Better Than Goodbye

betterthangoodbye2

Better Than Goodbye

The Cast:

Luhan – Jessica

Supporting Cast:

Byun Baekhyun – Oh Sehun – Kim Hyemi – Wu Yifan/Kris

Oneshoot | PG15+ | Romance

Written by © Amy Park

Thank you for your amazing poster, Sifixo @ Indo Fanfiction Art ^^

Note: Sebenarnya ini merupakan another version of ending ff aku yang berjudul The Destiny of Us, tetapi bagi yang belum baca sama sekali ff The Destiny of Us tersebut bisa langsung baca ini tanpa perlu khawatir tidak akan mengerti. Happy reading!

.

.

Every ending has a new beginning…

***

“Dia sudah kembali?”

“Yep!”

“Kau sudah bertemu dengannya?”

“Yep!”

“Bagaimana kabarnya sekarang?”

“Semakin cantik.”

Bibir Luhan tertarik untuk tersenyum ketika mendengar jawaban seseorang dari seberang sana. Ia memainkan perahu kertas yang ada di atas meja kerjanya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menggenggam ponsel dan tampak enggan melepaskannya.

“Tapi hidupnya kacau karena ulahmu.”

Senyuman Luhan kandas ketika ia mendengar kalimat itu. Ia pun berkata, “Ia baik-baik saja?”

“Mana ada orang yang hidupnya kacau tapi keadaannya baik-baik saja, bodoh. Jessica tidak bisa melupakanmu walau sudah tujuh tahun berlalu sejak kau meninggalkannya. Kau masih tidak ingin kembali?” suara pria di seberang sana meninggi, terdengar kesal.

Luhan menghela napas, “Aku tidak tahu.”

“Masih betah menjadi seorang pengecut, uh?”

Luhan terkekeh. Perkataan itu memang sebuah hinaan baginya, tetapi dia tidak akan menolak dihina seperti itu karena memang hinaan itu adalah sebuah kenyataan. Luhan pun menjawab, “Sepertinya begitu.”

“Bisakah kau kembali ke Korea dan perbaiki hubunganmu dengan Jessica?”

Luhan berhenti memainkan perahu kertas kemudian beranjak dari kursi, berjalan mendekati sebuah kaca besar yang ada di ruang kerja. Matanya kini sibuk memandangi pemandangan malam kota Beijing dari kaca tersebut. Seandainya ia bisa menikmati pemandangan itu dengan Jessica…

“Aku akan membuatnya lebih menderita jika kembali, Baekhyun-ah.”

“Ck. Kau ini bodoh atau idiot, sih. Semenjak kau meninggalkan Jessica, hidup wanita itu menjadi kacau balau. Dia merindukanmu, dia masih mencintaimu, dan kehadiranmu akan menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan untuk Jessica!”

“Bukan aku yang membuatnya menderita, tetapi takdir yang membuat kami menderita.”

That shit about destiny again. Seriously, Luhan, apa kau masih berpikir bahwa takdir menentang hubungan kalian?”

“Sepertinya begitu.”

“Otakmu perlu dibenahi!”

Luhan terkekeh. “Kau benar. Otakku memang harus dibenahi.”

“Maka segeralah benahi otakmu dan kembali ke Korea, atau aku akan menyusul dan menyeretmu untuk kembali pulang!” perintah Baekhyun tegas.

“Apa dia benar-benar menderita karena aku?”

“Oh, astaga, Luhan!! Lebih baik kau kembali ke Seoul dan lihatlah keadaan Jessica secara langsung! Aku tahu kau juga masih mencintainya. Maka, segeralah kembali!”

Luhan menghela napas. “Akan aku pertimbangkan.”

Aish, whatever. Mulai detik ini, kau jangan hubungi aku lagi. Aku sudah tidak sudi memberitahu keadaan Jessica padamu. Mulai sekarang, jika kau ingin mengetahui kabar Jessica, carilah sendiri! Goodbye!”

Senyuman kembali tersungging di bibir Luhan ketika Baekhyun menutup percakapan mereka dengan nada bicara ketus dan secara sepihak. Luhan memasukkan ponsel ke dalam saku terlebih dahulu sebelum ia kembali memandangi suasana malam kota Beijing dari kaca jendela besar ruang kerjanya. Apakah ia harus kembali kembali pada Jessica?

Luhan mengusap wajahnya sekilas seraya menghela napas. Ini bukan salah kedua orang tuanya yang menjodohkan Luhan dengan Jessica, karena pada kenyataannya, Luhan memang sudah menyukai Jessica bahkan sebelum orang tuanya memutuskan perjodohan tersebut. Namun, menikahi Jessica yang pada waktu itu masih berumur delapan belas—sedangkan Luhan sudah berusia dua puluh tiga, adalah hal yang sulit bagi Luhan. Wanita itu masih muda, ia masih berada dalam usia yang cocok menikmati kebebasan dan kondisi emosinya masih labil. Tujuh tahun yang lalu, dirinya pun sebenarnya belum siap menikah, tetapi ia sama sekali tidak bisa menolak keinginan orang tua sehingga menerima perjodohan itu dan menikah dengan Jessica.

Maka dari itu, ketika masalah datang menimpa rumah tangga mereka, baik Jessica maupun Luhan tidak bisa bekerja sama untuk menyelesaikan masalah tersebut. Ketika mantan kekasih Luhan tiba-tiba datang dan ingin memisahkan Jessica dan Luhan, ketika Jessica menerima cinta Baekhyun agar ia bisa terlepas dari Luhan, dan ketika Luhan sudah bisa melihat ketulusan cinta Baekhyun untuk Jessica—sebelumnya Luhan tahu bahwa Baekhyun hanya mencintai Jessica karena wanita itu mirip dengan mantan kekasih Baekhyun yang sudah meninggal—membuat Luhan berpikir bahwa takdir menentang hubungannya dengan Jessica. Ia pun tidak ingin membuat Jessica terbebani oleh masalah rumah tangga di usianya yang masih remaja.

