THEY ARE PERVERT [1st Chapter]

they are pervert

Title : They Are Pervert

Author : T

Length : Chaptered

Genre : Romance, School Life, AU, Comedy, etc.

Rating : PG – 17

Main Cast : Lee Taemin (SHINee) | Kim Jonghyun (SHINee) | Kim Daren (OC)

Support Cast : Kim Kibum a.k.a Key (SHINee) | etc.

Disclaimer : © OC and Plot. All of famous cast(s) are belong to God, etc.

Attention : Typo will be everywhere. One Comment for One Smile.

Summary : “Apa semua namja di dunia itu pervert? Aku atau dunia yang sudah gila?

∆.∆.∆.∆.∆.∆

“Ya! Daren! Kaos kakimu kenapa pendek sebelah?”

“Mwo? Omo!”

“Ya! Daren! Kenapa kau pakai hot pants? Rok sekolahmu mana, babo?”

“Mwo? Kyaaa!”

“Kim Daren kenapa sekarang malah tidak pakai baju? Kau bukan mau ke pantai, babo! Cepat pakai seragammu!”

“Gosh! Damn it!”

Suara pekikan dan teriakan penghuni rumah memenuhi seluruh penjuru rumah. Membuat para hewan peliharaan tetangga terusik dari tidurnya (?) . Ini adalah aktivitas yang memang biasa terjadi di rumah bergaya minimalis itu. Penghuni rumah itu adalah kakak-beradik yang baru sekitar 7 tahun menetap di Korea.

Mereka adalah Kim Daren dan Kim Kibum atau panggilan akrabnya Key. Awalnya mereka tinggal bersama kedua orang tua mereka di Amerika namun pada saat Daren berumur 5 tahun ia dikirim ke Korea untuk bersekolah dan tinggal dirumah kerabat ibunya disana. Key juga dikirim pindah dan tinggal ke Korea atas paksaannya sendiri. Key memang tidak mau jauh dari adik kesayangannya itu. Namun, pada saat Daren lulus SD, Key memutuskan untuk pindah dari rumah kerabat ibunya tersebut lalu membeli sebuah rumah minimalis dengan uang pemberian ayahnya. Meski begitu, kini Key sudah tidak lagi bergantung pada kedua orang tuanya yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka di Amerika sana. Setelah lulus SMA, Key bekerja sebagai seorang bartender di salah satu club malam yang terkenal di Korea. Ia memang tidak memperbolehkan Daren ikut mencari uang, karena menurutnya ia mampu membiayai sekolah Daren dan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Key juga melarang kedua orang tuanya mengirimi ia atau Daren uang, kecuali jika sewaktu-waktu ia terdesak. Mereka benar-benar ingin hidup mandiri.

“Ya! Ya! Kim Daren! Kenapa kau tidak sarapan dulu?” pekik Key saat melihat adiknya –Daren– berlari tergesa melewati dirinya yang tengah duduk tenang di ruang makan.

“Astaga, aku ini sudah terlambat, oppa!” seru Daren lalu mengambil tas ranselnya yang berada di atas sofa.

Kini Daren berlari ke arah garasi lalu mengeluarkan sebuah sepeda lipat. Ia kemudian menaiki sepeda berwarna putih itu lalu bersiap mengayuh pedal sepedanya. Namun, tiba-tiba Key menarik telinga Daren lalu menyumpalkan mulut yeoja berambut model pixie itu dengan roti selai coklat.

Avha yang khau lahuhan ovvha?” ujar Daren dengan mulut yang masih penuh dengan roti.

“Kau harus makan meskipun sedikit,” ucap Key lalu menengecup singkat puncak kepala Daren.

“Sudah pergi sana.”

Daren hanya mendesis lalu mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi menuju sekolahnya.

