aku yang akan menjemputmu kan.” 

 

“Tapi lama.”  Jiyeon terdengar manja. Sehun tersenyum diam-diam.

 

“Belum apa-apa sudah kangen.  Ya Tuhan, kenapa Kau beri aku wajah yang tampan seperti ini kalau hanya untuk membuat yeoja di depanku ini tidak tahan merasakan kerinduannya.”  ujar Sehun dengan menengadahkan kepalanya ke atas. 

 

“Sehun, kau sudah minum obat ?”  tanya Jiyeon.  Sehun tertawa.

 

“Obatku habis.”

 

“Hm, pantas aneh !”  sahut Jiyeon.

 

“Ayo masuk !”  ajak Sehun kemudian. Dia menggandeng Jiyeon untuk memasuki rumah yang terlihat masih gelap itu.  Jiyeon merengut.

 

“Takut! ”  ujar Jiyeon 

 

“Tidak usah takut, kan aku bawa senter !”  ujar Sehun sambil menunjukkan senternya.

 

“Waaah, sentermu besar sekali !”  Jiyeon memegang senter Sehun.

 

“Masa sih ? Ini tidak terlalu besar, panjangnya hanya 8 inchi”  Sehun sedikit ragu.

 

“Iya. Bentuknya juga lucu !” Jiyeon tidak berani memegangnya terlalu lama. 

 

 

“Iya, sengaja aku kasih tambahan stiker hologram biar terlihat keren !”  tambah Sehun sambil tersenyum.

 

“Iya, ini keren sekali, aku sungguh terpukau !”

 

“Agh, aku jadi malu ! kau tidak usah memuji senterku seperti itu.”  Sehun meringis didepan Jiyeon.

 

“Tidak apa-apa!  aku jarang memuji senter orang!”

 

“Jadi senterku adalah senter pertama yang mendapatkan pujianmu ?”

 

“Sepertinya begitu.”

 

“Aku sangat terharu sekali !”

 

sebenarnya mereka ngomong masalah apa sih ?  SENTER. ></ga penting banget !/

 

“Kenapa rumahmu gelap?”

 

“Konslet. Aliran listriknya putus sendiri. Tadi sikringnya meledak…doooaaarr! aku bingung, aku kotak kotik dari tadi tidak berhasil. Jadinya rumahku sekarang gelap.”

 

“Di mana letak sikringnya?”  tanya Jiyeon sambil berjalan bersama Sehun.

 

“Di ruang makan.”

 

“Apa kau punya sikring cadangan ?”

 

“Memangnya kau bisa memasangnya ?” tanya Sehun sambil mempersilahkan Jiyeon masuk ke rumahnya.

 

“Sedikit. “

 

“Aku tidak punya sikring cadangan. ”  jawab Sehun.

 

“Apa kau punya kabel tembaga ?” 

 

“Kabel apa ?” 

 

“Agh, sudahlah !”  Jiyeon kemudian dibimbing-untuk ke ruangan makan. 

 

“Itu di situ !” tunjuk Sehun.

 

“Mana tangganya ?”  tanya Jiyeon kemudian.

 

sehun mengambilkan tangga dan meletakkannya di depan sikring yang letaknya tiga meter di atas lantai. 

 

“Apa kau yakin ?”

 

“Kau sudah putuskan aliran listriknya dari MCB ?” 

 

“Sudah.” jawab Sehun. Lalu Jiyeon naik untuk meraih sikringnya itu. Dia mengambilnya dengan hati-hati,

“Sehun tolong pegangi ya , jangan sampai aku jatuh!”  Suruh Jiyeon lagi.

 

Sehun menuruti perintah Jiyeon dia memegangi kaki Jiyeon kuat-kuat. Jiyeon menjerit kaget antara rasa geli dan risih.

 

“Sehun, tangganya bukan kakiku !” teriak Jiyeon histeris.

 

“Oh maaf !”  ujar Sehun tanpa beban. Dia nyengir. Kesempatan !

 

Lalu beberapa menit kemudian Jiyeon sudah berhasil menyambung kabel sikring yang putus. Dan memasangnya lagi.