Oleh karena itu, Luhan memilih untuk bercerai dengan Jessica dan tidak akan menemui wanita itu lagi. Jika Luhan merindukan Jessica, ia tinggal menanyakan kabar wanita itu kepada Baekhyun atau Yejin—sahabat Jessica. Ia tidak ingin kembali ke Seoul karena ia merasa bahwa kepergiaannya akan membuat Jessica hidup lebih bahagia. Namun, Baekhyun dan Yejin malah memberitahunya bahwa hidup Jessica amat kacau karena kepergiannya. Apa hal yang mereka katakan adalah benar? Apakah Jessica benar-benar mencintainya? Luhan masih ragu akan hal itu. Ia terlalu takut akan membuat Jessica menderita lagi.

“Permisi, Tuan.”

Luhan tersadar dari lamunan ketika suara sekretarisnya terdengar. Dia berbalik dan berucap, “Ada masalah apa?”

“Teman Anda menelepon,” jawab sekretaris wanita tersebut.

“Siapa?”

“Wu Yifan.”


Luhan menyambut kedatangan Yifan dengan pelukan bersahabat yang singkat. Setelah itu, mereka duduk di meja bar dan mulai menikmati wine terbaik yang tersedia di bar mewah tersebut.

“Bagaimana keadaanmu, Han? Aku benar-benar tidak bisa bertemu denganmu lagi setelah kita lulus dari universitas.”

Luhan tersenyum. “Keadaanku? Tidak terlalu baik.”

“Kenapa? Apa karena perpisahan dengan sang istri?”

Luhan yang hendak meneguk wine-nya, terpaksa menunda dan meletakkan gelas kembali. Ia memandang Yifan heran, “Dari mana kau tahu bahwa aku pernah menikah?”

Yifan mengedikkan bahu. “Amber. Sepupumu.”

“Kau bertemu dengan Amber? Di mana?”

“CUC’s[1] School of Cinema and Television Arts mengadakan reuni akbar seminggu yang lalu dan aku bertemu dengan Amber di acara itu. Sayang sekali, ya, aku bahkan baru tahu kau menikah ketika kau sudah bercerai dengan istrimu. Dan, hey, kau bahkan tidak hadir di acara reuni almamatermu sendiri!”

Luhan tersenyum setelah meneguk wine-nya. “Ada perjalanan bisnis yang tidak bisa aku tinggalkan, membuatku tidak bisa hadir di reuni itu.”

“Ah, ya, direktur perusahaan memang selalu sibuk. Jangan-jangan kau bercerai dengan istrimu karena dia tidak tahan dengan kesibukanmu,” canda Yifan.

Tawa kecil Luhan terdengar. Pria itu menggeleng. “Bukan karena itu. Kami berpisah karena takdir mengatakan bahwa kami harus berpisah.”

Yifan memandang Luhan dengan tatapan tidak percaya. “Kau percaya pada takdir?”

“Ini memang terdengar bodoh, tetapi banyak masalah yang menimpa kami sehingga aku berpikir bahwa takdir memang menentang kami untuk bersama.”

“Kau sudah mencoba untuk menyelesaikan masalah-masalah itu? Dengan segala cara dan kerja keras yang kau punya?”

Luhan menjawab ragu, “Not really.”

Yifan pun tertawa ketika mendengar jawaban Luhan. “Kau memang bodoh, Luhan. Jika rumah tangga kalian ditimpa masalah, seharusnya kau mencari segala cara untuk menyelesaikan masalah itu, bukan malah langsung menyimpulkan bahwa masalah tersebut adalah tanda hubungan kalian ditolak oleh takdir. Oh, ayolah, siapa yang tahu akan takdir? Takdir adalah hal yang abstrak dan pergerakan takdir sesungguhnya ada di tangan kita sendiri.”

“Tapi aku hanya akan membuat dia terluka jika mempertahankan hubungan kami,” ucap Luhan lirih.

Yifan menatap Luhan serius. “Kau mencintainya, bukan?”

“Ya. Bahkan sampai sekarang pun aku tidak bisa melupakannya.”

Yifan bergeram, gemas akan sikap Luhan yang menurutnya tidak masuk akal dan bodoh. “Kau mencintainya tapi kau lebih memilih berpisah dengannya?”

Yes.”

Pria itu terdiam ketika Luhan tampak tidak ingin membahas masalah cintanya. Namun, sebagai seorang teman, Luhan memang perlu diberi sedikit petuah demi kebaikan dan kebahagiaan Luhan sendiri. Maka, Yifan pun kembali bertanya, “Siapa nama istrimu? Berapa umurnya? Bisakah aku melihat fotonya?”

“Wow, Wu, kau seperti paparazi yang ingin menulis berita tentangku.”

“Anggap saja begitu. Sekarang, jawab semua pertanyaanku.”

Luhan menghela napas seraya menuruti perintah Yifan. “Jessica Jung. Dua puluh lima tahun. Kau bisa melihat fotonya.”

Luhan segera mengeluarkan ponsel miliknya, hendak menunjukkan foto Jessica pada Yifan, tetapi Yifan menghentikan niat Luhan dengan pertanyaannya yang lain. “Kau menikahinya ketika ia berusia delapan belas? Are you kidding me?”

“Sulit dipercaya, eh?” jawab Luhan sambil tersenyum tipis seraya menlajutkan, “Kami dijodohkan.”

Yifan mengangguk mengerti kemudian meneguk wine miliknya. Di saat yang bersamaan, Luhan menunjukkan foto Jessica kepada Yifan. Namun, Yifan yang sedang meneguk wine tiba-tiba tersedak setelah melihat wajah mantan istri sahabatnya tersebut.

Are you okay?” tanya Luhan heran.

Yifan membersihkan daerah di sekitar mulutnya yang terkena cipratan wine kemudian bertanya lagi, “Foto wanita yang tadi kau tunjukkan adalah Jessica? Jessica mantan istrimu? Serius?”

Sebelah alis Luhan terangkat. “Serius. Memangnya kenapa?”

“Astaga, dunia memang sempit, ya. Jessica adalah bekas muridku.”

Kening Luhan berkerut ketika mendengar jawaban Yifan. Pria itu semakin tidak mengerti dengan apa yang sahabatnya itu katakan. “Maksudmu?”

