[Oneshoot] Cinderella’s C&K High Heels

req-angelina-liem

 

 

Tittle : Cinderella’s C&K High Heels
Author : Angelina Liem
Poster : Arin Yessy
Main CastBTOB’s Peniel a.k.a Shin Dong Geun
Apink’s Yoon Bo Mi
Support castApink’s Son Na Eun
Infinite’s L a.k.a Kim Myung Soo
Rainbow’s Cho Hyun Young
Kim Ji Won
Others
Genre : Romance, School-life, Angst
Rate : PG13/NC17
Length : Oneshoot

Happy reading! After read please comment/like 🙂 Don’t be silent reader (sider) or plagiarist! Thankyou :*** /kiss/


“Where you go, I can find you”–Shin Dong Geun

 

WHAT???! Sweet seventeen-nya Hyun Young lusa?!” pekik Bo Mi pada Na Eun, sahabatnya. Na Eun sampai tutup telinga sambil mengelus dadanya karena kaget. Beruntung kondisi rumah Bo Mi sepi dan kamar Bo Mi cukup kedap suara karena 2 sisi dindingnya dilapisi karpet tipis.

“Kenapa baru bilang sekarang, Na Eun?” protes Bo Mi sekaligus menegur halus.

“Aku juga baru tahu tadi, Bo Mi… Err” balas Na Eun malas.

Bo Mi berdecak lalu segera berdiri dari ranjangnya menuju ke rak kumpulan high heels shoes-nya. “Na Eun, hari ini kamu free kan?”

Why?” Na Eun mendongakkan kepalanya dari novel yang dia baca.

“Temani aku cari heels buat sweet party-nya Hyun Young” jawab Bo Mi antusias dan tersenyum lebar menunjukkan gigi-gigi rapinya.

Na Eun memutar bola matanya. “Itu masih banyak yang bagus” Na Eun menunjuk rak high heels shoes Bo Mi yang berada di sudut kamar dekat pintu kamar dengan dagunya lalu kembali pada novelnya.

“Tidak mau, itu semua sudah sering aku pakai. Ayolah~” rengek Bo Mi sambil menarik lengan Na Eun.

“Bo Mi, berhematlah sedikit. Heels-mu masih bagus semua dan layak pakai. Lihat, seperti baru kan?”

“Tapi teman-teman sudah banyak yang tahu semua koleksianku ini. Sudah sering aku pakai”

“Semua? Satu rak itu? Sering kau pakai?” tanya Na Eun heran tak percaya. Dia sampai menutup novelnya setelah ia membatasi halaman yang dia baca dengan pembatas buku.

Bo Mi mengangguk cepat. Na Eun menggeleng.

“Mereka tidak mungkin hafal dengan semua koleksian heels-mu, Bo Mi. Pakai saja lagi heels yang sudah sangat lama belum kamu pakai, mereka tidak akan ingat kau pernah memakainya” saran Na Eun.

Lagi-lagi Bo Mi membantah. Terjadi perdebatan kecil antara kedua sahabat itu dan akhirnya dimenangkan oleh Bo Mi yang artinya mereka pergi ke mall untuk hunting heels.

Seperti para wanita umumnya, mata Bo Mi dan Na Eun dapat menangkap tulisan ‘promo’ atau ‘diskon’ atau ‘sale’ dengan cepat seperti kecepatan cahaya. Dan tempat dimana tulisan itu berada pasti biasanya akan ramai karena banyak konsumen yang umumnya wanita itu pasti akan berbondong-bondong ke sana. Berujung pada staff toko tersebut yang kelabakan mengurus konsumen yang seperti rebutan sembako.

“Dimohon, pengunjung Charles and Keith untuk bisa tenang, stock di gudang masih banyak. Tidak perlu berebut dan bisa antri di kasir dengan rapi. Terimakasih” kata supervisor cabang toko C&K tersebut dengan sopan dan ramah. Pengunjung menurutinya, termasuk Bo Mi dan Na Eun.

Mereka berdua lebih sibuk melihat-lihat di bagian sepatu, terutama high heels. Mata keduanya seolah mengeluarkan binar-binar bintang di langit malam. “Jarang C&K diskon besar-besaran kayak gini, apalagi barang yang diproduksi kali ini unik” ucap Bo Mi antusias sambil mencoba sepasang high heels berwarna navy methalic dengan permata swarovski yang tersusun rapi menempel pada bagian tumit. Bentuk high heels itu tidak tertutup, menampakkan jari kaki Bo Mi yang cantik dengan kuku berwarna tosca. Bagian tengah heels-nya juga terbuka dan hanya dikaitkan dengan tali selebar 2cm untuk diikatkan pada pergelangan kaki.

“Benar. Aku jadi mau beli juga. Mumpung diskon kan?” balas Na Eun. Ia juga mencoba sepasang heels berwarna maroon beludru dengan hiasan tali-tali yang saling mengait. Secara sepintas heels tersebut seperti sandal kasut dengan model heels. Dan heels-nya sendiri bening dengan alas sepatu warna emas.

Sungguh, keduanya memilih high heels shoes yang sangat bagus. Mampu membuat iri gadis remaja lain karena memang modelnya sangat trendy, unique, dan terkesan muda.

“Kita tidak ke butik sekalian?” tanya Na Eun ketika melewati salah satu butik langganannya setelah membeli high heels shoes di C&K.

Bo Mi menggeleng. “Kalau dress aku sudah siap hehehehe”

“Iya itu kamu, bukan aku. Ayo sekarang giliran kamu yang temani aku beli dress” Na Eun menarik lengan Bo Mi untuk mengikutinya.

-o0o-

 

Hari ini aku dan Na Eun berjalan memasuki ruang resepsi ulang tahun Hyun Young dengan percaya diri yang plus plus plus. Mata teman-teman perempuan kami menatap kami dengan takjub, terutama pada sepatu yang kami pakai.

“Hei, kalian berdua tidak berlebihan? Kalian hampir mengalahkan penampilan Hyun Young, padahal yang punya acara dia” tegur Ji Won, salah satu teman sekelasku. Dia memang sedikit sensi denganku, entah kenapa.