 

“Nah, sekarang coba nyalakan MCB nya !”  ujar Jiyeon menyuruh Sehun. Namja itu berjalan untuk menyalakan MCB nya. 

 

Terang.

 

Semua lampu menyala. Dan kini terlihatlah wajah Sehun yang sedang tersenyum ke arah Jiyeon. Aish, wajah itu membuat hati Jiyeon jadi longsor. 

 

“Kamu tadinya petugas PLN ya ?”  tanya Sehun asal.

 

“Aku banyak belajar saja. ” jawab Jiyeon.

 

“Ayo kita pergi ?”  ajak Sehun kemudian.

 

“Ke mana ?”

 

“Kita kan ada janji makan malam di luar.” ujarnya mengingatkan.  Tapi sepertinya Jiyeon sudah malas. Dia duduk di sofa dengan lemas.

 

“Aku capek! makan di sini saja.”  ujarnya sambil memperhatikan Sehun yang berjalan agak pincang mendekatinya. 

 

“Kakimu baik-baik saja ?”  

 

“Ya. ”  Sehun duduk di samping Jiyeon.

 

“Apakah sakit menggunakan kaki palsu ?”

 

“Pada awalnya sakit. Aku harus menyesuaikan bentuk keras dari bahan plastik ini dengan kakiku. Tapi lama-lama akhirnya terbiasa juga.”

 

Jiyeon tersenyum. Mereka bertatapan sebentar. Maksudnya Jiyeon sedang berusaha untuk menyampaikan isi hatinya lewat tatapan matanya untuk Sehun. Dia berharap Sehun menawarinya makan di sini saja ketimbang makan di luar. Tapi sepertinya dia harus lebih banyak lagi belajar tentang ilmu telepati. Sehun sama sekali tidak tanggab dengan maksud tatapan matanya yang ingin menyampaikan betapa laparnya perut Jiyeon saat ini.

 

“Kamu terlihat sedikit berbeda dari tadi pagi.”  Ujar Sehun ketika mengamati wajah Jiyeon.

 

“Jangan diliatin, aku malu !”  Jiyeon menutupi wajahnya.

 

“kenapa malu. Kamu cantik.”

 

“Eomma yang mendandaniku. ” 

 

Sehun kemudian berdiri. Dia menarik tangan Jiyeon untuk bangun dari duduknya. 

 

“Mau ke mana ?”

 

“Makan. Aku lapar.” ujar Sehun sambil menggandeng tangan Jiyeon ke dapur. Akhirnya !

 

 

Jiyeon melangkah di belakang Sehun. Dia terlihat tinggi sekali. Jiyeon merasa menjadi manusia liliput di belakang Sehun.

 

“Kebetulan aku tadi sudah menyiapkan makan malam, tapi aku tidak tahu apakah cocok dengan seleramu ?”

 

“Kamu masak ?” 

 

Sehun menggeleng. 

 

“Aku pesan dari restoran. Aku tidak bisa masak.”  Sehun mempersilahkan Jiyeon duduk

 

“Lalu kenapa kau tadi mau mangajakku pergi, kalau sudah menyiapkan ini ?”  tanya Jiyeon bingung.

 

“Cuma acting. ”  jawabnya singkat. Jiyeon melemparkan sepotong buncis ke arah Sehun. Dia  gemes sekali dengan namja ini. Kenapa di depan semua orang dia terlihat dingin dan angkuh, tapi kalau bersama Jiyeon, tingkahnya jadi menyebalkan seperti itu.  Sehun tertawa, dia membalas melempar Jiyeon dengan kacang polong dari piring yang berisi steik. Dan mengenai pipi Jiyeon. Ada noda saus tomat yang membayang di wajah Jiyeon. Sehun tertawa lagi.

 

 

“Satu sama !” ujarnya.

 

Jiyeon kemudian memakan kacang polong itu sambil menatap pada Sehun dengan tatapan sexy.

 

“Jangan menatapku seperti itu !”  ujar Sehun.

 

“Kenapa ?”

 

“Aku tidak tahan!”  ujar Sehun sambil menunduk malu-malu.

