[FREELANCE] Chasing My First Love (2nd Chapter)

freelancer poster

Tittle : Chasing My First Love (2nd chapter)

Genre : Romance

Author : Naisy

Poster by : arin yessy @ indo ff arts

Length : Chaptered

Rated : General

 

Casts :

  • Han Ji Hyun (@asmeenaisy)
  • Dong Young Bae, a.k.a Tae Yang
  • Kwon Ji Yong, a.k.a G-Dragon
  • Choi Seung Hyun, a.k.a TOP
  • Han Chae Ra (@raniazahraVIP)
  • Kang Dong Kyo (@sabrinanura)
  • Kang Dae sung
  • Kang Dong Joon (@annisarchs)
  • Lee Seung Hyun
  • Mr dan Mrs Han (orang tua Ji Hyun)
  • 2NE1
  • Peran pendukung lainnya

 


 

Ji Hyun melamun di kamarnya, menerawang ke langit, sembari mencoret-coret diary. Dia masih tak percaya dengan kejadian kemarin. Kemarin, dia melihat Young Bae Sunbae di televisi. Dia melihat cowok yang selalu dilihatnya dalam mimpi saat tidur. Dia melihat cowok yang menjadi angan dan salah satu alasan Ji Hyun untuk tetap tersenyum. Cowok itu adalah cinta pertamanya waktu di SMP.

Usai menulis hal-hal istimewa yang terjadi hari ini, Ji Hyun menutup diary birunya dan melamun. Hatinya masih bingung, apakah cowok yang dia lihat kemarin itu benar-benar Sunbae? Entahlah.

Kemudian ditatapnya kalung kayu berbentuk hati yang digantung di dinding kamar, dan berbisik dalam hati, “Aku merindukanmu, Sunbae!”

 


 

“Pelayan, saya pesan ttaebokki satu porsi!” teriak seorang pelanggan di meja nomor 2.

“Pelayan, saya pesan kimbab!” ujar pelanggan di meja lain.

Hari ini depot begitu ramai. Banyak anak SMA yang datang, banyak pula ibu-ibu dan bapak-bapak. Mungkin karena saat ini adalah jam makan siang, jadi banyak sekali orang yang datang ke Depot ‘Kkotboda’. Tentu saja hal ini membuat Ji Hyun sangat senang sekaligus repot. Begitu pula dengan para pengurus Kkotboda lainnya.

Ini baru pelanggan yang ada di Depot loh, masih banyak pelanggan lain di luar sana yang memesan makanan lewat telepon. Terpaksa deh Ji Hyun harus jalan-jalan menggunakan sepeda tuanya untuk mengantarkan pesanan.

Anyeong!” teriak Ji Hyun riang, memberikan salam sebelum keluar rumah.

Ji Hyun mengayuh sepedanya sambil bersenandung. Di tengah perjalanan mengantarkan makanan, tepatnya saat melewati agen koran dan majalah, lagi-lagi Ji Hyun melihat banyak murid SMA mengerubuti. Awalnya Ji Hyun tak tertarik untuk menghampiri, tapi karena dia merasa kesal melihat wajah Sang Penjual yang terlihat puas dan sombong (Ji Hyun adalah orang yang gampang terpancing oleh ekspresi wajah orang lain), akhirnya dia turun dari sepeda untuk sekadar melihat-lihat majalah.

Ahjussi, di sini jual majalah apa?” tanya Ji Hyun penasaran. “Kok sepertinya dari kemarin laku sekali.”

“Oh, begini, Agassi, di sini saya menjual majalah-majalah remaja. Minggu ini, hampir seluruh majalah terbitan Seoul laku berat, soalnya banyak artikel tentang boyband gitu,” ujar sang penjual majalah dengan bersemangat.

“Oh, kalau begitu saya mau lihat-lihat dulu,” kata Ji Hyun lagi sembari mengambil salah satu majalah. Alangkah kagetnya dia ketika melihat wajah seseorang yang dia kenal terpampang di cover majalah tersebut. “S-s-s-sunbae! Boyband baru ngetop…. B-b-big Bahng?”

