[Vignette] Wonderful Papers

wonderful-papers-request-for-little-maknae

Wonderful Papers

Story by Little Maknae

Cast: Xi Luhan, OC || Genre: Fluff, Romance, Friendship || Rate: Teen || Length:  Vignette

Sekotak kertas ajaib itu membuat permintaan mereka menjadi nyata. Ini bukan sihir. Tapi Tuhan benar-benar mengabulkannya.

2014 © Little Maknae

Poster by Mochacideers@BeautyWinterPearlFanfiction

***

Luhan punya teman. Dia anak perempuan. Namanya Yoon Eun Rim, tapi sering dipanggil Yoon agar lebih singkat. Rambutnya panjang kecokelatan. Senyumnya sangat manis. Dia berumur sebelas tahun, lebih muda satu tahun daripada Luhan. Rumah mereka bersebelahan dan mereka senang bermain bersama. Luhan akan datang sepulang sekolah dan Yoon telah siap bersama alat dokter mainannya.

“Dokter Yoon, aku sedang sakit. Hidungku tersumbat dan kepalaku sedikit pusing.”

“Berbaringlah disini, pasien Luhan. Aku akan memeriksamu dulu.”

Lalu mereka akan tertawa setelah bosan bermain. Kemudian Yoon Eun Rim akan ke dapur dan kembali pada Luhan dengan nampan berisi sepiring kukis dan dua gelas susu cokelat buatan ibunya.

Mereka adalah sepasang teman baik.

***

Pulang sekolah, setelah mengganti baju, Luhan datang lagi ke rumah Yoon Eun Rim. Kali ini dia datang dengan membawa sebuah kotak kecil berpita merah. Diberikannya kotak itu untuk Yoon Eun Rim.

“Ini apa?”

“Itu untukmu.”

“Maksudku, isinya apa?”

“Buka saja sendiri.”

Yoon Eun Rim mengikuti perkataan Luhan. Dia membuka kotak itu dan mendapati tiga lembar kertas kecil. Kosong. Tak bertuliskan apa-apa.

Lalu Luhan menjelaskan, “Itu namanya kertas ajaib. Aku membelinya di sekolahku.”

“Lalu, bagaimana cara menggunakannya?”

“Tulis saja permintaanmu di kertas itu. Lalu lipat dan masukkan lagi kedalam kotaknya. Satu kertas samadengan satu permintaan. Tiga kertas maka tiga permintaan.”

“Begitu, ya. Ini seperti  jin dalam botol, ya.”

Mereka tertawa. Tapi Yoon Eun Rim tidak salah. Itu memang seperti jin dalam dongeng yang pernah diceritakan oleh ibunya sebelum tidur.

***

Dua tahun berlalu dan mereka tetap menjadi teman baik. Atau sekarang mereka naik pangkat menjadi sepasang sahabat. Tidak ada yang berubah kecuali umur, tinggi, serta berat badan mereka. Sekarang Yoon telah menjadi adik kelas Luhan. Mereka satu sekolah dan bertetangga. Tak ada yang salah jika mereka berangkat bersama. Luhan baru saja dibelikan sepeda baru oleh ayahnya. Dan Yoon Eun Rim adalah orang pertama yang diboncengnya.

Yoon terlihat ragu. Maka dia bertanya, “Apa kau benar-benar bisa memboncengku?”

“Tenang saja. Aku pengendara sepeda paling jago di kelasku. Cepat naik kalau tak mau terlambat.”

Lalu mereka berangkat bersama menggunakan sepeda baru Luhan.

Yoon Eun Rim sedikit tidak percaya pada kertas ajaib yang pernah diberikan Luhan. Tapi saat dia mencoba satu kertas, permintaan itu terkabul dengan baik. Maka dia mempercayai kertas itu mulai dari sekarang.

Aku ingin berada dalam sekolah yang sama dengan Luhan.

Luhan juga punya kertas ajaib. Dia mengisi satu kertas dan masih tersisa dua lembar kertas lagi. Dia tersenyum seraya mengayuh sepeda. Karena permintaannya juga terkabul.