Daren P.O.V

Disinilah aku sekarang. Berlari mengelilingi lapangan sekolahku. Aku dihukum oleh Kang sonsaengnim, guru pelajaran matematika di sekolahku. Ia dengan entengnya menyuruhku berlari keliling lapangan sebanyak 10 kali. Guru dan pelajarannya sama saja, sama-sama menyebalkan. Aku yang notabene benci lari, harus disuruh berlari ditengah panas yang terik ini. Aku bahkan baru meyelesaikan 8 putaran tapi sialnya, napas dan tenagaku sudah habis total sepertinya.

“Kang sonsaengmin, semoga kau masuk ke neraka bersama buku-buku pelajaran matematika-mu yang terkutuk itu!” aku berteriak di tengah lapangan sambil terus berlari dan kini aku telah berlari diputaran ke 9.

“Wah, kalau Kang sonsaengnim tau kau menyumpahinya, apa yang akan terjadi padamu, ya? Aku jadi penasaran.”

Ucapan seseorang membuatku menghentikan langkahku seketika. Aku sepertinya mengenal pemilik suara ini. Aku berbalik dengan perlahan, lalu bingo! Si iblis menyebalkan, Kim Jonghyun! Ia kini menatapku sambil tersenyum yang menurutku menjijikkan.

“Diam kau! Kau sendiri juga sedang membolos lagi, eoh? Kau juga mau kulaporkan pada Kang sonsaengnim karena tidak mengikuti pelajarannya?” aku menatapnya dengan tatapan menantang.

Ia tertawa terkekeh lalu melangkah perlahan menghampiriku. “Ah, begitukah? Lalu apa yang kau harapkan? Kang sonsaengnim menghukum murid genius sepertiku?”

Ah, benar juga. Kim Jonghyun ini adalah murid terpintar di sekolahku. Entahlah aku juga bingung bagaimana mungkin seorang yang menyebalkan, egois, angkuh, dan evil seperti Jonghyun ini bisa punya otak yang mungkin hampir setara Albert Einstein. Cih, dunia memang tidak adil.

“Ck! Membuang waktu saja. Jika aku terus berbicara denganmu, bisa-bisa kepintaran otakku meluntur,” ejeknya sebelum melangkah menjauh dariku.

Tunggu, apa katanya? Meluntur? Hah! Itu, otak atau pakaian? Ya Tuhan, siapa sebenarnya yang bodoh disini? Aku ingin sekali menarik rambutnya lalu memindahkan otaknya ke kepalaku dan kukubur ia hidup-hidup, jika saja aku tidak mengingat ada hukum di Korea aku pasti sudah melakukannya. Aku hanya menggeram kesal lalu terduduk di pinggir lapangan sambil menatap punggungnya yang mulai jauh dari pandanganku. Aku sudah lelah berlari. Aku memang masih punya 1 putaran terakhir yang harus kuselesaikan. Tapi aku benar-benar sudah lelah sekarang.

“Beristirahat sebentar tidak masalah, bukan?” gumamku sambil menyeka peluhku yang memenuhi wajah dan leherku.

∆.∆.∆.∆.∆.∆

Yeoja bersurai pirang itu masih duduk dipinggir lapangan sambil sesekali mengatur napasnya. 9 putaran bukanlah hal yang mudah baginya. Daren memang bukanlah yeoja yang feminim, lemah gemulai, atau anggun seperti yeoja kebanyakan. Tapi ia juga bukanlah yeoja tomboy atau berpenampilan seperti laki-laki, ia hanya cuek dan moody jika menyangkut soal penampilan.

“Baiklah! Tinggal satu putaran lagi! Hwaiting Kim Da—“

BUGH!

“Akh! Appo! Who’s the― Ya! Kau lagi Jonghyun! Kenapa kau melempar botol minuman ini ke arahku, huh?”

Sebuah botol minuman mineral tepat mengenai kepala Daren saat ia baru saja akan bangkit dari duduknya. Ia kini terduduk kembali sambil mengusap kasar kepalanya yang terkena botol minuman yang masih penuh itu. Sepertinya minuman itu baru saja dibeli.