“Bagaimana, Agassi, tertarik untuk membelinya?”

“Ya. Saya beli yang ini.”

 


 

G-Dragon menatap jam tangannya yang terbasahi keringat. Dia grogi karena beberapa menit lagi, Bigbang, Boyband yang dipimpinnya, akan tampil dalam acara promosi album pertama. Dadanya naik turun, tapi dia mencoba untuk menenangkan hatinya.

Rekan kerjanya, TOP, terlihat tenang-tenang saja. Sesekali dia mencoba menghibur leadernya itu dengan tebak-tebakan konyol.

“Hey, perubahan energi dari kinetik menjadi kimia sekaligus bunyi, apa itu?” tanya TOP.

“Kipas angin?” jawab G-Dragon ngasal.

“Salah. Yang benar itu……….. KENTUT!” cerocos TOP yang disambung cekikikan kecil.

“Apaan sih? Nggak lucu, tahu!” bentak Tae Yang, personel lain, dengan nada dingin. Setelah itu dia menutup mata dan berdoa, kemudian mencium sebuah kalung kayu yang selalu dipakainya tiap kali manggung.

“Apaan kamu, pemuda norak?” balas TOP. “Otot sudah segede jengkol tapi kelakuan masih kayak anak kecil. Pake cium jimat segala, lagi!”

“Jen Kol?” tanya G-Dragon. “Apa itu?”

“Bukan Jen Kol, tapi Jengkol, makanan lezat berbau unik yang dia makan sewaktu berlibur di Indonesia,” jelas Tae Yang tanpa mengurangi konsentrasinya.

“Baiklah, mari kita panggilkan ketiga idola baru kita… BIGBANG!” teriak MC dari panggung sana, membuat jantung ketiga cowok itu semakin tegang bagaikan ada stimulan yang masuk ke dalamnya.

“KYAAA…!” teriak para penonton sembari tepuk tangan, menggemakan seisi panggung.

“Sudah saatnya untuk tampil, Guys!” kata G-Dragon.

“Mereka akan membawakan single pertama mereka, yaitu…. Haru Haru!” Seru MC lagi.

Kemudian ketiga personel Bigbang berpegangan tangan dan menutup mata sebelum memasuki panggung untuk berdoa bersama. Setelah ketiganya mengucapkan “Amiiin…” dan membuka kembali matanya, entah kenapa, G-Dragon mencium bau yang aneh.

Snuff.. snuff…

“Bau apa ini? Kok nggak enak banget?” tanya G-Dragon penasaran. Hidungnya mencari-cari sumber bau. “Siapa yang kentut?”

Tae Yang menghela napas dan berkata, “Yang jelas…. ini bau JENGKOL!”

G-Dragon dan Tae Yang langsung menatap TOP dengan sinis.

 


 

Anyonghaseo,” ujar Ji Hyun ketika sudah tiba di teras rumah dan memarkirkan sepedanya. Dia buru-buru jalan kaki dengan tujuan untuk memasuki Depot dan menyerobot kursi untuk membaca majalah yang baru saja dia beli.

Tep. Langkahnya terhenti ketika dia melihat TV kecil milik Depot. Sebuah pemandangan mengagetkan kembali terpapang di televisi.

Siapapun yang memindahkan channel, yang tahu ‘orang yang ada di televisi’ ini sedang muncul, aku sangat berterimakasih, kata Ji Hyun dalam hati, sembari terus menatap acara di televisi itu.

 

Geuleok Jeoluk chama bolmanhae

Geuleok Jeoluk gyeondyeo naelmanhae

Nun gelul suluk haengbokhaeyadwae

Haru haru…

Mudyeojogane e e e…

 

Haru haru, Hari demi Hari. Judul lagu yang sangat tepat untuk perasaan Ji Hyun saat ini, begitu pula dengan liriknya. Ji Hyun tersenyum simpul melihat orang yang mirip dengan cinta pertamanya itu menyanyikan lagu ‘Haru haru’ barusan. Tapi dia tidak meneruskan niatnya menonton acara televisi, karena itu tidak penting. Tidak penting dia harus tahu lagu apa saja yang dinyanyikan boyband itu, tak peduli kegiatan apapun yang mereka lakukan, karena yang dibutuhkan Ji Hyun hanya satu, yaitu kepastian. Kepastian… benarkah cowok yang dia lihat di layar televisi adalah cinta pertamanya?