“Oh, aku lupa bercerita. Aku pindah ke Fashion Institute of Technology[2], bertugas sebagai asisten dosen indrustry business and advertising di sana, dan Jessica adalah mahasiswa yang paling aku hafal karena kenakalannya!”

“Kenakalannya?”

Yifan mengangguk. “Walau aku akui Jessica merupakan mahasiswa cerdas yang berhasil lulus tepat waktu, tetapi sungguh, selama masa kuliah dia selalu membawa whiskey dan selalu minum dengan komplotannya. Memang, tidak banyak whiskey yang mereka minum, tetapi apa layak di wilayah pendidikan mereka bersikap seperti itu? Sungguh menyebalkan.”

“Apa Jessica sungguh bertingkah seperti itu?”

“Memangnya aku terlihat sedang berbohong padamu, ya? Mungkin ini membuatmu kecewa, tetapi begitulah sikap Jessica selama masih menjadi muridku. Untunglah dia mahasiswa cerdas. Jika bukan, aku yakin dia tidak akan pernah menyelesaikan kuliahnya.”

Luhan terdiam mendengar penjelasan Yifan. Mungkin inilah kehidupan kacau Jessica yang selalu disebutkan oleh Baekhyun dan Yejin. Kehidupan kacau yang sungguh tidak ingin Luhan harapkan terjadi pada Jessica. Saat ini juga, Luhan segera menyadari kebodohannya. Kebodohannya telah meninggalkan Jessica dan membuat wanita yang paling dicintainya itu harus memikul luka selama tujuh tahun lamanya. Luhan sadar, dirinya sudah melakukan suatu kejahatan yang fatal.

“Dia tidak seperti itu, Yifan. Percayalah, aku yang mengubahnya menjadi seperti itu.” Tutur Luhan sambil menatap lurus ke meja bar.

Yifan menghela napas, seketika menyesal karena telah membuat Luhan sedih, tetapi sedikit senang karena informasi yang ia berikan membuat Luhan sadar akan kesalahannya. “There’s something better than saying goodbye to her, Luhan.”

“Aku sudah terlanjur mengatakan selamat tinggal pada Jessica, Yifan. Aku sudah terlanjur mengakhiri semuanya.”

“Segala akhir memiliki awal yang baru, Han. Kembali dan ungkapkan seluruh perasaan maaf dan menyesalmu kepada Jessica. Jika memang benar sikap Jessica berubah karenamu, sesungguhnya wanita itu hanya terpukul akan kehilanganmu dan mengharapkanmu kembali.”

Luhan mengangguk mengerti. “Apa aku bisa merebut hatinya kembali?”

If you believe it, then you can do it, dude!”


Māmā, sejak kapan kau ada di sini?” tanya Luhan ketika pria itu baru saja tiba di rumah dan mendapati sang ibu yang tengah duduk santai di sofa.

“Satu jam yang lalu.”

Luhan mengangguk seraya duduk di hadapan nyoya Lu. Ia teringat akan niatnya yang ingin kembali dengan Jessica. Luhan ingin meminta pendapat ibunya akan keinginannya tersebut. “Bagaimana tanggapanmu tentang perceraianku dengan Jessica?”

Nyonya Lu tersenyum. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku hanya ingin tahu, mengingat kau tidak pernah berkomentar mengenai perceraianku.”

“Kau mau tahu pendapatku, Luhan? Secara jujur?”

“Tentu saja.”

Nyonya Lu menghela napas seraya melipat kedua tangan di dada. “Kau mengecewakan aku. Aku yang pertama kali menjodohkanmu dengan Jessica, tetapi kau mungkin tidak mencintai Jessica sehingga memilih bercerai. Karena hal itu, walau aku kecewa atas perceraian kalian, aku sama sekali tidak bisa menyalahkanmu.”

“Kau salah, Mom. Aku mencintai Jessica.”

Sebelah alis Nyonya Lu terangkat, menandakan bahwa wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu sedang kebingungan. “Mengapa kalian bercerai? Apa Jessica tidak mencintaimu?”

Luhan menggeleng. “Dia pun mencintaiku. Kami saling mencintai.”

“Kau sedang berbicara apa, Luhan? Kau membuatku bingung.”

Senyuman kecil Luhan mengembang. Ia menjawab, “Kami saling mencintai, tetapi banyak masalah yang datang dan kami tidak bisa menyelesaikannya, sehingga aku berspekulasi bahwa itu menandakan hubungan kami ditentang takdir dan pada akhirnya aku memutuskan bercerai dengan Jessica karena aku tidak ingin membuatnya menderita. Tapi aku salah, Māmā, perceraian kami malah menjadikan Jessica semakin menderita. Perceraian ini membuat kami menderita.”

Nyoya Lu menggeleng, sedikit terkerjut dengan apa yang putranya telah sampaikan. Ia berucap, “Kenapa kau tidak pernah meminta solusi padaku untuk menyelesaikan masalah dan malah memutuskan untuk bercerai, Luhan? Dan, sudah tujuh tahun berlalu sejak perceraianmu dengan Jessica, tetapi mengapa kau baru memberitahukan hal ini padaku?”

“Maafkan aku.”

Nyonya Lu menghela napas untuk yang kesekian kali. “Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?”

Luhan memejamkan mata sejenak kemudian menjawab. “Aku ingin kembali dengan Jessica. Aku ingin kau membantuku untuk kembali dengan Jessica lagi. Aku takut orang tua Jessica menentang hubunganku dengannya lagi sehingga aku membutuhkanmu—“

“Aku mengerti, Luhan,” potong Nyonya Lu sambil tersenyum. Wanita itu pun kembali berkata, “Aku akan menjelaskan semua ini pada keluarga Jung. Kita akan berangkat ke Korea besok pagi. Kau tidak ada pekerjaan penting, bukan, untuk minggu ini?”

Senyuman bahagia sekaligus lega terpancar dari bibir Luhan. “Tidak ada pekerjaan penting. Xièxiè, Māmā.”


Setelah tiga hari di Seoul dan hanya menghabiskan waktu di rumah, Luhan akhirnya sanggup menghirup udara segar, berjalan-jalan mengelilingi Seoul dan mampir ke rumah sahabat yang sudah lama tidak ditemui olehnya.