Aku menoleh jengah. “Dalam undangan ditulis dresscode berwarna gelap kecuali ungu ‘kan? Berarti pakaian kami tidak salah karena kami tidak memakai warna ungu dan tetap memakai dress warna gelap” balasku santai. Dress-ku berwarna hitam, mini, lengan you-can-see, dan backless. Sedangkan Na Eun, memakai mini dress abu-abu lengan panjang dengan leher yang rendah dan V-neck yang sangat mepet dengan belahan dadanya.

Ji Won mengatupkan rahangnya kesal lalu pergi dari hadapanku. Aku tersenyum puas. Jadi aku tidak perlu berdebat lebih banyak lagi dengannya. Mana mungkin dengan dandannya yang sudah cantik, datang ke pesta orang, malah harus ribut gara-gara orang sirik?

“Bo Mi, Na Eun! Omo… kalian cantik sekali malam ini. Huaaa~” seru Hyun Young yang tiba-tiba ada di sebelahku.

Aku menoleh kaget. “Wah, kau juga cantik, Hyun Young. Happy birthday, sweety!” ucapku tulus sambil memeluknya.

“Kau berlebihan, Hyun Young. Lihat, dirimu juga sangat cantik! Happy born-day! Selamat umur berkurang satu! Hahaha” susul Na Eun sambil memeluk Hyun Young juga.

Thanks, Girls!” balas Hyun Young senang. “Have fun dengan pestaku ya. Sebentar lagi pesta dimulai, aku kesana dulu” pamitnya sambil menunjuk seorang perempuan dengan pakaian serba hitam yang rapi. Pasti crew event organizer.

Okay. Kita pasti nikmati pesta berhargamu ini. Kado untukmu sudah kami titipkan di EO” jawabku antusias sambil mengedipkan sebelah mata.

“Cieee yang lagi senang sebentar lagi punya KTP hahaha” goda Na Eun. Hyun Young hanya tertawa lalu pamit lagi untuk menuju ke crew EO tadi.

-o0o-

 

Di sudut ruangan, agak jauh dari Bo Mi dan Na Eun, ada dua anak laki-laki sedang mengobrol dan bercanda. Mereka adalah teman SMP Hyun Young yang masih akrab sampai sekarang karena mereka dulu adalah teman dekat kala SMP.

“Lihat dua gadis yang sedang bicara dengan Hyun Young” kata Myung Soo sambil menunjuk kea rah Bo Mi, Na Eun, dan Hyun Young dengan dagunya. Tangannya ia masukkan dalam kedua saku celana jeansnya.

“Kenapa memang?” tanya Dong Geun heran.

Pretty” jawab Myung Soo singkat lalu tersenyum. Pandangan matanya tetap tertuju pada ketiga gadis itu, terutama pada Na Eun.

“Sepertinya mereka bertiga cukup akrab. Nanti minta tolong Hyun Young kenalkan”

Dong Geun menoleh ke Myung Soo cepat. “Kau serius? Kau benar-benar tertarik dengan mereka?”

Myung Soo mengangguk yakin tanpa menoleh. Matanya masih tertuju pada fokus yang sama seperti sebelumnya. “Tapi bukan mereka, cuma satu yang wajahnya kalem” Myung Soo tersenyum tipis ketika mengucapkan ‘kalem’.

Dong Geun menoleh cepat ke arah gadis yang Myung Soo maksud. “Aku lebih suka yang satunya, sangat imut”

Myung Soo terkekeh pelan.

“Eits, jangan salah paham dulu. Maksudku cuma suka wajah cantiknya saja bukan definisi suka seperti yang ada dalam otakmu. Aku tahu pikiranmu, Myung Soo!” sergah Dong Geun buru-buru melihat reaksi Myung Soo.

Myung Soo terkekeh lagi. “Biasa saja lah. Over! Aku tidak mikir apa-apa kok. Ketahuan kau salting hahaha”

“Myung Soo!” seru Dong Geun sambil mengepit leher Myung Soo dilipatan sikunya.

“Aaak, aak! Yha! Lepaskan! Sakit, bodoh!” pekik Myung Soo kesakitan tapi Dong Geun malah mempererat lipatan sikunya. “Aaak! Aaak! Dong Geun!!!”

-o0o-

 

Pesta ulang tahun yang ke 17 pun berjalan. Di tengah acara, ada suatu game yang EO adakan untuk memeriahkan pesta. Salah satunya game gigit jepit. Permainan ini harus berpasangan, perempuan-laki-laki. Jepit jemuran baju akan dijepitkan pada dress si perempuan dan si laki-laki harus mengambil jepit-jepit tersebut dengan gigi alias menggigitnya. Kebetulan salah satu pasangan yang terpilih adalah Bo Mi dan Dong Geun. Mereka terpilih berdasarkan undian nama yang sudah disiapkan Hyun Young bersama crew EO untuk sesi game. Jadi pesertanya sengaja dipilih secara acak melalui undian tersebut.

“Sudah, maju sana” perintah Na Eun. Bo Mi sedang menarik-narik tangannya karena malu untuk mengikuti game tersebut.

“Malu. Aku tidak kenal partner mainku. Na Eun, bagaimana ini?” rengek Bo Mi.

Na Eun memutar bola matanya. “Ya kenalan dong Bo Mi”

“Mana bisa segampang itu?!”

“Bo Mi, ayo maju” seru teman lain yang semeja dengan Bo Mi. Bo Mi mendengus kesal karena gara-gara teguran teman semejanya yang cukup keras itu membuat ia disoraki teman-temannya untuk segera maju.

“Cepat maju sebelum kamu lebih malu lagi karena dikira tidak sportif, Bo Mi” nasehat Na Eun.

Bo Mi membenarkan. Tapi bibirnya sedikit mengerucut. Dia sebal dengan Na Eun yang malah ikutan menyorakinya tadi. Dan disinilah ia sekarang, di atas panggung bersama 5 peserta game gigit jepit lainnya. Ada 3 pasang, 6 peserta.

