Vagueness

Vagueness

Terlalu samar untuk diidentifikasi; sebuah ketidakjelasan.

.

a ficlet fiction by ghivorhythm

EXO’s Chanyeol and You in Hurt/Comfort and Romance story

.

 

Anggaplah ini hanya perasaan tak mendasar, dimana aku merasa nyaman ketika berbincang denganmu, ketika bertukar canda denganmu, bahkan ketika aku berada di sampingmu. Aku tak sepenuhnya berpikir bahwa aku menyukaimu, tidak dalam artian suka antar lawan jenis. Mungkin, aku menyukaimu sebagai…teman?

Tak pernah diriku berpikir bahwa nantinya kita akan menjalin hubungan berlabel pacaran. Membayangkan kau menggombaliku dengan sejuta rayuan saja sudah membuatku tertawa geli saking tak habis pikirnya. Kau jauh lebih cocok dengan kepribadianmu yang seperti ini. Kau yang humoris, kau yang pandai omong, kau yang cerdas, dan kau yang mampu mengeliminasi kesedihan di hatiku—menggantinya dengan warna-warna cerah yang merangsang cengiran kelewat lebar di bibirku.

 

Atau mungkin, ini semua hanya bentuk sanggahanku?

 

Sebut saja aku haus akan kasih sayang. Tak akan kuelak bila kalian mengataiku ‘tukang cari perhatian’, selama perhatian yang kucari adalah perhatianmu. Entah dorongan macam apa yang membuatku ingin selalu mendapat atensimu. Entah ini memang naluriah atau hanya keegoisan semata, namun aku ingin kau—untuk tetap bersamaku.

Aku bukanlah seorang broken home. Aku punya ayah dan ibu yang baik, dan sebagai pelengkap aku punya seorang kakak laki-laki yang tak mengacuhkanku. Sungguh, kakakku itu sangat berbeda denganmu. Kau selalu mengajakku bersenda gurau, tapi dia? Layaknya hobi, ia senang sekali mengajakku berperang. Apa pun bisa ia jadikan bahan, mulai dari hal sepele nan tidak penting hingga hal rumit sekalipun. Walau begitu, dia tetap kakakku, kan?

Mungkin sebuah doa akan kupanjatkan malam ini. Aku ingin meminta pada Tuhan agar membatalkan skenario dimana kau akan berhenti mengajar di kelasku. Sebagai pengganti, akan kubuat skenario yang jauh lebih manis. Atau mungkin, lebih sesuai dengan keinginanku?

 

Tapi ternyata, Tuhan tak mengabulkan doaku.

 

Kau tak lagi mengajar di kelasku, bukan berarti kau berhenti mengajar sih. Aku masih bisa menemuimu seusai jam belajar, cukup menyenangkan ternyata. Karena aku akan sengaja lambat-lambat keluar dari kelas, hanya agar aku bisa menuruni anak tangga bersamamu.

Kurang lebih 67 langkah, lalu kau akan berhenti di lantai dua, tempat ruang guru berada. Kemudian aku akan tetap menuruni anak tangga meskipun sendirian, tak lupa ucapkan ‘goodbye’ padamu. Sebagai penutup, kita akan saling melambaikan tangan, berharap lusa akan bertemu lagi. Mungkin bagian terakhir hanya untukku.

Sesungguhnya aku masih tak rela. Menyaksikan bukan sosokmu yang duduk di kursi empuk itu mengingatkanku akan hari-hari yang lalu. Kalau boleh jujur, aku sangat rindu sosokmu dengan kemeja putih, jins hitam serta sneakers merah yang keberadaannya sering kukomentari. Ah, memutar memori memang menyenangkan.

 

Kemudian, suatu saat, aku sadar. Kau baru saja mengajarkanku, bahwa perpisahan tak mesti selalu diliputi kesedihan.

 

Karena toh, walaupun pertemuan kita tak lagi seintens dulu, aku masih bisa bertemu denganmu. Kau juga masih mampu mengukir cengiran di wajahku, omong-omong.

 

Dan ketika aku mendongengimu dengan ketidaksukaanku terhadap guru pengganti dirimu, kau kembali mengucap guyonan—yang entah mengapa baru kusadari di dalamnya terselip sebuah nasihat.

Secara tidak langsung, kau menyuruhku untuk menutup segala pandangan burukku, memintaku untuk mengubah hal-hal yang kubenci itu menjadi kumpulan candaan yang mampu meningkatkan mood-ku. Well, kau selalu memahamiku.

 

Kemudian, hari terus berganti. Pagi menjemput malam, dan malam menjemput pagi. Hari kelulusanku pun sudah di depan mata.

Kau mengucap selamat, menjabat tanganku begitu hangat. Kemudian, ada seringai licik di bibirmu. Kau mulai mengacak-acak gemas rambutku, dan selanjutnya aku tahu, inilah waktu dimana aku akan benar-benar berpisah denganmu.

 

Perpisahan itu tak mesti selalu diliputi kesedihan, hanya identik dengan kesedihan.

 

Sekotak kasih sayang telah kusiapkan untukmu. Yah, kenang-kenangan agar kau tak lupa padaku di kemudian hari. Sebisa mungkin kupenuhi otakku dengan hal-hal positif yang bisa kudapatkan setelah acara kelulusan ini berakhir. Namun sial, bahkan di akhir acara, kau kembali muncul di hadapanku.

 

Aku tahu kau lebih tua dibandingkan diriku.

 

Aku tahu kau lebih dewasa.

 

Aku tahu kau jauh lebih tahu pahit manisnya dunia ini.

 

Perbedaan di antara kita terlalu kentara.

 

Hanya saja, bila aku bisa memohon apa pun di menit-menit terakhir ini, aku ingin memelukmu.

 

Kini kau telah menjadi kenangan. Berubah jadi masa lalu. Kemudian, aku harus mengucapkan selamat datang pada masa depan yang telah melambai kelewat semangat padaku.

 

Terima kasih atas segalanya, Chanyeol-ssi.

 

Dan..

 

Selamat datang, Jongin! Semoga kau tak akan bosan berkeliaran di dalam hidupku.

 

 

 

 

fin.

 

 

p.s: pasti kalian pada bertanya tanya kenapa tetiba jongin nongol diakhir kan? Well well well, mungkin ada sequel ya? Haha.

Maaf buat cerita yg absurd atau barangkali ngga nyambung sama judulnya.. diriku masih berusaha menumpas wb guys…

Mind to review?

5 thoughts on “Vagueness

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s