“Luhan hyung!!”

“A-yo, Sehuna, apa kabar?” ujar Luhan kemudian menjabat tangan Sehun secara bersahabat.

“Masuklah, hyung.” Tutur Sehun seraya berjalan masuk menuju ruang tamu. Ia mempersilakan Luhan untuk duduk. Sehun pun segera menduduki sofa yang berada di hadapan Luhan.

“Rumahmu sangat luas. Kau benar-benar mengalami kemajuan yang pesat di perusahaan advertising, huh?” goda Luhan yang membuat Sehun mengibaskan tangan, tidak ingin membahasnya.

“Ah, ya, apa kau ingin bertemu dengan istriku?”

Luhan mengernyit. “Kau sudah menikah?”

Senyuman Sehun mengembang. “Ya, tetapi bukan dengan Seohyun karena kami sudah putus dan wanita itu juga telah memiliki suami. Kini, aku telah menikah dengan wanita yang ditakdirkan Tuhan sebagai pendamping hidupku.”

“Hey, bocah, kenapa kau tidak mengabariku akan hal ini? Bahkan kau tidak mengundangku ke pernikahanmu.”

Sehun menggaruk tengkuknya, bingung harus menjawab apa. Pada akhirnya dia menjawab, “Aku hanya tidak ingin mengganggu pekerjaanmu. Datang ke Korea hanya untuk menghadiri pernikahanku akan membuatmu capek. Perjalanan dari Beijing ke Seoul itu cukup melelahkan.”

“Tapi setidaknya kau harus mengabariku.”

“Oh, oke, maafkan aku. Sekarang aku sudah mengabarimu, bukan? Dan tunggu sebentar, aku akan memanggil istriku dan kau harus berkenalan dengannya.”

Luhan menggangguk dan Sehun pun segera beranjak dari ruang tamu. Beberapa menit kemudian, Sehun pun kembali dengan seorang wanita cantik yang tampak tengah mengandung. “Oh, annyeonghaseo, Kim Hyemi-imnida.”

Luhan membungkuk hormat kemudian berkata, “Aku Luhan, sahabat sekaligus pernah menjadi partner kerja suamimu. Dan, hey, Sehuna, ternyata sebentar lagi kau akan mempunyaki anak.” Perkataan Luhan hanya dijawab oleh senyuman canggung Hyemi.

“Sehun sudah pernah bercerita tentangmu.” Ujar Hyemi seraya duduk di hadapan Luhan, bersebelahan dengan Sehun.

“Oh, iya, hyung, apa yang membuatmu datang kemari? Hanya ingin bertemu denganku atau ada hal lain?”

Pertanyaan Sehun membuat Luhan berdecak. “Dua-duanya. Aku ingin bertemu denganmu dan meminta bantuanmu.”

“Meminta bantuan terkait hubunganmu dengan Jessica, ya?”

Pertanyaan polos yang terlontar dari mulut Hyemi membuat Sehun menatap Luhan waswas. Ia tidak ingin membuat Luhan berpikir bahwa dirinya telah membeberkan kehidupan pribadi Luhan pada sang istri. “Hyung, aku tidak—“

“Selain bercerita tentangmu, dia juga bercerita tentang kisah cintamu bersama Jessica. Yep, mulutnya memang tidak bisa menjaga privasi orang lain.”

Sehun berdesis. “Aku tidak akan menceritakan kisah cinta Luhan dengan Jessica jika kau tidak meminta aku untuk menceritakannya. Aku masih bisa menjaga privasi orang lain, tahu.”

“Kau bisa saja menolak untuk bercerita jika mulutmu memang bisa menjaga privasi orang lain,” ujar Hyemi kemudian menjulurkan lidah pada Sehun. Wanita itu memang selalu menang jika adu debat dengan Sehun. Hal itu membuat Sehun mengerucutkan bibirnya kesal.

Luhan terkekeh melihat sepasang suami-istri tersebut. “Selagi kisah yang Sehun ceritakan padamu benar, itu tak menjadi masalah, Hyemi-ah

Hyemi mengangguk mengerti. Sehun pun memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan, “Kau mau meminta bantuan apa, hyung?”

Luhan terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Aku diundang ke pesta pernikahan seniornya Jessica, tetapi aku tidak bisa hadir. Kau bisa menggantikan aku, kan?”

Sehun mengerutkan kening. “Kenapa harus aku yang datang?”

“Apa kau takut bertemu dengan Jessica di sana?” tanya Hyemi seolah-olah bisa menerawang pikiran Luhan.

Luhan tersenyum samar. “Mungkin.”

“Kau sudah tidak mencintainya, hyung?”

“Aku masih mencintainya.”

“Lalu mengapa kau tidak ingin bertemu dengan Jessica?” tanya Hyemi.

“Bukan tidak ingin, tetapi belum siap.” Luhan menghela napas terlebih dahulu sebelum melanjutkan, “Aku ingin merebut hati Jessica lagi, tetapi jika aku muncul di depan Jessica secara tiba-tiba, aku takut ia tidak siap dan malah meninggalkan aku. Aku telah menyakitinya selama tujuh tahun terakhir ini.”

Hyemi dan Sehun mengangguk mengerti. Luhan menatap Sehun dengan amat memohon, “Kau mau membantuku, bukan?”

“Iya, dia mau.”

Sehun memandang Hyemi dengan jengkel, sedangkan wanita itu hanya terkekeh geli. “Oke, maaf. Aku berkata seperti itu karena memang pada kenyataannya kau ingin membantu Luhan, bukan? Aku hanya menyampaikan isi hatimu saja, Sehuna.”

“Kau benar juga, sih.” Ujar Sehun seraya menghela napas.

Luhan tersenyum. “Terima kasih.”


Setelah mendapat kabar dari Sehun yang pergi ke pernikahan seniornya Jessica, hati Luhan semakin gundah. Sahabatnya itu bilang bahwa Jessica tampak sedih dan tidak seceria dulu. Maka dari itu, hari ini ia berniat untuk menemui Baekhyun. Seseorang yang telah menjaga Jessica ketika ia pergi, seseorang yang tidak berhasil mendapatkan hati Jessica karena wanita itu masih mencintai Luhan.