“Nah, baik, peserta sudah lengkap, crew EO bisa memasangkan jepit-jepitnya dahulu” ucap sang MC dengan lihai dan senyum lebar. Sigap, 3 orang crew EO  menjepitkan 20 buah jepit baju pada dress yang dikenakan peserta perempuan tapi tidak di bagian-bagian rawan. #you know what I mean lah. Tidak dibagian yang hanya dimiliki wanita#

Setelah semua jepit sudah terpasang, MC kembali memimpin acara. Ia menjelaskan cara bermain dan aturan bermainnya. “Sudah paham ya? Kita mulai pada hitungan ketiga. Ingat, durasinya hanya 1 menit! Yuk dimulai, satu…dua…go!”

Serentak ketiga peserta laki-laki itu berusaha menggigit jepit-jepit pada tubuh peserta perempuan. Beruntungnya 2 pasangan lain itu adalah teman sekolah dan sialnya Bo Mi berpasangan dengan orang tak dikenal. Bo Mi berdiri mematung dan merasa jijik saat tanpa sengaja bagian wajah laki-laki itu menyentuh tubuhnya. Contohnya seperti rambut laki-laki itu yang menyentuh kulit lengan Bo Mi saat berusaha mengambil jepit di perut Bo Mi. Bo Mi sangat risih. Kakinya bergetar hebat karena grogi, malu, dan canggung. Wajahnya sedikit memerah karena malu. Berbagai sumpah serapah terlontar dalam hatinya.

Dengan pandangan memelas, Bo Mi menatap Hyun Young yang berada di meja VIP bersama orang tua dan keluarganya. Tatapannya seolah berkata ‘Tolong aku, Hyun Young, hentikan game ini. Aku sudah tidak tahan. Ini menjijikan!’

Hyun Young yang cukup dekat dengan Bo Mi dapat merasakan maksud tatapan Bo Mi dengan mudah. Apalagi Bo Mi sudah seperti hampir menangis walaupun ia tahan. Tidak mungkin kan dia menangis di depan umum hanya karena game seperti ini? Bisa-bisa Ji Won mengejeknya dengan puas setelah itu.

Hyun Young berdiri dari kursinya menghampiri MC lalu membisikkan sesuatu. Sang MC sempat tersenyum geli sambil menatap pasangan Bo Mi-Dong Geun lalu menuruti apa yang Hyun Young minta. Kemudian Hyun Young juga memberi tahu pada crew EO  yang menangani bagian game.

Okay, waktu habis!” seru sang MC. Bo Mi bernafas lega. “Tuan Muda yang disana, waktu sudah habis!” tegur MC sambil tersenyum.

Dong Geun tersentak kaget mendengar teguran MC, tuan muda yang dimaksud adalah Dong Geun. Karena kaget saat mau menggigit jepit di bagian tali dress Bo Mi, tanpa sengaja kepala Dong Geun membentur kepala Bo Mi. Bo Mi kehilangan keseimbangan dan terjungkal kebelakang.

GREB.

“Cieeeee!!!”

“Suit, suit!!!”

Berbagai sorakan muncul saat dengan sigap Dong Geun menangkap tubuh Bo Mi yang hampir terjungkal seperti pangeran yang menangkap tubuh sang putri dengan mengigit bunga mawar. Tapi ini menggigit jepit baju!

Pipi Bo Mi semakin memerah karena canggung dengan laki-laki di hadapannya dan malu dengan teman-teman sekolahnya. Beberapa detik saling menatap, sadar, Bo Mi segera bangkit melepaskan diri dari pegangan Dong Geun setelah sebelumnya ia berkata “Thanks”. Ia berdeham sekali untuk menghilangkan kecanggungannya lalu tersenyum sebelum ia hendak kembali ke mejanya.

“Nona cantik tunggu sebentar. Belum waktunya kembali makan, anda lapar?” goda MC saat mencegah Bo Mi turun panggung. “Makanan anda tidak akan kemana-mana, saya jamin. Pemenangnya kan belum diumumkan” lanjut MC sambil tertawa kecil.

Di tempatnya, Dong Geun berdebar hebat! Dia tidak menyangka takdir mempertemukan mereka semudah itu dan ia tidak menyangka dapat menyentuh Bo Mi. Padahal tadi sore ia baru saja mengagumi kecantikkan Bo Mi.

Bo Mi kembali ke sebelah Dong Geun karena disuruh MC. Dong Geun semakin berdebar, Bo Mi menjadi sedikit salah tingkah. Suasana cangguh menyelimuti mereka.

MC menghitung jumlah jepit yang berhasil digigit lepas dari dress perempuan. Dia tersenyum kecil lalu berkata “Pemenang game gigit jepit ini dimenangkan oleh….” Musik tegang diaminkan oleh pemain band yang disewa Hyun Young. “…pasangan kedua! Selamat kalian menjadi ju-a-ra…ke…tiga!” ucap sang MC. Lalu tertawa puas saat melihat perubahan mimik wajah dari pasangan kedua.

Peserta dari pasangan kedua menerima hadiah dari Hyun Young dan kembali duduk dengan wajah kecewa karena tertipu oleh MC. Dikira juara 1 ternyata 3.

MC kembali mengumumkan pemenang. “Selanjutnya, pasangan ke 3…” MC melirik kea rah Dong Geun dan Bo Mi. Mereka adalah peserta ke 3. “…kalian pemenang dalam game ini!!!” serunya lantang. “Otomatis, pasangan ke 1 juara 2. Silahkan Hyun Young bisa memberikan hadiahnya” lanjutnya.

Bo Mid an Dong Geun saling bertatapan bingung. Jumlah jepit mereka lebih sedikit dari yang lain. Kenapa…?

“Sengaja tidak saya sebutkan kriteria pemenang permainan ini di awal. Saya ingin tahu seberapa antusiannya kalian mengikuti game ini” kata MC. “Pemenangnya adalah yang mengumpulkan jepit paling sedikit karena tandanya ia sangat menghargai pasangannya atau lawan mainnya” lanjut sang MC sambil melirik Dong Geun penuh makna.

Dong Geun yang dilirik menjadi rikuh. Bo Mi yang menjadi pasangan main Dong Geun jadi risih dan malu. Setelah menerima hadiah dari Hyun Young, keduanya segera kembali ke meja masing-masing.

