Excessiveness

excessiveness

Excessiveness

Cast: Baekhyun (EXO) and Luna F(X) | Support Cast: Chanyeol (EXO), Taeyeon (SNSD), and Sulli F(X) | Genre: Thriller, Crime, Romance  | Length: Vignette | Rating: PG

 

“Aku yang berlebihan atau kau yang keterlaluan?”

Logo (2).psd

(@ghivory)

© 2014

 

 

Direction: Italic = Flashback

 

 

Anggaplah ini semua kesalahan Baekhyun. Dia yang terlalu bodoh dan tolol. Tidak berpikir hal macam apa yang bisa saja terjadi manakala ia menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol sampai yang berhubungan dengan masalah pribadinya sekalipun di akun ask.fm miliknya.

 

“Luna..”

 

Rintihan Baekhyun terdengar, bak meminta belas kasih iblis yang tengah menyiksanya. Sosok itu pun menoleh, lantas tersenyum kecil manakala penglihatannya menangkap bayangan Baekhyun yang tengah terduduk lemas dengan darah yang mengalir dari pelipis dan perutnya.

 

“Ada apa, Sayang?”

 

Kaki jenjangnya melangkah, mendekati Baekhyun yang wajahnya sudah pucat pasi. Sosok bernama Luna itu mendaratkan jemarinya di dagu Baekhyun, kemudian menyapu cairan amis di sudut bibir orang yang pernah dicintainya itu.

 

#

 

Tidak. Sebelumnya Baekhyun tidak mengenal Luna.

 

Mengagumi dari balik jendela kelas. Memandang lekat-lekat demi memuaskan hatimu yang akan meronta-ronta manakala tak dapat melihat sosoknya saat di rumah. Ingin berkenalan, namun kau tak punya cukup keberanian untuk memulai duluan.

Luna tahu pasti bagaimana rasanya. Melakoni hal-hal semacam itu selama satu tahun telah membuatnya menjadi secret admirer profesional. Sayangnya, pilihan Luna itu membuatnya harus menyimpan dalam-dalam perasaannya. Menyembunyikannya hingga ia menemukan waktu yang tepat untuk menunjukkannya.

Luna sempat putus asa. Namun sialnya, Luna malah semakin terjatuh untuk lelaki dengan suara merdu di kelas XI-1, satu yang bernama Baekhyun.

Gelar secret admirer tak Luna dapatkan begitu saja. Bahkan embel-embel profesional di belakangnya pun ia dapatkan dengan susah payah. Tanyalah apa saja yang berhubungan dengan Baekhyun pada Luna, aku jamin ia bisa menjawabnya.

 

“Apa, sih, yang membuatmu menyukai Baekhyun? Dia tidak lebih dari lelaki bawel yang suka iseng.”

 

Kalau ada pertanyaan semacam itu yang menubruk otak Luna, ia akan sanggup membalasnya dengan berbagai pujian yang ia tujukan untuk Baekhyun. Walau kenyataannya lelaki itu tak sama sekali tahu.

 

Bahkan mengenal Luna saja pun, tidak.

 

#

 

“Hentikan semua ini. Aku tahu, aku salah.”

 

Untaian kalimat itu lolos dari bibir Baekhyun. Membuat yang mendengarnya tersenyum timpang. Pandangan mereka bertemu dan tak ada satu pun yang berusaha menghindarinya.

 

“Maaf, Sayang. Aku tak bisa.”

 

Setengah berbisik, Luna berucap. Seolah tak ingin bangunkan sosok jangkung bersurai coklat yang ada di pojok ruangan. Luna lantas mengecup singkat pipi Baekhyun, kemudian bangkit dan melangkah menuju sosok jangkung itu.

 

“Seharusnya, kau mengikuti ucapannya, Sayang.”

 

#

 

Chanyeol berlari menerobos keramaian koridor sekolah di jam istirahat. Seperti pria yang kebakaran jenggot, ia menengok ke sana ke mari mencari sosok Baekhyun. Pria bodoh yang sialnya adalah sahabatnya.

Buru-buru Chanyeol menggerakan tungkainya, manakala ia melihat sosok Baekhyun tengah duduk-duduk bersama Taeyeon di taman sekolah.

 

“Baek! Baekhyun!”

 

Baekhyun menoleh, mencari-cari asal suara berlafal namanya. Lalu, ia menemukan Chanyeol yang muncul dengan napas tersenggal-senggal.

 

“Hai, Yeol. Ada apa?”

 

“Bisa kita bicara sebentar?”

 

“Oh, tentu.”

 

“Hanya berdua.”

 

Baekhyun pun meminta Taeyeon untuk meninggalkan mereka, setelah berjanji akan menghubunginya nanti. Rasa penasaran mengusik hati Baekhyun, kala ia menangkap gurat-gurat keseriusan di wajah Chanyeol.

 

“Ada apa, sih? Sampai-sampai Taeyeon saja tidak boleh mendengar?”

 

“Kau, apa kau sudah gila?”