Suasana taman sungai Han malam ini lumayan ramai. Banyak orang-orang yang datang ke tempat itu dengan teman, keluarga, dan bahkan kekasihnya, sedangkan Luhan hanya bisa duduk di sebuah bangku berkarat seorang diri, menunggu kedatangan Baekhyun.

“Kedatanganmu ke sini sama saja tidak berguna jika tidak memiliki nyali untuk bertemu Jessica.” Luhan mendongkak dan mendapati kehadiran Baekhyun. Baekhyun pun segera duduk di samping Luhan seraya melanjutkan, “Kenapa kau tidak menerima undanganku untuk hadir di pernikahan Taeyeon dan Chanyeol, huh? Jika kau datang, kau bisa bertemu dengan Jessica.”

“Itu bukan waktu yang tepat, Baekhyun-ah.”

“Lalu waktu yang tepat itu kapan? Setelah sang waktu itu sendiri sudah tidak berputar lagi?” tanya Baekhyun dengan nada sarkasme yang menusuk.

Luhan tersenyum kecil seraya menjawab. “Aku sudah merencenakan sesuatu untuk kembali dengan Jessica. Aku telah sadar bahwa pemikiranku selama ini adalah sebuah kebodohan. Aku sadar bahwa selama ini aku telah melakukan banyak kesalahan pada Jessica. Ada hal yang lebih baik daripada berpisah dengan wanita itu. Aku mencintainya, dia pun mencintaiku, sudah sepantasnya kami kembali bersama, bukan?”

“Baguslah jika kau sudah sadar,” ujar Baekhyun tanpa melihat ke arah Luhan.

Luhan menghela napas. “Aku akan memulainya dari awal lagi.”

“Ya, kau harus melakukannya.”

“Dan terima kasih telah mengawasi dan mejaga Jessica selama ini.”

Baekhyun mengedikkan bahu. “Aku hanya mengetahui kabar Jessica dari Yejin. Orang yang paling berjasa dalam masalah ini adalah Yejin.”

“Tapi kau juga telah menjaga dan peduli pada Jessica. Tidak ada salahnya jika aku berterima kasih padamu.”

Baekhyun mengibaskan tangan seraya berdecak. “Stop being so cheesy. Kau tidak usah berterima kasih padaku. Sungguh.”

Luhan tertawa kecil lalu berkata, “Oke, baiklah.”

Setelah suasana di antara mereka berdua hening sesaat, Baekhyun pun kembali berucap. “Jadi, kau sedang merencanakan suatu hal untuk kembali bersama Jessica lagi?”

“Ya. Kau benar.”

Baekhyun menepuk bahu Luhan sekilas. “Semoga berhasil.”


Luhan hendak berjalan memasuki mini market, tetapi langkahnya terhenti ketika ia mendapati seseorang yang dikenalnya keluar dari sana sambil membawa kantong kresek yang dipenuhi minuman keras. Seseorang itu adalah Jessica. Wanita yang dicintainya. Luhan menggertakkan gigi karena kesal, kesal dengan minuman yang dibeli oleh Jessica.

Pria itu segera mengeluarkan masker dari saku celana kemudian memakainya. Luhan yang sedari tadi memakai topi, kini wajahnya benar-benar tertutup karena masker yang dikenakannya. Tanpa ragu, Luhan menghampiri Jessica secara tiba-tiba sehingga membuat wanita itu kaget, sekaligus ketakutan. Jessica memeluk kantong kresek dengan erat. Wanita itu takut. Takut seakan-akan Luhan berniat untuk menculik dan membunuhnya.

“K-kau mau apa?”

Luhan tidak menjawab. Ia segera mengambil kantong kresek yang dipegang Jessica secara paksa, membuat Jessica semakin takut dan tidak berani melihat Luhan. Dengan hati yang berat, Luhan pun berbalik dan segera meninggalkan Jessica. Oh, sial, kenapa Luhan harus bertemu dengan Jessica dengan cara seperti ini? Sungguh. Dia ingin segera kembali bersama Jessica dan menghentikan kebiasaan minum wanita itu.


Luhan tidak bisa membuat pergerakan kakinya berhenti ketika duduk sendirian di sebuah restoran, menanti kehadiran kedua orang tua Jessica dengan panik. Setelah bertemu dengan Jessica di mini market dan mengetahui jumlah soju yang dibeli oleh wanita itu, Luhan yakin kondisi Jessica memang amat berbanding terbalik dengan sikap wanita itu sebelum ia pergi meninggalkannya. Dan kini, ia cemas akan reaksi apa yang diberikan kedua orang tua Jessica padanya, mengingat dirinyalah yang membuat putri keluarga Jung menjadi seperti itu.

“Luhan?”

Luhan tersontak kaget dan secara refleks berdiri. Kecemasannya membuat ia tidak menyadari akan kehadiaran tuan dan nyoya Jung. Luhan tersenyum kaku seraya berkata, “Ah, Tuan Jung, Nyonya Jung.”

“Apa perceraian membuatmu tidak ingin memanggil kami dengan sebutan appa dan eomma lagi?” tanya nyonya Jung dengan nada kecewa.

Luhan segera menggeleng. “Bukan begitu, eomma, aku hanya terlalu panik sehingga memanggil kalian dengan sebutan seperti itu. Ah, iya, silakan duduk.”

Tuan dan nyonya Jung pun segera duduk berhadapan dengan Luhan. Tiada percakapan di antara mereka setelah beberapa menit duduk. Luhan hanya bisa menunduk, sedangkan tuan dan nyonya Jung terdiam dengan pikirannya masing-masing. Keadaan hening itu pun pada akhirnya dihentikan oleh tuan Jung.

“Luhan, apa benar kau masih mencintai Jessica?” tanya tuan Jung membuat Luhan mendongkak dan menatap pria setengah baya itu dengan tatapan gugup.

Walau gugup, Luhan menjawab pertanyaan tuan Jung dengan mantap. “Tentu saja, appa, aku masih mencintai Jessica.”

“Kau sudah tahu tentang kondisi Jessica sekarang, bukan?” Giliran nyonya Jung yang bertanya.