Peristiwa tadi menjadi kesan tersendiri bagi keduanya. Tanpa mereka sadari ada rasa penasaran dan kagum diantara mereka.

-o0o-

 

Ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu kaum muda selain sesi makan malam. Disco time! Aku dan Na Eun segera menuju ke dance floor membaur bersama teman lain dan juga Hyun Young.

Asik-asiknya disco time, asik-asiknya melompat riang dan lincah dengan high heels baruku, tiba-tiba ponselku berdering. Bergetar tepatnya. Jellycase ponselku bertali seperti tas kecil sehingga bisa ku selempangkan pada tubuhku dan aku masih tetap bisa berlompat lincah tanpa harus khawatir ponselku terjatuh.

Sekali dering getar ku abaikan. Dua kali masih sama. Ketiga tetap terabaikan. Aku hanyut dengan suasana yang menggembirakan ini, berlonjak bersama teman-teman. Jujur saja aku tidak pernah ke club, aku hanya menikmati disco time saat party dan saat mendengarkan music di kamarku.

Dering getar ponselku semakin menuntut seolah panggilan penting yang harus segera kuangkat. Risih dan terganggu, hampir kumatikan ponselku agar tidak ada notifikasi atau panggilan lagi tapi melihat tulisan ‘Eomma’ di screen ponselku akhirnya kuangkat juga panggilan itu. Aku menjauh dari keramaian itu agar dapat mendengar suara Eomma.

Yoboseyo? Waeyo, Eomma?”

“Bo Mi-a…hiks. Palli jibe-a…hiks. Neo eodisseo?

Eomma menangis? Ada apa ini? Perasaanku seketika menjadi tidak enak karena Eomma sangat jarang menangis kecuali suatu hal yang besar dan saat sanak keluarga ada yang meninggal.

Eo-eomma, w-wae..yo?” tanyaku terbata. Ada sederet kalimat khawatir yang tersendat dalam tenggorokanku.

“Jangan banyak tanya, Bo Mi-a, palliwa jibe! Hiks” Eomma meninggikan suaranya sedikit lalu terisak lagi. Jantungku seketika berdebar tak karuan. Berdebar khawatir dan takut.

Appa bangkrut, Sayang. Hiks. Hiks” ucap Eomma pada akhirnya.

DHEG.

Jantungku serasa berhenti. Aliran darahku seperti tersumbat dan tubuhku melemah. Aku sampai tak mampu berkata apa-apa, tetesan air mata yang mewakili perkataan dan perasaanku saat ini. Kaget, hancur, kecewa, marah, sedih, dan kehilangan arah.

Jika Appa bangkrut, bagaimana cita-citaku? Aku ingin menjadi seorang model fashion di Milan. Aku ingin masuk asrama khusus model disana, dan belajar menjadi model yang multitalent, berkepribadian, dan cerdas. Kini, bayangan itu, impian itu, seakan menjauh dari mataku seiring bertambah derasnya tetesan air mataku. Ponselku sudah terlepas dari genggamanku, beruntung ponselku terselempang di tubuhku sehingga tidak jatuh bebas ke lantai yang keras.

“Bo Mi, waeyo?” tanya Na Eun yang tiba-tiba di sampingku. Ia memelukku penuh empati. Matanya mulai berkaca-kaca padahal ia tidak tahu apa yang terjadi padaku.

“Na Eun…hiks. Hiks. Kau tidak akan menjauhiku kan?” aku takut Na Eun tidak mau bertema lagi denganku karena status sosialku.

Yha, Bo Mi, kau bicara apa?” suaranya bergetar menahan tangis. “Ada apa sebenarnya, Bo Mi?”

“Hiks… A-ppa, Ap-pa, A-Ap…pa…” tangisku semakin pecah, membuatku tak dapat bicara lancar.

Appa kenapa? Tenangkan diri dulu, Bo Mi, baru bicara” kata Na Eun sabar sambil memelukku.

Ponselku berdering getar lagi. Eomma telepon lagi. Aku harus segera pulang, aku sangat dibutuhkan di rumah!

“Na Eun, aku pulang dulu. Hiks. Nanti saat kusempat kau kutelepon ya. Hiks”

Okay, I’m waiting your calling. Take care, Bo Mi, I hope everything will be alright” ucap Na Eun sambil merapikan rambutku yang agak berantakan. “Ku antar sampai lobby? Kau pulang naik apa?”

Dwaesseo, aku sendiri saja. Enjoy your party, Sweety. Gampang, taxi mungkin”

Na Eun mengangguk lemah. Sorot matanya sangat khawatir tapi aku tahu kebiasaannya. Setiap aku sedih seperti ini dia selalu memberiku ruang dan waktu untuk sendiri walaupun sebenarnya ia ingin menemaniku. Kami bersahabat sejak SMP.

Setelah pamit pada Na Eun aku segera berlari keluar ruangan pesta Hyun Young. Berlari tanpa memedulikan pandangan teman-teman dan menubruk sembarang orang atau benda yang kulalui. Sakit pada tubuhku tidak sesakit hatiku saat ini.

BRUKK.

“Aww!” pekikku. Kakiku tersandung saat aku menabrak seorang laki-laki. “Mianhaeyo” ucapku singkat sambil membungkuk sebentar dan kembali berlari. Kurasakan udara malam yang dingin menyapu kakiku.

Sampai di lobby, aku segera menaiki salah satu taxi yang sudah berderet di depan lobby dan lekas menuju rumah. Aku khawatir sekali dengan keadaan orang tuaku.

-o0o-

 

Ada apa dengan gadis itu? Kenapa wajahnya basah dengan mata sembab? Menangis?

“Myung Soo, kau tahu, baru saja aku tertabrak gadis yang tadi sore kita bicarakan”

Myung Soo mengernyitkan alisnya.

“Itu, gadis teman Hyun Young yang…”

“Oh, I see! Wae?” selanya.

“Dia barusan pualng terburu dengan wajah yang seperti habis menangis. Kira-kira ada apa ya?”

“Hah? Jinjja?”

Yha, kok kau jadi kaget gitu? Aku tanya balik tanya lagi, err~” aku mendengus kesal.