“Jackpot! Tepat sasaran!” seru Jonghyun sambil menepuk tangannya.

“Hei, Jonghyun gila! Apa otakmu kosong, huh? Kau bisa saja membuat kepalaku terlepas dari tubuhku, Jonghyun!”

“Mwo? Kau ini bodoh sekali. Mana mungkin kepalamu bisa terlepas dari tubuhmu hanya karena sebuah botol minuman.”

“Diam kau, Jonghyun! Sudahlah. Ini ambil kembali minumanmu. Aku tidak punya waktu bertengkar denganmu! Aku masih punya satu putaran lagi yang harus kuselesaikan.”

“Itu untukmu. Minumlah, kau pasti haus kan setelah berlari 9 putaran?”

Daren mengernyit. “Untukku? Ah, ini pasti beracun! Kau pasti menaruh sesuatu dalam minuman ini! Aku tidak mau minum itu!”

Jonghyun menghela napasnya kesal. “Ya! Apa kau tidak bisa bilang terima kasih, huh? Lagipula minuman itu baru kubeli! Lihat itu masih bersegel, bukan? Kau ini benar-benar!”

“Cih, awas saja jika kau berani meracuniku! Kupastikan kau akan kukirim ke peti mati! Ingat itu!” ancam Daren.

Detik berikutnya, Daren dengan cepat membuka tutup botol minumannya dan meneguknya dengan kasar. Ia bahkan tidak sadar jika air yang diminumnya itu sedikit keluar mengalir dari sudut bibirnya dan turun ke leher jenjangnya yang masih dipenuhi peluh. Sungguh, sekarang yeoja itu benar-benar terlihat seksi.

Jonghyun P.O.V

Aku sedari tadi hanya mampu menelan salivaku dengan susah payah. Bagaimana tidak? Daren si bodoh ini kini benar-benar terlihat seksi. Lihat saja cara minumnya, air itu bahkan dengan perlahan mengalir keluar dari sudut bibirnya lalu turun menyatu bersama peluh yang membanjiri leher jenjangnya yang begitu putih itu. Belum lagi pemandangan samar-samar dari bra hitamnya yang terlihat akibat seragamnya yang basah karena peluhnya. Dan pahanya yang mulus itu . . . Ya Tuhan, kenapa dia haru duduk asal-asaln begitu? Apa dia tidak sadar jika roknya itu sedikit tersingkap? Sepertinya ‘aura’ mesum dalam diriku benar-benar ‘dipancing’ sekarang. Aku terus memperhatikannya yang masih asyik meneguk minuman itu.

Kim Jonghyun, kau pasti sudah gila,’ aku membatin.

“Ya! Kim Jonghyun!” teriakan begitu nyaring darinya menyadarkan ku dalam lamunanku.

Aku menatapnya dengan death glare-ku. “Kenapa kau berteriak begitu, Daren! Kau mau membuat telingaku hancur berkeping-keping, huh?”

“Asal kau tau! Aku sudah memanggilmu dari tadi! Tapi kau hanya terdiam seperti orang sedang dihipnotis, babo!”

Aku memang terhipnotis oleh kau, babo Daren,’ ucapku dalam batin.

“Apa aku hanya akan menerima teriakan? Apa tidak ada ucapan ’gomawo, Kim Jonghyun’ atau sejenisnya begitu?” seruku padanya sambil melipat tanganku didepan dadaku.

Kulihat ia bangkit berdiri lalu menghampiriku. “Hei, Jonghyun. Apa minuman ini aku yang minta?” ucapnya sambil menunjukkan botol minuman yang telah kosong di depan wajahku.

“Cih! Asal kau tau saja. Wajahmu tadi seperti seekor bulldog yang kehausan. Makanya aku terpaksa memberimu minum,” desisku.