“Itu adalah salahku, eomma. Maafkan aku karena telah membuat Jessica seperti itu. Aku—“

“Kami tidak menyalahkanmu.” Potong tuan Jung sambil tersenyum, “Kami malah ingin kau segera kembali dengan Jessica. Kami tahu bahwa satu-satunya cara untuk mengubah kondisi Jessica selama ini adalah dirimu, Luhan. Jessica menanti kehadiranmu, dan dengan senang hati kami akan membantumu untuk bersatu dengan Jessica lagi.”

Senyuman hangat tuan Jung membuat kegelisahan Luhan mengurang, bahkan hilang sepenuhnya. “Kalian akan menerimaku lagi sebagai menantu?”

Tuan dan nyonya Jung tertawa kecil mendengar pertanyaan Luhan. Nyonya Jung menatap Luhan lembut, “Kami akan selalu menerimamu, Luhan. Kau adalah yang terbaik untuk Jessica.”

“Terima kasih. Sungguh.”

“Tapi kau harus sedikit bersabar. Jessica agak keras kepala dalam menerima perintah kami. Namun percayalah, kau bisa kembali bersamanya.”


Luhan harus rela jam tidurnya terganggu ketika Baekhyun menghubunginya bahwa Jessica sedang dalam keadaan mabuk berat di sebuah kelab. Pada akhirnya, sekarang, di samping tidur nyenyak di kasur, Luhan malah bersusah payah memapah Jessica menuju apartemennya.

Luhan berhenti di depan pintu apartemen wanita itu, mencoba mengingat password yang diberikan Baekhyun dan memasukkannya sehingga pintu otomatis terbuka. Luhan pun kembali memapah Jessica memasuki apartemen, hendak membawanya ke dalam kamar. Ketika sudah sampai di depan pintu kamar, Jessica malah mencengkram lengan Luhan sehingga langkah mereka terhenti.

“Luhan!!” ujar Jessica dengan nada riang sekaligus kaget.

Luhan menghela napas. Ia sungguh tidak tega melihat keadaan Jessica yang sedang mabuk berat seperti ini. Ia pun berkata, “Kau selalu membuatku khawatir, Jess. Sungguh.”

Jessica tersenyum seraya menyentuh wajah Luhan dengan kedua tangannya. “Kau Luhan. Kau benar-benar Luhan menyebalkan itu.”

Kini, sentuhan Jessica membuat hati Luhan menjadi tidak karuan. Ia sangat merindukan wanita itu. Ia ingin sekali memeluk dan mencium wanita itu, tetapi keadaan Jessica sekarang menahan hasrat Luhan, sehingga pria itu hanya bisa tersenyum dan berkata dengan lembut, “Kau butuh istirahat.”

Luhan kembali memapah Jessica, memasuki kamar. Dengan perlahan, ia membaringkan Jessica di tempat tidur, “Sebentar, ya, aku akan mengambilkan air putih untukmu.”

Jessica mengubah posisinya menjadi duduk lalu memegang lengan Luhan agar pria itu tidak pergi. “Aku tidak butuh air putih dan aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.”

Sungguh. Perkataan Jessica membuat Luhan amat merasa bersalah karena telah meninggalkannya. “Maafkan aku, Jess.”

Jessica menggeleng kuat. Dirinya mulai terisak. “Kau adalah makhluk paling jahat di bumi ini! Bagaimana bisa kau mengucapkan selamat tinggal lewat secarik kertas, huh?! Kuno, klasik, basi, sekaligus menyakitkan, kau tahu!! Anehnya, walau kau telah menyakitiku, aku sama sekali tidak bisa melupakanmu. Kutukan apa, sih, yang kau pakai sehingga membuat aku tersiksa karena tidak bisa berhenti mencintaimu??!!”

Luhan segera duduk di tepi tempat tidur, menatap Jessica sendu. Jika seperti ini, Luhan benar-benar merasa seperti orang jahat untuk Jessica. Dirinya memang salah. Sangat salah. “Aku salah. Maafkan aku.”

“Aku tidak akan membiarkan kau pergi untuk yang kedua kalinya. Titik.”

Tubuh Luhan pun seketika membeku ketika Jessica melingkarkan kedua lengan di lehernya kemudian mencium bibirnya. Rasa rindu Luhan pada Jessica pun menjadi semakin tidak terbendung lagi sehingga pria itu kini segera melingkarkan kedua tangan di pinggang Jessica. Membawa wanita yang paling dicintainya ke dalam sebuah pelukan yang Luhan harap akan membuat Jessica lebih tenang dan nyaman. Luhan pun membalas ciuman Jessica secara mendalam. Namun, Luhan sadar bahwa hal ini tidak boleh berlanjut mengingat kondisi Jessica yang membutuhkan istirahat. Pria itu pun segera melepaskan ciuman mereka, kemudian terkekeh karena sadar tindakan itu membuat Jessica kesal.

Luhan tersenyum lembut dan berkata, “Tidurlah.”

Tanpa disangka, Jessica langsung membaringkan diri, menuruti perintah Luhan. Luhan pun segera beranjak, berniat berjalan mengintari tempat tidur dan membaringkan diri di sebelah Jessica. Namun sepertinya Jessica berpikir Luhan akan meninggalkannya sehingga wanita itu menarik tangan Luhan, membuat pria itu hampir saja terjatuh di atas tubuh Jessica jika tangan kananya tidak menahan tubuhnya.

“Sudah aku bilang, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi!” bentak Jessica kesal.

Luhan tersenyum kecil. Ia tersenyum karena sudah lama tidak melihat wanita itu marah. Ia pun berkata, “Aku tidak akan pergi.”

“Jika kau menyuruhku tidur, kau juga harus tidur!”

Kali ini Luhan terkekeh. Ia mengangguk seraya membaringkan diri di sebelah Jessica. Wanita itu tersenyum senang kemudian memeluk Luhan amat erat. Luhan pun membalas pelukan wanita itu, mengusap rambut Jessica penuh dengan kasih sayang. Ia akan menemani Jessica menuju alam mimpi, menjaganya tetap terlelap sampai mentari membangunkan mereka.