 

Jiyeon ikut tersenyum. Namja imut seperti dia lumayan keren dipamerkan ke teman kuliahnya. 

 

“Kau sudah lama mengamatiku ?”  tanya Sehun tiba-tiba. Hah! Jiyeon mendadak melotot. Apa maksudnya mengamatinya?

 

“Kau kan selalu duduk di balkon rumahmu untuk memata-matai aku kan !”   wajah Jiyeon semakin memerah.

 

“Aku tidak mengamatimu !”  sahut Jiyeon bohong.

 

“O, aku pikir kau mengamatiku, jadi aku salah waktu aku melihatmu malam itu saat aku membuka bajuku kau langsung menutup wajahmu. Berarti aku salah lihat. Mungkin itu Eomma-mu. ” 

 

“ya, mungkin Eomma-ku. ” Jiyeon menunduk. Dia semakin malu.

 

“Apa Eomma-mu tidak marah kau ke rumahku ?”

 

“Aku sudah minta ijin.” 

 

“Apa dia tidak menanyakan hal-hal aneh tentang diriku. “

 

Jiyeon jadi teringat kalau dia akan bertanya masalah Sehun.  

 

“Ya, banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, seperti tentang keluargamu, kenapa kau di sini sendirian, dan kenapa kau bersikap acuh pada lingkungan sekitarmu, lalu berapa umurmu, apakah kau anak pertama di keluargamu, apa kau baik, bagaimana tentang pekerjaanmu, dan apa posisimu , lalu berapa umurmu,….”

 

Sehun mengambil kertas dan pena. Dia memberikan semuanya pada Jiyeon.

 

“Catat semuanya di situ. Nanti akan aku isi! ”  ujar Sehun sambil tertawa.

 

Jiyeon merengut. Dia merasa Sehun sedang mengoloknya. Wajahnya terlihat manja jika sedang malu.

 

“Pertanyaanmu borongan. Kenapa tidak menanyakannya setiap kali kita akan bertemu nanti. Seperti misalnya, di hari ini, kau menanyakan, siapa namamu…lalu kau menjawab, O, namaku Oh Sehun.  Lalu besok saat kita bertemu lagi, kau bertanya lagi, Kau bekerja di mana ?  lalu aku menjawab, O aku bekerja di perusahan Layar Gantung Entertainment, sebuah perusahaan periklanan terkenal di Seoul.  Lalu besok kita bertemu lagi, kau bertanya lagi, Berapa umurmu, lalu aku menjawab, umurku dua puluh tiga tahun….”  Sehun berhenti ketika melihat Jiyeon menguap. 

 

 

Gadis itu menggigit bibirnya. Dia memperhatikan Sehun yang cerewet menjelaskan tata cara memberikan pertanyaan yang benar./menurut dia/ tapi Jiyeon hanya meringis pada akhirnya.

 

“Sebaiknya aku pulang dulu. “

 

“Hei ! kenapa buru-buru ? ” Sehun mencoba untuk menahan Jiyeon.

 

“Aku tadi hanya ijin sebentar. “

 

“Apakah kita besok bertemu lagi ?”  

 

“Mudah-mudahan kalau sudah sembuh cerewetmu. Oh iya, jangan lupa ke dokter lagi untuk minta resep obat !”  Jiyeon melambaikan tangannya tanpa menoleh.

 

Ough, gadis itu benar-benar luar biasa. Pikir Sehun.  Dia tersenyum senang. Akhirnya dia bisa mengatakan pada ong tuanya sekarang kalau dia sudah punya calon pendamping. Senyum Sehun bertambah lebar.

 

 

***

 

 

Lalu keesokkan harinya, berita itu menyebar ke penjuru kompleks dengan cepat. BAhwa Jiyeon sekarang pacaran dengan orang aneh itu. 

 

What !  Kenapa semua mata meliriknya dengan tatapan menghukum. Apa-apan ini ?  Jiyeon baru saja keluar dari pagar , dia berjalan serba salah diperhatikan beberapa orang yang berpapasan dengannya. 

 

“Kenapa mereka menatapku seperti itu ?” 