“Mworago? Bulldog? Tamat riwayatmu, Jonghyun!” Kini ia beralih mengarahkan telunjuknya tepat di depan wajahku.

“Ya! Jangan menunjukku begitu! Jauhkan telunjukmu dari wajahku!” Aku menggeram kesal.

Tapi ia tidak memperdulikan ucapanku. Ia malah menekan-nekan telunjuknya di hidungku. “Wae? Hah? Hah? Ha—“

HUP! Entah kenapa kini aku malah menggendongnya ala bridal style lalu aku berlari mengitari lapangan. Ia terlihat memberontak tapi, apa dia lupa seberapa besar kekuatan yang ia miliki? Setelah kurasa telah satu putaran aku berlari, aku menurunkannya dengan kasar. Membuatnya meringgis kesakitan karena bokongnya mendarat duluan.

“Ya! Kenapa kau ini?” pekiknya lalu bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk bokongnya.

Aku hanya menatapnya datar lalu menjulurkan lidahku, mengejeknya.

“Aku hanya menyelesaikan satu putaran untukmu,” ujarku lalu pergi dari hadapannya tanpa berniat mendengar sepatah katapun lagi dari mulutnya.

Meski aku bisa merasakan ia masih menatapku kesal tapi aku tidak kepikiran sedikitpun untuk menoleh menatapnya lagi dan terus melangkah pergi.

∆.∆.∆.∆.∆.∆

Bel pulang sekolah telah dibunyikan 2 jam lalu, namun Daren masih terlihat mengerjakan tugas yang diberikan Kang sonsaengnim di kelasnya.

“Sudah selesai, Daren?” tanya Kang sonsaengnim yang tengah mengawasinya di kursi barisan depan.

“Seperti yang bisa sonsaengnim lihat. Aku bahkan tidak bisa menjawab satu soal pun,” jawab Daren sambil menghela napasnya.

“Ini sudah satu jam, Daren. Dan kau tidak bisa menjawab satu pun? Seberapa susah materi ini? Teman-temanmu yang lain sepertinya malah sudah diluar kepala.”

“Sonsaengnim, aku dan mereka itu berbeda. Tingkat kecerdasan kami berbeda. Lagipula aku kan tidak suk― maksudku, aku tidak ahli di pelajaran matematika,” kilah Daren setelah hampir saja mengatakan ‘tidak suka pelajaran Matematika’ tadi.

“Sudahlah, kalau begitu aku akan mencari seseorang yang bisa kujadikan guru pribadi-mu untuk mengajarimu pelajaran Matematika. Kupikir itu akan lebih efektif ketimbang aku yang mengajarimu langsung. Bukan begitu?”

“Entahlah sonsaengnim. Kuharap itu bisa membantuku. Tapi . . . jika kau menyuruh Kim Jonghyun yang menjadi guru pribadi-ku, maka aku akan menolaknya mentah-mentah!”

“Sudah kuduga,” desah sonsaengnim. “Akan kuusahakan mencari orang lain lagi yang bisa mengajarimu selain musuhmu itu. Sekarang lebih baik kau pulang. Tugas ini kuanggap selesai. Jika aku menunggumu menjawab soal-soal itu, aku bisa tua seketika disini.”

Daren mempoutkan bibirnya lalu mengemasi buku-buku pelajaran dan memasukannya kedalam tas ransel berwarna biru laut miliknya. Ia kemudian mlangkah ke arah tempat duduk sonsaengnim lalu berpamitan dengan membungkukan tubuhnya.

“Kamsahamnida, sonsaengnim. Saya permisi pulang dulu. Sampai jumpa besok.”

“Baiklah. Hati-hati dijalan dan belajarlah dengan giat, Kim Daren.”

“Ye, sonsaengnim,” ucap Daren lalu melangkah keluar dari kelasnya.

Daren P.O.V

Lucky! Akhirnya tugas terkutuk itu diakhiri juga.