“Hehehe. Mian, Bro. Aku terbawa suasana ceritamu” Myung Soo menepuk bahuku tanda minta maaf. “Eh, by the way, untuk apa kau bawa high heels itu? Punya siapa?”

“Nah, ini masalahnya. Gadis itu meninggalkan sepatunya saat bertabrakan denganku. Aku sudah memanggilnya tapi dia tidak menoleh. Mungkin karena terlalu ramai”

“Memanggilnya? Kau tahu namanya?” tanya Myung Soo heran.

Aku menggeleng. “Aku memanggilnya ‘yha’ dan ‘nona’ saja”

Myung Soo tertawa. “Jelas dia tidak menoleh! Hahaha”

Yha, aku serius! Mau bagaimana lagi? Aku tidak tahu namanya dan sepatunya terlepas, aku harus gimana?” Myung Soo diam tidak menjawab. Sepertinya dia juga bingung mau berkata apa. “Dia kenapa yak ok sampai terburu begitu, bahkan sepatunya terlepas saja tidak sadar. Ckckckc” aku menggelengkan kepalaku lemah.

Mengingat wajah cantiknya yang sore tadi sangat ceria dan ketika mala mini menjadi sangat menyedihkan membuatku semakin penasaran dengan dirinya. Kesan pertama kami di  game tadi tidak akan kulupakan. Sorot matanya saat kami tidak sengaja saling pandang sangat meneduhkan. Aku canggung tadi, grogi, tapi setelah tatapan kami bertemu degupan jantungku menjadi netral. Sungguh sorot mata dan senyumnya yang menenangkan sangat ingin kulihat lagi.

“Aku ingin mengembalikan high heels ini”

“Ya kembalikan saja” jawab Myung Soo enteng sambil meneguk gelas beer-nya.

“Kalau aku tahu rumahnya sudah kuantar dari tadi, Myung Soo. Sudah pasti kususul dia” balasku sedikit gemas.

Myung Soo diam. Aku diam. Mungkin kita sama-sama sibuk denga pikiran masing-masing.

“Kita tanya dia!” kata Myung Soo bersemangat. Aku menoleh ke arah jari telunjuk Myung Soo. Teman gadis itu dan Hyun Young. “Aku yang tanyakan, aku tertarik untuk mengajaknya ngobrol”

“Silahkan, aku tunggu sini, kalau sudah dapat info tentang gadis pemilik sepatu high heels ini segera kabari aku. Jangan sibuk pe-de-ka-te-an mulu”

“Sipp, Bro!”

Dari tempatku, kulihat Myung Soo sibuk bertanya pada teman gadis high heels ini. Merasa sedikit bosan, kupandangi high heels berwarna navy methalic bermerk C&K ini. High heels yang cantik, secantik pemiliknya. Aku menyimpulkan senyum tipis di bibirku.

Bro” Myung Soo kembali dan menepuk pundakku. Aku tersentak dari pikiranku dan menoleh. “Temannya itu tidak mau kasih tahu. Takut diteror katanya tapi aku dapat nomor ponsel dia” lanjutnya sambil nyengir lebar.

Aku mencibir.

“Coba nanti tanya Hyun Young saja, dia kan juga teman Hyun Young” usul Myung Soo.

Oh iya, kenapa tidak kepikiran dari tadi? Gadis high heels itu kan juga teman Hyun Young. “Gotcha! Thanks, Bro!” ucapku sambil meninju pelan lengan Myung Soo dan ia hanya menanggapinya dengan mengangkat gelas beer-nya tanda ‘no probs, Bro’.

-o0o-

 

Sebulan lebih aku berusaha mencari keberadaan gadis itu, Bo Mi. aku sudah tahu namnya, Yoon Bo Mi. Sungguh, mencari informasi di teman-temannya sangat sulit. Bahkan Hyun Young sekalipun, saat kutanya dia bilang tidak tahu tapi suatu saat aku tidak sengaja melihat Hyun Young sedang ber-LINE-ria dengan Bo Mi ketika kami sedang hangout.

Aku mendapatkan nomor ponselnya tapi aku tidak bisa menemukan alamatnya yang sekarang. Melalui nomor ponselnya, aku mendapat informasi rumahnya yang lama karena kutanyakan pada operator. Rumahnya yang lama sudah disita negara, ada tandanya di depan pagar. Usut punya usut ternyata malam sweet17th Hyun Young adalah hari dimana keluarga Bo Mi mengalami kebangkrutan. Setelah itu keluarga Bo Mi pindah rumah dan disangka oleh tetangga mereka pindah kota juga.

Na Eun, teman Bo Mi yang sekarang sudah menjadi pacar Myung Soo, sudah kupaksa ribuan kali untuk memberitahuku mengenai Bo Mi. Tapi nihil. Ia benar-benar bungkam bahkan Myung Soo sekalipun yang bertanya atau merayu.

Aku ingin tahu keberadaannya dimana, kabarnya gimana, keadaannya gimana. Aku khawatir sekali dengannya. High heels-nya masih terpajang rapih, bersih, dan indah di kamarku. Tepatnya di meja belajarku. Hal itu membuat keluargaku bertanya-tanya ‘sepatu siapa itu?’ ‘kenapa kau bisa dapat sepatu perempuan?’ ‘darimana kau dapat high heels sebagus dan semahal itu?’ dan pertanyaan tidak penting lainnya. Aku sampai muak dan risih.

-o0o-

 

3 bulan berlalu. Suatu hari, kala Dong Geun pergi berlibur seorang diri ke kota kecil untuk menenangkan pikiran karena stress memikirkan Bo Mi, suatu takdir memang sangat baik padanya. Dong Geun kelaparan di tengah perjalanan dan mampir di sebuah kedai yang terletak di jalan raya Kota Guri, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Kota tersebut adalah kota terkecil di Korea Selatan, maka dari itu ekonomi disana sangat murah.

Ahjumma, saya pesan menu spesial ciri khas kota ini” kata Dong Geun sambil mencari tempat duduk. Ia memilih duduk di dekat pembatas antara meja tamu dengan ruang masak. Ia ingin melihat cara memasak makanan  khas Kota Guri tersebut.

Ahjumma!” teriak seorang gadis dari arah luar kedai sambil membawa kotak aluminium besar dan lembaran won.