 

Jiyeon masih sibuk dengan pikirannya sendiri saat sebuah suara memanggilnya. Dia menoleh dan melihat Taeyang melongok dari dalam mobilnya. Dia merapatkan mobilnya di sisi Jiyeon. Gadis itu tidak berhenti, dia justru semakin cepat berjalan.

 

“Jiyeon !” panggil Taeyang lagi..

 

“Maaf, Oom!  Jangan ganggu saya.”  ujar Jiyeon memohon.

 

“Apa aku terlihat sedang mengganggumu ? aku hanya sekedar menawarkan padamu, apa kau mau bareng deganku. Aku bisa mengantarmu sampai ke kampus.”  Taeyang semakin mendekati Jiyeon saat dia keluar dari mobilnya.

 

“Oom, kenapa tidak duluan saja, Saya sedang menunggu seseorang.”  Jiyeon melirik ke arah rumah Sehun. Kelihatannya namja itu sudah keluar dari rumahnya, dia sedang membuka pagar untuk mengeluarkan mobilnya. 

 

Jiyeon buru-buru berlari ke arah Sehun.

 

“Sehun Oppa !”  panggil Jiyeon manja.

 

“Heh, kenapa Jiyeon ?”   Jiyeon tidak menjawab. Dia hanya melihat ke arah Taeyang.

 

“Apa dia mengganggumu lagi ?”  tanya Sehun  kemudian. Dia berusaha untuk melindungi Jiyeon di belakangnya ketika Taeyang mendekat. Sepertinya persoalan semalam belum selesai. Taeyang masih terlihat geram dengan Sehun.

 

“Kenapa kau lebih memilihnya ketimbang aku?  Laki-laki itu kurang perkasa. Apa kau tidak melihat warna kulitnya yang pucat ? berdiri di panas matahari semenit saja aku jamin hidungnya pasti mimisan !”  Taeyang seperti sedang memprovokasi Sehun. 

 

“Jangan begitu Oom !  Sehun Oppa tidak seperti yang Oom pikirkan !” ujar Jiyeon membela Sehun.

 

Taeyang mendesah. Dia terlihat kesal sekali.

 

“JIyeon, berhentilah memanggilku Oom !  Umurku belum empat puluh tahun, mengerti!”

 

“Maaf Oom !”  ujar Jiyeon . Mau tidak mau Sehun menahan senyumnya.

 

“Heh apa kamu senyum-senyum !  Persoalan kita semalam belum selesai, jangan sok keren kamu di depan Jiyeon !”  Taeyang sepertinya sudah terlalu emosi.  Tiba-tiba Pak Suho keluar dari rumahnya, dia sedang berbicara di line ponselnya.

 

“Hallo…Hallo, Pak Erte, di depan rumah saya ramai sekali Pak Erte, ada keributan !” ujarnya dengan keras.

 

Sehun melirik ke arah Pak Suho yang dengan serius memicingkan matanya melihat pada tiga orang di depan rumahnya.

 

“Di depan rumah Saya, bukan rumahmu !”  seru Sehun keras. 

 

“Baik Pak eRTe!”  

 

Lalu dia mendekat ke arah  Sehun, Taeyang dan Jiyeon.

 

“Saya sudah laporkan pada Pak eRTe. Lihat saja nanti !”  Ujarnya bangga. Hih! kenapa sih nih orang pengaduan. Pikir Jiyeon berat.

 

“Pak Suho, Jangan ikut campur urusan kami !”  hardik Taeyang.

 

“Tidak. Aku hanya mau menonton. Silahkan lanjutkan lagi !”  ujarnya santai.

 

Jiyeon geleng-geleng kepala.

 

“Sampai di mana kita tadi ?”  tanya Taeyang pada Sehun.

 

“Aku keren. ”  ujar Sehun.

 

“Hhh!  jangan sok keren kamu di depan Jiyeon !”  lanjut Taeyang.

 

“Dia memang keren.” ujar JIyeon sambil tersenyum pada Sehun.

 

“Terima kasih, Jiyeon !”  sahut Sehun manis. 