Aku ingin membonceng Yoon dengan sepeda baruku.

***

Sepulang sekolah, Luhan menyelimuti tubuhnya. Dia merasa tidak sehat hari ini. Dia ingin istirahat saja. Dalam hati ia meminta maaf karena tak bisa menemani Yoon di rumahnya. Juga karena dia pulang mendahului Yoon.

Luhan sempat tertidur kurang lebih satu jam sebelum pintu kamarnya terbuka. Sosok Yoon Eun Rim berdiri disana. Masih lengkap bersama seragamnya.

“Yoon..”

“Kudengar dari ketua klub seni musik, kau sedang sakit.” Gadis itu melangkah menghampiri Luhan. Tampak sekali bahwa ia begitu cemas. “Kenapa tidak memberitahuku?” tanyanya kemudian.

“Maaf, ya.”

“Kalau kau memberitahuku, aku kan bisa ijin dari pelajaran tambahan untuk merawatmu.”

Luhan mendudukkan dirinya secara perlahan. Sekarang ia merasa sedikit lebih baik daripada sebelum tidur tadi. “Itu dia, aku tak ingin kau tertinggal pelajaran. Lagipula, aku sudah baikan, kok.” Luhan tersenyum. Lalu dia berkata lagi, “Maaf, ya. Aku tak bisa menemanimu.”
“Kalau begitu, sekarang aku yang menemanimu. Oke?” Yoon Eun Rim melihat-lihat sekelilingnya. “Ibumu belum pulang, kan? Bagaimana kalau kita bermain ibu dan anak?”

Luhan masih tersenyum. Kali ini dia menganggukkan kepalanya perlahan.

“Luhan sayang, kau tunggu disini, ya. Ibu akan membuatkanmu cokelat hangat dulu.”

Yoon Eun Rim beranjak menuju dapur. Luhan melirik kotak kecil di atas nakasnya. Itu adalah kotak kertas ajaib. Luhan ingat bahwa dia pernah menulis pada lembar kedua dan kini permintaannya terkabul lagi.

Secangkir cokelat hangat dari Yoon Eun Rim disertai panggilan sayang.

***

Kertas ajaib yang kedua, Yoon Eun Rim menuliskannya dengan: Aku ingin es krim rasa cokelat dari Luhan. Seharusnya permintaan semudah itu bisa dikabulkan. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Dia harus memberikan Luhan sebuah es krim cokelat berbentuk cone.

Apa jangan-jangan Luhan menulis permintaan yang sama di kertas itu?

Beberapa hari yang lalu, Luhan dan Yoon Eun Rim membuat taruhan; kalau Luhan lulus dengan nilai rata-rata diatas delapan, maka Yoon harus memberikan satu buah es krim untuk Luhan. Jika tidak, maka sebaliknya.

Dan mereka berakhir duduk di taman, dengan sebuah es krim rasa cokelat di tangan Luhan.

“Aku ini cerdas, jangan heran kalau nilaiku bisa setinggi itu.” Kata Luhan sedikit sombong sambil menikmati es krimnya. Yoon Eun Rim mengerucutkan bibirnya, kesal.

Dia bukan kesal karena kalah taruhan. Dia bukan kesal karena di kedai es krim tadi hanya tersisa satu es krim rasa cokelat, sehingga dia tidak bisa menikmatinya.

Yoon Eun Rim kesal karena dia akan pisah sekolah dengan Luhan. Dia sedikit tidak rela. Dia ingin Luhan selalu ada dalam jarak yang dekat dengannya.

“Kau jelek kalau seperti itu. Aku tak suka.” Luhan tidak berbohong. Wajah Yoon sekarang mirip dengan bebek peliharaan bibinya di Beijing.

“Kau mau es krimnya? Tapi sudah habis.” Luhan meraba sudut bibirnya. Ada sisa es krim disana. “Ini saja, ya.” Luhan memasukkan ujung telunjuknya pada bibir Eun Rim. Membiarkan temannya itu merasakan es krimnya melalui jarinya.