Ahjumma pemiliki kedai tersebut yang sedang memasak untuk Dong Geun menoleh. “Omo, Bo Mi?! Kau sudah mengantar semua pesanan???” tanyanya kaget tidak percaya.

Mendengar nama Bo Mi disebut, Dong Geun sigap menoleh ke arah gadis tersebut.

DHEG.

Dong Geun terperangah. ‘Dia masih tetap cantik seperti tiga bulan lalu. Bahkan ia lebih cantik tanpa make up. Tuhan, thanks!’ gumam Dong Geun dalam hati. Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum lebar. Bahagia. Ia bahagia bertemu Bo Mi dalam keadaan gadis itu yang sehat walafiat.

“Sudah. Beres semua! Ini uangnya” jawab Bo Mi antusias sambil nyengir lebar.

Ahjumma pemilik kedai menerima uang dari Bo Mid an segera menghitungnya. “Cepat sekali??? Kau kebut-kebutan lagi???”

Bo Mi meringis.

“Bo Mi, sudah kubilang jangan kebut-kebutan nanti kau kecelakaan. Masakanku juga jadi korban nanti. Bahaya, Bo Mi. Kau sudah tidak sayang nyawa hah?”

“Hehehe. Mianhae, Ahjumma. Aku suka kebut-kebutan. Seru hehehe” jawab Bo Mi santai sambil meletakan kotak aluminium besar pada tempat semulanya.

“Jangan ulangi lagi besok. Kalau kau kebut-kebutan lagi tidak kuijinkan kau bekerja di tempatku lagi” ancam Ahjumma itu.

Mwoya??? Baiklah, aku tidak akan mengulanginya” Bo Mi mengalah. Bibirnya sedikit cemberut.

“Bo Mi, tolong antarkan ini pada pemuda itu” perintah Ahjumma sambil menyodorkan semangkuk masakan di atas nampan pada Bo Mi.

Bo Mi patuh. Ia menoleh kea rah pemuda yang dimaksud.

DHEG.

Jantungnya berpacu cepat. Ia sangat kaget melihat wajah Dong Geun yang sedang tersenyum ke arahnya. ‘Tuhan, lelaki itu! Apakah dia masih mengenali Bo Mi? Kami bertemu saat game saja, harusnya ia tidak mengenali Bo Mi tapi kenapa ia tersenyum seperti itu? Tuhan, tolong Bo Mi’  ucap Bo Mi dalam hati.

Bo Mi mengantar pesanan Dong Geun dengan hati-hati. Setelahnya ia segera berlalu cepat, masuk ke dalam sekat pembatas antara dapur dengan ruang makan tamu.

Semoga ia tidak mengenali Bo Mi, Tuhan. Tolong! Bo Mi tidak mau menanggung malu. Bo Mi takut’ rengek Bo Mi dalam doa. Tubuhnya terkulai lemas di sofa rumah Ahjumma pemilik kedai tersebut.

Sepertinya ia mengenaliku. Wajahnya sangat pucat saat menatapku dan saat mengantar pesananku ia tidak berani menatapku sedikitpun dan segera masuk. Akhirnya kutemukan dirimu dengan adanya diriku secara langsung, Bo Mi. Thanks, God!’ pikir Dong Geun sambil tersenyum senang dan menikmati makanannya.

-o0o-

 

Esoknya, Dong Geun datang lagi ke kedai itu.

Ahjumma, boleh saya bertemu dengan Bo Mi?”

Ahjumma mengernyitkan alis dan dahinya.

“Saya temannya” sambung Dong Geun cepat. Mengerti arti tatapan Ahjumma.

“Oh~ Iya, boleh tapi setelah ia selesai mengirim pesanan”

“Iya, tidak apa. Gamsahamnida” ucap Dong Geun senang.

Pukul 3:00 KST. Bo Mi kembali dari tugasnya sebagai pengirim makanan. Setelah serah terima uang dan meletakan kotak aluminium besar pada tempatnya, Bo Mi di suruh Ahjumma menemui Dong Geun yang sudah menunggu sejak tadi pagi. Dong Geun dipersilahkan masuk ke dalam rumah Ahjumma, jadi Bo Mi menemui Dong Geun di ruang tamunya.

Bo Mi masuk ke ruang tamu secara diam-diam. Dilihatnya, Dong Geun sedang memegang kotak sepatu berwarna coklat kardus dan dari tadi dipandangi terus. Sesekali diusap dan setelahnya ia tersenyum sendiri. ‘Apa dia gila?’ pikir Bo Mi asal melihat tingkah Dong Geun. Bo Mi berdehem untuk mengalihkan perhatian Dong Geun sekaligus untuk pengaktualisasian dirinya yang sudah hadir di ruang tamu.

“Eh, Bo Mi” sapa Dong Geun kaget.

“Hem. Mianhae, anda siapa?” tanya Bo Mi hati-hati dan canggung. Ia berpura-pura tidak mengenal dan bahasanya sengaja disopankan seolah bicara pada orang asing. “Ada perlu apa mencari saya?”

“Oh, aku Shin Dong Geun, teman SMP Cho Hyun Young. Partner-mu di game sweet17th-nya Hyun Young” jawab Dong Geun ramah, halus, dan sopan. Ini pertama kalinya ia mengenalkan diri pada Bo Mi. Yang berarti setelah ini Bo Mi mengenalnya secara langsung tidak seperti dirinya yang mengenal Bo Mi melalui teman-temannya yang ia interogasi. “Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dan kutanyakan. Ada waktu? Aku sudah minta ijin pada Ahjumma

“Hem. Ada. Iya, tahu. Mianhae, saya tidak tahu siapa itu Cho Hyun Young dan saya tidak tahu mengenai game itu. Mungkin anda salah orang. Dan darimana anda tahu nama saya Bo Mi?” balas Bo Mi. dia masih canggung dan berpura-pura.

Dong Geun terperangah. Ia tidak menyangka bahwa Bo Mi akan menolak perkenalannya dengan cara pura-pura tidak tahu-menahu seperti itu. Ada segupil rasa kecewa dalam hatinya. Sedih. Perih. Sakit.