Karena sudah terlalu penasaran, akhirnya Ji Hyun membuka lembaran majalah yang dibelinya. Tanpa membaca halaman lain, dia langsung menuju artikel yang tercantum di cover majalah, yaitu ‘Introducing New Boyband : Bigbang’.

Ah, ini dia! Ji Hyun membatin setelah menemukan kolom Bigbang’s Profile. Kemudian dia membacanya dengan seksama.

 

BIGBANG

Boyband baru terbitan YG entertainment ini mampu menarik perhatian remaja, terutama wanita. Album pertamanya laris manis di atas penjualan 5000 kaset dan 10.000 CD. Blablabla….

 

Apaan ini? Lebih baik kulewat saja bacanya… batin Ji Hyun lagi. Nah… ini dia!

Ternyata dia menemukan kolom ‘Profile of TaeYang’―anggota Bigbang yang dia kira adalah cinta pertamanya itu.

 

Tae Yang

Stage Name : Tae Yang (태양)

Real Name: Dong Young Bae (동영배)

Birthdate: May 18th, 1988

Debut: YG Family

Position: Vocalist

 

“AHHH… Sunbae!” teriak Ji Hyun lantang. Matanya berbinar, seakan menemukan sebuah harta karun yang telah lama menghilang. “Dia benar-benar Young Bae-Sunbae! Tanggal lahirnya saja sama!”

PRANG…

Ada suara barang pecah dari arah meja pelanggan nomor 12. Seorang pelanggan marah-marah kepada Chae Ra yang saat itu sedang melayaninya. Chae Ra berkali-kali meminta maaf dan membungkukan badan, dan untungnya segera dimaafkan setelah dia menawarkan untuk memberi sebuah minuman gratis.

Ada apa dengan Chae Ra-Eonni?

“Kau tidak apa-apa, Chae Ra?” tanya Dae Sung khawatir setelah Chae Ra masuk ke dapur.

“Tidak apa-apa bagaimana? Kau tidak lihat kakinya berdarah terkena pecahan piring? Kau tidak lihat tadi dia dimarahi pelanggan habis-habisan?” cerocos Dong Kyo yang ikut-ikutan datang ke dapur.

“Iya iya, aku tahu, bawel!”

“Sini Chae Ra, kau akan kuobati,”

Dong Kyo membawa Chae Ra ke dalam rumahnya (rumah keluarga Han terletak di samping Depot Kkotboda) untuk diobati. Luka Chae Ra sepertinya cukup dalam, karena darahnya yang terus-menerus mengalir. Sementara itu Ji Hyun ditinggal berduaan dengan Dae Sung di dapur Depot.

Oppa…” ucap Ji Hyun tiba-tiba. “Kenapa sih kau bisa menyukai Dong Kyo Eonni? Dia kan tempramental!”

“Ji Hyun-ah,” jawab Dae Sung. “Kenapa kamu tiba-tiba tanya seperti itu?”

“Nggak kok, Oppa. Aku hanya ingin tahu, seberapa dalam cintamu pada DongKyo-Eonni?”

“Yang pasti, lebih dalam dibandingkan dengan caci-makiannya setiap hari.”

“Maksudnya? Aku benar-benar tak mengerti.”

“Itu kan bukan urusanmu, Ji Hyun. Memangnya kenapa kamu tanya seperti itu? Jangan-jangan kamu sedang jatuh cinta ya?”

“Eng-eng… enggak kok! Aku hanya tanya saja.”

“Hayoo.. ngaku saja, deh. Kamu lagi jatuh cinta, kan?”

“Er… oke, aku mengaku. Tapi, Oppa, bagaimana kalau orang yang kita sukai itu memiliki jarak yang sangat jauh dengan kita?”