Permintaan Yoon Eun Rim pada kertas ajaib itu akhirnya terkabulkan. Dia bisa merasakan manisnya es krim cokelat dari Luhan. Bukan. Ini bahkan lebih spesial.

Itu dari…

Bibir Luhan.

***

Waktu berjalan lagi dan ini sudah memasuki tahun ajaran ketiga untuk Luhan di sekolah menengah atasnya. Yoon Eun Rim kembali menjadi adik kelasnya—gadis itu kelewat senang tentang ini—. Mereka tetap berangkat sekolah bersama. Hanya saja, sepeda Luhan kini berganti menjadi sebuah motor besar berwarna hitam yang sangat keren. Kini tinggi badan Yoon hanya sebatas telinga Luhan saja—padahal dulu ketika masih kecil, tinggi mereka benar-benar sama—.

Yoon Eun Rim sedikit menyesal karena tidak terlalu rajin minum susu seperti Luhan. Seperti saat ini, dia lebih memilih sekaleng soft drink dan sebungkus kentang goreng sebagai pendampingnya. Dan Luhan memilih sekotak susu kemasan dengan sesekali mencomot kentang goreng milik Yoon Eun Rim.

“Tidak terasa sudah bertahun-tahun kita berteman.” Luhan menerawang langit biru yang begitu cerah. Dia bertaruh, hujan tidak akan datang dalam waktu dekat.

“Kau benar. Kita sudah tidak pernah bermain dokter-dokteran lagi. Lama sekali, ya.”

“Kita akan bertambah tua, Yoon.”

“Iya. Kita akan terpisah dan…memiliki hidup masing-masing.”

Keduanya diam. Saling membayangkan jika mereka sudah mempunyai keluarga sendiri. Ada saatnya mereka saling melupakan.

Tapi, Luhan si jenius punya sebuah ide cemerlang. Yang mungkin saja bisa menjadi solusi agar mereka tidak saling lupa satu-sama lain.

“Kalau begitu, kita pacaran saja. Lalu kita menikah, kau lahirkan dua anak yang tampan dan cantik, lalu kita akan bersama sampai benar-benar tua nanti.”

Yoon Eun Rim hampir saja memuntahkan kentang goreng dimulutnya jika tidak cepat-cepat meneguk soft drink-nya.

“Kau konyol, Luhan. Demi Tuhan.”

“Tapi aku serius dengan itu. Aku pria dan kau wanita. Kita selalu bersama sejak kecil dan mustahil jika aku tak memiliki perasaan padamu.”

Luhan ada benarnya juga. Karena Yoon Eun Rim juga sudah jatuh cinta pada Luhan sejak…

Entah. Dia sendiri lupa sejak kapan bisa jatuh cinta pada Luhan.

“Aku suka padamu, Yoon.”

Dia ingin berlari keliling taman ini sebanyak delapan kali dan meneriakkan bahwa dia juga sangat menyukai Luhan. Tapi, dia masih ingat dengan rasa malu yang pernah diajarkan ibu dan gurunya dulu.

“Luhan, aku juga suka padamu. Sudah lama dan itu sangat banyak.”

Luhan mengecup bibir Yoon singkat—hanya sebentar saja.

“Itu ciuman pertama kita dan itu tanda bahwa kau menjadi pacarku sekarang.”

Mereka berakhir bahagia seperti dongeng Cinderella yang dulu pernah didengar Yoon Eun Rim dari ibunya.

Percaya atau tidak, kertas ajaib itu benar-benar terbukti. Tidak tahu kertas itu benar-benar ajaib atau hanya karena kebetulan. Tapi permintaan yang mereka tuliskan benar-benar terkabul, termasuk permintaan pada kertas terakhir mereka yang tertulis dengan kalimat yang sama persis—hanya gaya tulisan saja yang membedakan.

Xi Luhan dan Yoon Eun Rim akan menjadi sepasang kekasih, lalu suami-istri, dan terus bersama selamanya.

FIN

Masih repost ya, schedule pula. Sorry banget T-T

2 thoughts on “[Vignette] Wonderful Papers

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s