“Bukankah kau Yoon Bo Mi? Kau Bo Mi sahabat Son Na Eun kan? Teman sekelas Cho Hyun Young. Kau sungguh tidak mengenalnya?” tanya Dong Geun hati-hati. Ia bertanya dengan lembut tanpa ada kesan terburu seperti yang biasanya orang lain lakukan saat kaget. Sungguh, penguasaan diri Dong Geun sangat bagus.

Bo Mi menggeleng yakin. “Bukan. Saya tidak kenal mereka semua. Anda salah orang. Marga saya bukan Yoon, tapi Yoo. Mungkin karena perbedaan marga yang tipis makanya anda bisa salah orang”

Tidak mungkin!’ pekik Dong Geun dalam hati. Refleks, kepalanya menggeleng kecil. “Tidak, aku yakin kau Yoon Bo Mi teman mereka. Na Eun sekarang sudah berpacaran dengan temanku, Myung Soo. Kau pasti tahu soal itu”

Sial! Sejauh apa dia tahu tentang diriku?’ pikir Bo Mi was-was. Bo Mi menggeleng lagi. “Tidak. Sungguh, saya tidak tahu mereka”

Geotjimal. Neo geotjimal, Bo Mi-a!” ucap Dong Geun lirih tapi terdengar sangat tegas di telinga Bo Mi. “Ini, aku hanya ingin mengembalikan ini” Dong Geun membuka kotak sepatu bahan kardus coklat dan mengeluarkan satu sisi high heels.

Bo Mi terperangah. Refleks, bibirnya menganga.

“Tertangkap kau, Yoon Bo Mi! Kau benar Yoon Bo Mi sahabat Son Na Eun dan teman sekelas Cho Hyun Young. Lihat reaksimu melihat high heels ini. Kau menabrakku malam itu dan menelantarkan high heels ini di dekat kakiku”

Bo Mi tidak berkata apa-apa. Ia segera membalik tubuhnya. “Bukan milik saya. Saya hanya takjub dengan keindahan high heels itu. Saya perempuan, jelas saya sangat terkesan dan tertarik dengan barang sebagus itu” bohong Bo Mi. Hatinya berperang dengan rasionalnya. Hatinya sangat rindu dengan high heels tersebut, pasangannya ia simpan baik-baik karena barang termahal yang ia punya hanya atribut atau benda yang ia pakai saat malam ulang tahun Hyun Young. Barangnya yang lain sudah disita negara. Hatinya terenyuh menemukan pasangan barang berhargannya tapi harga dirinya masih egois.

“Jangan berbohonh lagi, Bo Mi. Aku sudah tahu semuanya tentangmu. Sebelum kamu pulang, Ahjumma menceritakan segalanya”

DHEG.

Degupan jantung kaget pertama membuat degup jantung Bo Mi yang selanjutnya menjadi degup grogi dan takut karena sudah tertangkap basah. Keringat dingin mulai membasahi kulit halusnya, peluh di dahi mulai menetes, kakinya mulai lemas, dan otomatis wajahnya memucat. Perlahan namun pasti Dong Geun mendekati Bo Mi dan dalam sekali gerakan ia menarik tubuh Bo Mi hingga berbalik menghadapnya dan…

CHUP.

Sangat cepat. Dong Geun menarik Bo Mi hingga berbalik, merangkul pinggangnya untuk menghapus jarak, menarik tengkuk Bo Mi, dan mendaratkan ciuman pertamanya di bibir merah muda Bo Mi yang ranum.

Bo Mi melebarkan matanya. Terkejut. Melawan juga tidak bisa, dia terlanjur jatuh pada lembah kaget yang membuatnya tak dapat berkutik.

Saranghae, Yoon Bo Mi-ssi”

-o0o-

 

Sejak hari itu, hari dimana first kiss-ku tercuri oleh bibir tipis Dong Geun, ia tidak kembali ke hotel tempat ia menginap selama di Kota Guri. Dong Geun menginap di rumah Ahjumma yang selama 3 bulan ini merawatku selayaknya anak kandungnya.

Setelah kebangkrutan Appa, penyakit jantung Appa kambuh dan beliau meninggal. Aku dan Eomma pergi ke kota ini untuk menangkan diri dan mencoba menata hidup yang baru. Saat kami pindah kemari, kami menumpang di rumah Ahjumma dan bekerja di kedainya. Beberapa hari kemudian, Eomma juga meninggal karena kecelakaan. Beliau menyeberang jalan sambil melamun—mungkin memikirkan nasib kami dan terpukul dengan kepergian Appa—di malam hari dan sebuah truk dengan supir mengantuk lewat tanpa melihat ada Eomma. Aku menjadi sebatang kara tanpa orang tua dan sanak saudara karena kedua orang tuaku juga anak tunggal. Merasa kasihan, Ahjumma menganggapku sebagai anaknya dan merawatku.

Kepergian orang tuaku membuatku menjadi anak yang pemurung, sering menangis, dan mungkin sedikit gila karena tidak siap dengan segala musibah yang terjadi padaku. Ahjumma merawatku dengan telaten dan sabar hingga aku bisa kembali normal dengan kehidupan baruku yang jauh dari kehidupanku sebelumnya. Juga jauh dari segala hal yang berhubungan dengan masa laluku sehingga aku tidak malu dan takut menjalani kehidupan baruku. Kurang-lebih sebulan kemudian aku kembali normal.

Dong Geun dan aku kini menjadi sepasang kekasih. Kita memang tidak pernah menjalani proses pendekatan ataupun proses pengenalan selayaknya pasangan lain tapi kami mempunyai ikatan batin dan sorotan mata yang kuat. Mungkin. Buktinya sampai sekarang, sampai kami dipertemukan oleh takdir, kami masih bisa menyimpan rasa istimewa itu dalam hati kami masing-masing.

“Dong Geun-a, ireona, sudah pagi” kugoyang-goyang tubuh tegap Dong Geun yang masih terbaring nyenyak di kasur lipat. Tubuhnya juga masih terbalut selimut sampai setengah perut.

“Emm. Nghh” Dong Geun hanya melenguh.

Kubangunkan lagi sampai ia benar-benar terbangun.