 

Hal itu membuat Taeyang bertambah emosi. Dia ingin menarik lengan Jiyeon namun Sehun menahannya. Dia tetap melindungi Jiyeon di belakangnya.

 

“Jangan menyentuhnya !”  Hardik Sehun dengan mata yang tajam.

 

“Memangnya dia milikmu ?”  Taeyang bersikukuh untuk menarik Jiyeon.

 

“Sudah kubilang jangan menyentuhnya !”  hardik Sehun sambil mengepalkan tinjunya ke muka Taeyang. Lalu namja berkulit eksotis itu jatuh di atas aspal secara dramatis. Dia tersungkur, lalu terguling dan terduduk, tapi akhirnya terlentang. Sehun tidak percaya bahwa dia bisa memukul Taeyang hingga terjengkang seperti itu, padahal kalau dipikir-pikir, tubuh Taeyang ….ya, seperti itulah.

 

“Lho ada apa ini…ada apa ini ?”  Tiba-tiba muncul seorang laki-laki dengan sepedanya. Pak Suho langsung menyambutnya.

 

“PAk eRTe Jongin. Mereka berkelahi!” ujarnya antusias.

 

“Kenapa bisa berkelahi ?”  Pak eRTe Jongin melepaskan kaca mata hitamnya lalu memeriksa kondisi Taeyang yang tersungkur di aspal.

 

“Dia sudah tidak sopan pada Jiyeon, Pak eRTe. ” Jawab Sehun duluan.

 

Pak eRTe Jongin melihat ke arah Sehun. 

 

“Kamu siapa ? kenapa aku belum pernah melihatmu ?”

 

“Saya Sehun Pak eRTe, Saya tinggal di sini.”

 

“Nama kamu belum ada di catatan saya. Kamu belum tercatat sebagai warga saya. Sudah berapa lama kamu tinggal di sini ?”  Pak Jongin terlihat galak .Hidungnya kembang kempis menatap Sehun. Dia meninggalkan Taeyang yang mulai berdiri.

 

Sehun terlihat gugub. Dia selama ini memang belum pernah melaporkan apapun tentang dirinya pada eRTe Jongin. 

 

“maafkan Saya, Pak! Saya berjanji akan ke rumah Pak eRTe untuk melapor, Pak!”

 

“Lalu kenapa sampai begitu ribut kalau hanya masalah Jiyeon.”  Pak Jongin melihat ke arah Jiyeon.

 

“Selamat pagi Pak Jongin !” sapa Jiyeon.

 

“Hm, Pagi !”  balas Pak Jongin dengan sedikit galak. Jiyeon merengut.

 

“Pak eRTe, apa Anda tidak akan mengusir orang aneh ini dari lingkungan kita ?”  Taeyang seperti memberi angin untuk emosi Taeyang. Tapi sayang sepertinya angin berubah arah.

 

“Taeyang ! Sebenarnya kamu mengganggu Jiyeon ? Apa tidak ada yeoja lain untuk kau jadikan istri ?”  Pak Jongin menghadap ke arah Taeyang.

 

“Masalahnya bukan itu Pak eRTe, masalahnya itu Sehun. Dia sudah memperdayai Jiyeon ,Pak !”

 

“Pak Taeyang yang terhormat, sebaiknya Anda berangkat kerja saja dari pada terus membuat keributan di sini. Saya tidak melihat ada hal yang salah pada Pak Sehun dalam kasus ini. Satu-satunya kesalahannya adalah karena dia tidak pernah bergaul dengan para tetangga di sebelahnya. Itu saja. Dan masalah tentang Jiyeon dan Sehun sebenarnya itu bukan urusan kita. Kalau mereka mau pacaran, itu kan hak mereka. Betul kan Pak Suho !”  

 

“Betul Pak eRTe !” jawab Pak Suho setuju.

 

Taeyang mendengus sambil menatap Sehun. Dia masih belum menerima keputusan ini. Dia masih menyimpan dendam untuk Sehun, tapi akhirnya dia berlalu, karena semua mata seolah-olah menghakiminya. 