Luhan benar-benar membenci dirinya sendiri karena telah pergi dari apartemen Jessica tanpa pamit. Salahkan panggilan mendadak dari sang ibu yang menyuruhnya segera ke kantor untuk bertemu para pengusaha yang akan mengajukan kerja sama dengan perusahaannya. Luhan akan segera menebus kesalahannya pada Jessica dengan menemui wanita itu di restoran. Tidak hanya Jessica, di sana juga Luhan akan bertemu dengan kedua orang tua Jessica. Menjalankan misi untuk mengembalikan hubungan mereka.

Baru saja Luhan akan membuka pintu ruangan VIP restoran tersebut, suara teriakan terdengar, membuat Luhan menghentikan niatnya dan lebih memilih percakapan Jessica bersama tuan dan nyonya Jung dari balik pintu.

“Kau tidak pernah mengerti penderitaanku selama ini, appa! Tidak mudah bagiku untuk menerima kenyataan bahwa aku harus menikah di usia remajaku. Tidak mudah juga bagiku untuk kehilangan orang yang aku cintai dalam waktu singkat dan tiba-tiba. Jadi, kumohon agar kalian tidak menambah penderitaanku. Aku sudah dewasa. Biarlah aku memilih jalan hidupku sendiri, tanpa campur tangan kalian.”

Hati Luhan bagaikan ditusuk ketika mendengar pengakuan Jessica. Pria itu merasa dirinya semakin kejam karena telah menambah penderitaan Jessica dengan perpisahan mereka. Ia pun kembali mendengar suara nyonya Jung.

“Kau salah memahami pembicaraan kami, Jessica. Kami—“

“Aku tidak akan mendengarkannya. Aku pergi!!”

Luhan segera melangkah ke sudut ruangan, sehingga ketika pintu dibuka, Jessica bisa melangkah pergi tanpa melihatnya. Setelah Jessica pergi, langkah kaki Luhan pun segera mengikuti kepergian Jessica.


Selama seharian penuh Jessica berkeliling Seoul tanpa tujuan dengan mobilnya. Selama seharian penuh Luhan pun tidak pernah berhenti mengikuti Jessica. Luhan segera turun dari mobilnya dan langsung mengikuti langkah Jessica kembali. Ini sudah pukul satu dini hari, tidak heran jika Luhan merasa panik ketika ia kehilangan jejak Jessica. Namun, pria itu bisa kembali bernapas lega ketika mendapati wanita yang dicintainya sedang berdiri di pinggir sungai Han sambil menatap pertunjukkan air mancur dari Banpo bridge.

Inilah saatnya Luhan memberanikan diri untuk menghampiri Jessica dan mengatakan pada wanita itu bahwa ada sesuatu yang lebih baik daripada perpisahan mereka. Memulai kisah cinta mereka dari awal lagi dan menjaganya sepenuh hati. Setelah Luhan sudah berada tepat di belakang Jessica, pria itu tahu bahwa wanitanya tengah menangis.

“Mau aku belikan teh hangat?” Luhan tahu pertanyaan itu adalah hal yang paling bodoh untuk membuka percakapan, tetapi lidahnya sungguh terasa kelu sehingga hanya kalimat tanya itu yang bisa Luhan lontarkan.

“Jangan ikut campur urusan orang lain!” Jessica mencibir.

Luhan menghela napas, sepertinya Jessica tidak mengenali suaranya. Ia pun kembali berkata. “Angin malam akan membunuhmu jika kau berada di sini dengan baju tanpa lengan yang kau pakai.”

“Sudah aku bilang, jangan ikut campur urusan orang lain!!” bentak Jessica yang sama sekali tidak membuat Luhan tersinggung. Luhan tahu, pernyataannya barusan tentu saja akan membuat Jessica kesal.

Penarasan akan isi hati Jessica lebih dalam, Luhan pun bertanya. “Apa yang membuatmu menangis?”

“Ugh, aku hanya benci pada seseorang yang tidak pernah kembali walau sudah tujuh tahun lamanya aku menunggu. Tapi aku lebih membenci diriku sendiri karena akulah yang membuat orang itu pergi! Seandainya dari awal aku tidak melakukan hal bodoh dan mempertahankan hubunganku dengannya, aku tidak perlu memikul beban seperti sekarang. Aku juga benci diriku sendiri karena baru sadar bahwa aku sangat mencintainya ketika ia pergi dari hidupku. Aku hanya benci pada diriku sendiri yang terlalu pengecut untuk mengakui perasaanku yang sesungguhnya.”

Mendengar pengakuan Jessica, Luhan langsung merasa semakin dan semakin bersalah, tetapi ia pun merasa tersentuh karena pernyataan Jessica bahwa wanita itu masih mencintainya.

“Maafkan aku, Jess.”

Luhan segera memeluk Jessica dari belakang, berharap akan membuat Jessica lebih tenang dan tidak menyalahkan dirinya sendiri, karena sesungguhnya Luhanlah yang bersalah selama ini. Ia ingin membuat Jessica memaafkan kesalahannya dan memberikan Luhan kesempatan kedua untuk mencintai dan melindungi Jessica lagi.

Luhan berucap lembut, “Don’t hate yourself. Aku hanya terlalu bodoh karena menganggap takdir tidak ingin kita bersama, menentang hubungan kita. Namun, setelah sekian lama waktu berputar, aku sadar bahwa perpisahan kita malah membuat diri kita tersakiti.”

Luhan melepaskan pelukannya. Pria itu memutar tubuh Jessica sehingga kini mereka berdiri berhadapan. Melihat Jessica yang kedinginan, Luhan tersenyum seraya melepaskan jas hitam dari tubuhnya kemudian menyampirkan jas itu di tubuh Jessica. Dirinya tidak akan membiarkan angin malam membuat Jessica jatuh sakit.

Luhan menghela napas kemudian kembali memberikan penjelasan. “Aku pikir, dengan kepergianku, kau akan hidup lebih bahagia. Namun, ternyata aku salah, dan malah menyakitimu seperti ini. Maafkan aku, Jess.”

“Dari mana kau tahu password apartemenku?”