“Hm… kalau begitu kau harus menghubunginya lewat e-mail.”

Anieyo… aku nggak tahu alamat emailnya, aku hanya tahu dia tinggal di kota mana. Lagian, aku ingin bertemu langsung dengannya dan mengatakan kalau aku suka padanya. Aku nggak mau memendam perasaan yang sudah terpendam selama lima tahun ini lebih lama. Ini sungguh membuatku tertekan.”

“Begitukah? Kalau begitu, temuilah dia. Jangan hanya ngomong suka dan suka, tapi kamu nggak berusaha. Kejarlah dia dan katakan kamu menyukainya. Seburuk apapun hasil yang kamu dapatkan, setidaknya kamu nggak memendam rasa suka itu lebih lama lagi, kan?”

“Ah, benar juga. Tapi… gimana kalau orang yang kusukaiku saat ini tidak sama dengan orang yang kusukai lima tahun yang lalu?”

“Maksudmu? Aku nggak ngerti.”

Anieyo, anieyo! Lupakan saja kata-kataku tadi, Oppa…”

 


 

Malam ini begitu dingin. Di balik selimut sekaligus mengenakan hoodie tebal, Ji Hyun berlindung sembari mencoret-coret diary. Hm… sayangnya dia sedang tidak mood untuk menulis, jadi ditutup saja buku hariannya itu, kemudian matanya menerawang langit.

Ji Hyun teringat akan kata-kata Dae Sung tadi sore. Kejarlah dia dan katakan kamu menyukainya. Seburuk apapun hasil yang kamu dapatkan, setidaknya kamu nggak memendam rasa suka itu lebih lama lagi, kan?

Triiing!

Sebuah lampu pijar menerangi otak Ji Hyun dan memberikannya impuls berupa jalan keluar yang membuatnya beranjak dari meja belajar dan pergi nyelonong ke luar kamar.

APPA… APPA… OMMA…. OMMA…!” panggil Ji Hyun lantang. Appa dan Omma-nya langsung kaget mendengar puteri bungsunya berteriak-teriak.

“Ada apa, Nak?” tanya Omma.

Appa, Omma, tolong izinkan aku untuk pergi ke Seoul!” kata Ji Hyun dengan penuh tekad.

“Seoul? Untuk apa kamu pergi ke sana, Nak?” Appa bertanya dengan kaget sekaligus khawatir.

“Aku ingin menemui teman lamaku, Appa. Sekaligus melihat-lihat bagaimana kota Seoul sebenarnya. Appa tahu kan, kalau Seoul itu adalah kota yang menjanjikan kehidupan baru?”

“Iya Nak, tapi pergi ke Seoul itu tak seenteng yang kamu bayangkan. Kamu akan tinggal dimana di sana, Nak?”

“A-a-aku akan tinggal di rumah temanku, Appa,” akhirnya Ji Hyun berbohong juga. “Tenang saja, aku nggak sendirian di sana. Aku juga akan membeli tiket serta mengantongi uang jajan dari tabunganku sendiri, kok!”

Appa terlihat berpikir, sementara Ji Hyun memasang wajah berharap. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu sehingga dia nekat meminta Appa untuk mengijinkannya pergi ke Seoul. Apakah dia sudah gila? Dia sama sekali tak mengenal siapapun di Seoul, bahkan seorang teman sekalipun. Untuk pergi ke Seoul, dia hanya berbekal sebuah tekad, yaitu bertemu dengan cinta pertamanya. Itu pun belum jelas apakah orang yang dimaksud benar-benar cinta pertamanya atau bukan. Dia hanya ingin menyatakan rasa suka yang dia pendam selama lima tahun lamanya. Dia memiliki prinsip; Bertemu satu kali atau menyesal seumur hidup.

“Bagaimana, Appa?” tanya Ji Hyun memelas. “Boleh ya, Appa? Boleh ya…”

“Hmm… bagaimana ya….”

 

Bersambung ke Chapter 3 ^_^

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s