Dasar pelajaran menyebalkan! Kenapa didunia ini harus ada Matematika? Cukup dengan tahu angka saja sudah cukup, bukan? Kenapa kita harus tau tenatng rumus lagi? Menyusahkan saja,’ rutukku dalam batin.

Aku kini berjalan melewati toilet namja, namun tiba-tiba langkahku berhenti karena kudengar sekilas ada suara-suara aneh dalam toilet ini.

Ah~ Ah~ Hnnnn~ Mmmh~ Ah~” suara aneh yang menurutku seperti desahan itu terdengar lagi ditelingaku. Suara yang menjijikan tapi membuatku penasaran.

“Apa yang sebenarnya terjadi di toilet yang seharusnya kosong ini?” gumamku pelan lalu perlahan masuk ke dalam toilet khusus namja ini.

Konyol memang. Tapi rasa penasaran yang besar telah mendorongku untuk masuk. Aku berjalan pelan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara langkah sedikitpun. Aku kini menghentikan langkahku tepat didepan salah satu bilik toilet. Dengan bodohnya aku menempelkan telingaku dipintu bilik toilet itu. Namun, sial! Sepertinya aku tidak tahu jika pintu toilet itu tidak terkunci. Aku tersungkur kedepan. Aku meringgis pelan lalu mendongakkan kepalaku. Aku membelalakan mataku kaget karena melihat seorang yeoja dengan seragam yang terbuka dan rok yang tesingkap tengah duduk mengangkang (?) diatas paha seorang namja yang topless. Mereka menatapku tajam. Aku yang kini telah berdiri, hanya bisa mematung dan menutup mulutku dengan kedua tanganku seolah tidak percaya atas apa yang kulihat kini.

“Sampai kapan kau mau menonton adegan kami?” namja itu dengan santainya bertanya padaku.

“Ah, mianhe. Mianhe. Mianhe. Aku akan keluar sekarang. Mianhe.”

Setelah berkali-kali membungkukkan tubuhku aku kemudian berlari keluar toilet. Astaga, seumur hidup aku belum pernah melihat adegan panas seperti itu apalagi secara langsung begitu. Tapi kali ini . . . Ah, sudahlah. Lebih baik aku pulang sekarang. Aku langsung mengambil langkah seribu menuju tempat dimana sepedaku terparkir.

҉ To Be Continued ҉

A/N : Hai? Saya, T. Para Galaxer* (*silahkan baca Intro saya) bisa memanggil saya T. Jangan panggil saya, Author or Thor or Yoona/? #abaikansj . Ini ff pertama yang saya post sebagai salam perkenalan dari saya hoho. http://www.welcomeintkingdom.wordpress.com adalah WordPress pribadi saya dan kalo kalian berkunjung kesana dan nemuin tombol ‘FOLLOW’ harap diklik! Kalau tidak pulsa Anda akan berkurang #plak #penulisyangpea #iklanlewat . Oh iya, saya juga mau ngucapin TERIMA KASIH banyak kepada admin Indo Fanfictions yang mau nerima saya sebagai Writer. Sekian. FromTwithlove.

Advertisements

One thought on “THEY ARE PERVERT [1st Chapter]

  1. Inii PG berapaa?? Aku masih kecil qaqaaaa 😦

    Duh. Aku ga tau kalo ada beberapa adegan yang harusnya belom boleh aku baca, makanya aku skip 😀 tapi aku suka ide cerita sama bahasanya kok. Cuma keknya di chapter selanjutnya aku bakal ngeskip beberapa adegan lagi 😀 fic ini kereenn… dan entah kenapa si Jonghyun minta ditendang banget. Dia keren tapi ngeselin dalam satu waktu /?

    Next chapter aku tunggu ya! Semangaat♥

    nb: kalo sempet, mampir ke ficku atas nama l.joo//bekey ya kak :3 ((promosi))

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s