 

Suasana pagi yang ribut cukup membuat wajah-wajah segar mereka jadi keringetan. Apalagi Pak eRTe Jongin yang kelihatannya habis berolah raga keliling komplek degan sepedanya. 

 

“Terima kasih Pak eRTe ! ” ujar Sehun sambil bersalaman.

 

“Ya, sama-sama Pak Sehun. “

 

“Saya sebaiknya permisi dulu Pak eRTe ! saya mau berangkat ke toko saya.”  Pak Suho pun ikut mengundurkan diri.

 

“Ya, Pak Suho. Terima kasih karena sudah melaporkan tentang kejadian ini !” ujar Pak Jongin sambil membungkuk.

 

Lalu dia melihat ke arah Sehun lagi.

 

“Sebaiknya kau segera ke rumahku untuk mencatatkan identitasmu padaku. Mengerti !”  Pak eRTe memberi ultimatum.

 

“Baik Pak!”  jawab Sehun singkat. Dia tersenyum. Sementara itu Jiyeon hanya berdiri di sisi Sehun dengan lega. Akhirnya semua masalah beres.

 

Pak Jongin pamitan dan berlalu dengan sepeda BMX nya. 

 

Dan sekarang tinggalah Jiyeon sendiri bersama Sehun. Mereka bertatapan sebentar lalu tersenyum. 

 

“Kau mau aku antar ke kampus ?”  tanya Sehun kemudian . 

 

“Boleh.”  Jiyeon tersenyum. 

 

Sepertinya pagi ini terlihat begitu indah di mata mereka berdua. Udaranya bersih, anginnya lembut, langitnya bagus dan di tambah lagi ada Sehun di sisinya. Jiyeon melirik sebentar ke arah Sehun yang sedang menyetir mobilnya dengan senyum yang tak kalah manisnya.

 

“Jiyeon, nanti malam kita makan malam berdua lagi ya !”  ajak Sehun kemudian.

 

Jiyeon tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan tersenyum dan tersenyum. 

 

 

 

 

 

end

 

 

 

 

a/n

 

Nah, udahan ya ! 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

32 thoughts on “MASTER HUN [ Chapter – 2 ]

  1. wanjierrrrrr ngukuk guling” 😀
    hahaahahahaaha bayangin pak erte pake spedah BMX xD
    saoloh authorny bikin perutku mules ktawa mulu :v

  2. Ff nya gokil bnget thorr,,
    smua.a pda somvlakk tpi jjur ni ff keren, tpi masih gantung thor
    klo bleh sih minta sequel nya dong thorr

    O.k
    see you 🙂

  3. aku ketawa dulu bwahahahahahahahaha 😀
    sumpah gokil bgt thor hahaha 😀 apalagi wktu si taeyang jatuh tersungkur , terguling dn terlentang haha 😀 trus hidung pak jongin kembang kempis 😀 huhh bikin muda ni ff
    oya yg wkt di rumah sehun si sehun nyuruh jiyeon nanya satusatu kaya’a itu udh di jawab sm sehun tanpa harus ktemu tiap hari ato bang sehun lg modus wkwk ..
    yang ttg senter aku ngerti ko agak menjurus ke situ ato jgnjgn emg itu yg lg di omongin hunji ? ahhh pokonya ini berhasil bikin aku ketawa 😀

  4. bwahahahaha sumpah ngakak …. pas bayangin sehun mengarahkan senter ke arah taeyang…

    dan pas taeyanh berantem di pagi hari berhasil mengacak isi perut ini…..

    bwahaha walau agak gaje… tapi keleeennnnnn ….. ngakakkkklkk

    • Hahaha.. Maat yg ini baru terdeteksi.. Sebenernya kalo lebih di simak lagi..pembicaraan mazalah Senter antara Jiyeon dan Sehun itu agak menjurus.. Hahaha.. Kayaknya ga ada yg ngeh di situ..hehehe.. Ah tapi sudahlah..aku baca lagi ff q yg itu, kok ya jadi ketawa ngakak juga../mikir keras/ knapa bisa bikin epep somplak kayak gitu maksudnya Makasih ya Mhila !.

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s