“Ada apa?” tanyanya dengan suara berat, serak, dan agak parau karena baru bangun tidur.

“Temani aku mengirim makanan” ajakku. Sejak kehadirannya disini, hari-hariku tidak lagi kesepian. Aku sangat bersyukur pada takdir.

Dong Geun tidak menjawab. Ia hanya menatapku lekat.

“Ada apa?” tanyaku heran sambil menggosok wajahku. Kurasa ada sesuatu yang aneh pada wajahku.

“Ikut aku, hidup denganku, dan kembalilah bersekolah”

Aku tertegun mendengar keputusannya yang sebelah pihak. “Kau gila? Aku tidak ingin menikah sekarang. Kita baru jadi beberapa hari lalu”

“Hidup bersama tidak selalu berarti menikah, Nona Cantik tapi Lemot. Hanya tinggal bersama. Aku juga hidup sendiri, orang tuaku sudah meninggal sejak aku SMP dengan mewariskan perusahaan mereka padaku. Beruntung sejak kecil aku sudah diajari berbisnis jadi sekarang aku tidak keteteran untuk belajar dan bekerja. Semua beres”

Jinjja?” tanyaku takjub dan sedikit merasa iba. Ternyata seorang Dong Geun juga merasa kesepian. Dia juga seorang anak manusia yang mencoba untuk bangkit tegar menjalani kehidupan. Aku harus belajar darinya.

“Kau percayakan padaku? Percayakan hidupmu ditanganku, Bo Mi-a. Aku akan membahagiakanmu. Visi utamaku untuk membahagiakan orang tuaku sudah terlampaui. Aku sudah berhasil membangkitkan kembali perusahaan mereka yang hampir bangkrut dan menyebabkan mereka meninggal. Kini visiku adalah membahagiakanmu”

TES.

Liquid bening dari mataku terjatuh. Awalnya 1 tapi semakin lama semakin deras seperti sungai. Aku tidak menyangka akan menemukan seorang lelaki yang akan berkata demikian padaku. Aku tersanjung, terharu, bahagia, sedih, dan merasa berharga.

“Lho, Cinderella-ku jangan menangis. Kan hidup  bahagia sama Pangeran. Kau tidak suka hidup bersama Pangeran setampan aku?” goda Dong Geun berusaha menghibur.

Tuhan, tolong kabulkan permohonan sederhana Bo Mi ini. Harta dan orang tua sudah Kau ambil, jangan lagi Kau ambil kebahagiaan Bo Mi yang tersisa ini. Dong Geun, Shin Dong Geun. Biarkan ia tetap bersama Bo Mi, Tuhan. Kini hanya dia dan Ahjumma yang Bo Mi punya. Thankyou, God. Amin’

Setelah berdoa dalam hati sambil memeluk Dong Geun, kucium pipi Dong Geun sekilas. Pipinya merona malu tapi hatinya bersorak bahagia.

“Jangan nangis lagi ya, Cinderella-ku, kau akan hidup tenang bersamaku, setenang sorot mata dan senyum manismu, Sayang” kata Dong Geun serius. Ia menatapku tepat dimanik mataku. Tatapan yang sangat teduh dan menenangkan. Aku suka. “Sekarang, pakai ini untuk mengesahkan bahwa kau akan benar-benar menjadi Cinderella-ku” kata Dong Geun sambil menyerahkan 1 sisi high heels-ku yang masih ia simpan. “Lalu pakailah juga sebelahnya yang ada di kamu”

Aku tersenyum lalu menuruti kemauannya. Kuambil sepasangnya lagi yang kusimpan lalu kupai keduanya.

Dong Geun berdiri, menatapku from head until toe dan berkata “You’re so pretty, My Princess, My Cinderella. Will you live with me?”

Bo Mi tersipu. Segera ia tutupi dengan gurauan. “Yes, I do but you must buy C&K’s high heels for me. Buy 10 pairs. Deal?”

What you want to be fulfilled, My Lady. All things by C&K I can buy for you” Dong Geun tahu sedang digoda Bo Mi, ia balas menggoda.

DEAL! I’m not joking for this! Hahaha” sorak Bo Mi girang sambil tertawa puas.

-o0o-

 

Setelah berpamitan dan mengucapkan kata terimakasih pada Ahjumma, Bo Mi ikut Dong Geun kembali dan hidup bersama sebagai sepasang kekasih. Segala urusan dan keperluan hidup Bo Mi ditanggung oleh Dong Geun. Bo Mi bersekolah lagi, tidak bersekolah di sekolah lamanya tapi ia bersekolah di SMA yang sama dengan Dong Geun. Kegiatan lainnya, ia membantu Dong Geun bekerja dan ikut sekolah kepribadian untuk model.

Sesekali, Bo Mi dan Dong Geun menghubungi Ahjumma yang kini sudah menjadi Eomma angkat mereka dengan adanya surat adopsi atau pengangkatan anak. Dong Geun memberi dana untuk kedai dan usaha Eomma mereka serta membukakan cabang di Kota Seoul yang notabene banyak penduduk sehingga usaha kedai Eomma mereka mengalami kemajuan cepat.

-o0o-

 

Rahasianya bagaimana Dong Geun bisa menemukan keberadaan Bo Mi adalah dengan cara stalking semua akun social media milik Bo Mi. Kebiasaan Bo Mi yang suka update di socmed, memudahkan Dong Geun menemukannya walaupun sejak tertimpa musibah besar itu Bo Mi jadi jarang update dan sengaja menyembunyikan diri dari dunia luar.

Cinta memang tidak akan pernah salah. Intuisi dan perasaan yang mendalam akan memberikan jalan bagi mereka yang kehilang sosok wujud cinta mereka.

-END-


Copyright ©2014 by Angelina Liem–angellim01, All Rights Reserved

Don’t forget to comment/like 🙂

Don’t be silent reader/plagiarist 🙂

Thankyou for reading and sorry for typo 🙂

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshoot] Cinderella’s C&K High Heels

  1. Bagus bgt! Feel nya kerasa thor 😉 keep writing dan jangan lupa banyak”in ff yg cast utamanya bomi ya kkk~ 😀

  2. Pingback: Cinderella’s C&K High Heels | Angelina Liem.

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s