Pertanyaan Jessica membuat Luhan terkekeh seraya mengacak rambut wanita itu gemas. Mengapa Jessica bisa tampak sangat polos dalam keadaan seperti ini? Sudah tujuh tahun berlalu, tetapi di mata Luhan, Jessica masih seperti remaja menggemaskan yang mampu membuat ia tergila-gila.

Tidak ingin membuat Jessica menunggu lama akan jawabannya, Luhan pun berkata. “Dari Baekhyun.”

Alis Jessica terangkat, “Baekhyun?”

Luhan mengangguk. Ia langsung teringat semua jasa Baekhyun selama ini. “Aku sangat berterima kasih pada Baekhyun karena telah mengawasimu. Aku juga sangat berterima kasih pada Baekhyun karena telah membuatku yakin bahwa aku adalah orang paling pengecut di dunia ini, sehingga membuatku memberanikan diri untuk menemuimu lagi. Selama ini aku salah, Jess. Dan maafkan aku karena telah menyakitimu,” ujar Luhan sambil menatap penuh harapan agar wanita yang paling dicintainya itu memaafkannya.

Jessica hanya terdiam. Hal itu sungguh membuat Luhan khawatir. Khawatir jika Jessica tidak akan pernah memaafkannya. “Aku mengerti jika kau tidak ingin memaafkanku—“

“Aku bersedia memaafkanmu, asal kau harus kembali menikah denganku dan menjadi suami yang baik untukku.” Jawab Jessica pada akhirnya, tersenyum manis sekaligus tersipu akan permintaannya.

Mendengar jawaban Jessica, hati Luhan langsung berbahagia. Ia membalas senyuman Jessica lalu berucap, “As your wish, Jess.”

Tidak dapat mengekspresikan kebahagiaan lewat kata-kata, Luhan pun segera meraih Jessica ke dalam pelukannya, memberikan kehangatan yang luar biasa pada wanita itu. Beberapa saat kemudian, terdengar ucapan Jessica, “Tapi, Luhan, kurasa ada satu masalah lagi yang akan mengganggu hubungan kita.”

Luhan melepaskan pelukannya dan menatap Jessica heran. Hatinya langsung gundah. “Masalah?”

Jessica mengangguk. “Orang tuaku berniat menjodohkan aku lagi. Menyebalkan, bukan?”

Untuk beberapa saat Luhan menyerap perkataan Jessica sehingga pada akhirnya ia mengerti masalah apa yang dimaksud Jessica. Tawa Luhan terdengar, dan Jessica pun tampak bingun akan hal itu. “Sebenarnya, kau sudah menerima perjodohan mereka.”

“Maksudmu?” tanya Jessica semakin heran.

Luhan tersenyum, “Dengan memintaku sebagai suamimu, kau sudah menerima perjodohan mereka.”

Mata Jessica membulat ketika ia mengerti apa yang Luhan katakan. “Kau adalah pria yang akan mereka jodohkan denganku?”

Luhan mengangguk. “Ya. Di restoran, sebenarnya orang tuamu berusaha membujuk agar kau bisa menerimaku kembali, tetapi rupanya kau terlalu emosian sehingga menyalah artikan maksud orang tuamu. Dan, ya, aku yang memohon pada orang tuamu agar mereka bisa menjodohkanmu denganku lagi.”

Jessica mengerucutkan bibirnya. “Kau yang membuatku emosian seperti itu, tahu!”

“Aku tahu. Aku juga yang membuatmu menjadi wanita pecandu minuman beralkohol, bukan? Maka dari itu, mulai sekarang aku akan mengubahmu seperti Jessica yang dulu.”

“Dari mana kau tahu bahwa sekarang aku hobi minum?”

Luhan mengangkat bahu. “Hanya tahu saja.”

“Selama ini kau mengawasiku, ya? Aish, jika benar kau mengawasiku, kenapa kau tidak menunjukkan batang hidungmu di depanku, huh? Hey, Luhan, apa kau tidak merasakan bahwa—“

Ucapan Jessica terpotong ketika Luhan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jessica, kemudian mencium wanita itu dengan lembut. Walau terkadang bertengkar konyol dengan Jessica terasa amat menyenangkan, tetapi malam ini Luhan tidak ingin melakukannya. Ia hanya ingin menghabiskan malam romantis penuh kebahagiaan bersama Jessica. Menebus semua kesalahannya pada wanita itu dan membuat Jessica bahagia karena kehadirannya. Menjadikan kebersamaan mereka malam ini menjadi hal yang tidak bisa ia lupakan. Ciuman mereka pun semakin mendalam, ketika Jessica mulai membalas perlakuan Luhan dengan lembut.

Jadi, inilah hal yang lebih baik daripada perpisahan. Menciptakan awal yang baru setelah akhir yang menyedihkan. Luhan berjanji tidak akan melepaskan dan membuat Jessica menderita lagi. Masalah apapun yang kelak akan menimpa mereka, Luhan berjanji akan menghadapinya dengan penuh keberanian dan tanpa rasa takut. Luhan tidak akan mengulangi kesalahannya. Luhan akan membuat hubungannya dengan Jessica tidak akan terpecahkan setelah sempat ia akhiri oleh pemikiran bodohnya.

<

p style=”text-align:center;”>-Better Than Goodbye – End-

 

Hehehehehehe maaf jika tidak jelas dan aneh ya T-T maaf juga jika ada typo. Dan terima kasih telah membaca ff ini. Saran dan kritik kalian yang membangun sangat aku terima di sini ^^

 

 

 

 

[1] CUC = Communication University of China. Formerly known as Beijing Broadcasting Institute.

[2] FIT (Fashion Institute of Technology) = is a selective State University of New York—also known as SUNY—college of art and design, business, and technology connected to the fashion industry. FIT Maintains close ties with the design, fashion, advertising, and international commerce. (Source: Petersons.com)

44 thoughts on “Better Than Goodbye

  1. Gilakkk sih, aku tu ga pernah suka baca cerita sudut pandang cowo kaya gini, tapi entah kenapa suka banget baca ini. Feel nya dapet banget. Kamu sukses membuatku tersihir dengan tulisanmu. Aku gabisa berkata-kata lagi, pokoknya aku cinta banget sama cerita ini❤

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s