 

“Heh, kau mengataiku gila?”

 

“Akun ask.fm mu!”

 

Awalnya Baekhyun kira Chanyeol hanya bercanda, namun saat sahabatnya itu menyangkutpautkan dengan salah satu akun SNS-nya, Baekhyun sadar ada sesuatu yang tak beres.

 

“Ask.fm?”

 

“Aku tidak tahu seberapa jelek nilai-nilai pelajaranmu. Aku tidak tahu jawaban-jawaban macam apa yang biasa kau tulis di kertas ulangan. Tapi kurasa, seharusnya kau bisa mengontrol jawaban-jawaban konyolmu.”

 

Baekhyun tampak kebingungan, tidak mengerti dengan arah ucapan Chanyeol yang tak tercerna oleh otaknya.

 

“Kau baru saja menyakiti perasaan seseorang, Baek.”

 

“Aku? Yeol, jangan berlebihan seperti itu. Aku tahu, aku memang konyol. Menjawab semua pertanyaan di akunku dengan asal-asalan. Tapi, menyakiti seseorang? Itu terlalu berlebihan.”

 

Wajah Chanyeol tampak datar, tak berekspresi walau hatinya merasakan kekhawatiran yang mendalam pada sahabatnya. Firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang terjadi kalau masalah ini tidak buru-buru diselesaikan.

 

“Terserah kau mau menganggapku berlebihan atau apa. Aku di sini, aku berbicara dengan berlebihan seperti ini, semata-mata hanya karena aku mengkhawatirkanmu, Baek.”

 

Baekhyun hanya memutar bola matanya, jenuh dengan perkataan Chanyeol yang benar-benar tidak mencerminkan dirinya yang biasanya. Tubuh jangkung itu lantas bangkit, “Kuharap, kau mau memikirkan lagi soal hubunganmu dengan Taeyeon. Aku tak tahu hal buruk apa yang mungkin terjadi ke depannya. Tapi setidaknya, aku sudah memperingatkanmu.”

 

#

 

Tatapan sendu Luna tertuju pada sosok dengan mata terpejam bernama Chanyeol. Ia kemudian membelai lembut pipi Chanyeol, seolah kasihan dengan nasib malang yang menimpanya.

 

“Seharusnya, kau tak tertidur seperti ini. Kalau saja kau mengatakan di mana Baekhyun bersembunyi saat itu, aku tidak perlu menggelitik dadamu dengan pisau, kan?”

 

Luna kemudian mencabut pisau yang masih tertancap di dada Chanyeol, ia kemudian mengambil tisu yang ada di sofa table seraya menghapus bekas darah Chanyeol dari benda mengkilap itu.

 

“Ini semua karena ulahmu, Sayang.”

 

Air mata Baekhyun menetes, seiring perasaan berlabel penyesalan menggerogoti hati dan pikirannya. Bagaimana bisa ia mengabaikan Chanyeol? Bagaimana mungkin ia membiarkan Chanyeol terbunuh hanya demi menyelamatkan nyawanya dari iblis bernama Luna itu?

 

Baekhyun mengerang.

 

“Apa maumu?!”

 

Luna meletakan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan agar Baekhyun mengecilkan suaranya. Sambil membawa benda mengkilap itu, Luna membuka pintu ruangan. Senyuman licik terplester di sana.

 

“Lepas! Lepaskan aku!”

 

Baekhyun kenal suara itu.

 

“Taeyeon? Taeyeon?!”

 

Seseorang berbaju hitam mendorong tubuh Taeyeon jatuh ke tengah ruangan. Matanya ditutup oleh kain hitam, sedang tangan dan kakinya diikat dengan tali. Baekhyun buru-buru berlari ke sana, ingin memastikan kalau kondisi Taeyeon baik-baik saja. Tapi Luna tidak mengizinkan.

 

“Sayang..”

 

Panggilan Luna membuat langkah Baekhyun terhenti, bak mantra yang membuat Baekhyun mengurungkan niatnya. Tidak bisa ditolak, hanya bisa dituruti. Baekhyun terduduk di tempatnya tadi berdiri, hanya bisa menyaksikan Taeyeon yang menggelinjang berusaha melepaskan diri dalam bisu.

 

“Setelah apa yang terjadi, kau masih saja memilihnya.” Alunan suara Luna kembali terdengar, seperti angin dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. “Memangnya, kau secantik apa?

 

#

 

Memangnya, kau secantik apa?

 

Hati Luna tersakiti oleh kalimat singkat itu. Tersayat oleh pisau kasat mata yang langsung mendorongnya jatuh ke dasar jurang. Kalimat itu bukanlah jawaban yang ia inginkan dari pertanyaan yang ia ajukan.

“Memangnya, kau secantik apa?” Luna bergumam, membayangkan bagaimana mimik seorang Baekhyun saat mengucapkan kalimat itu.

Sudut-sudut mata Luna basah. Ia tahu, ia tahu kalau Baekhyun menyukai Taeyeon. Luna tahu, kalau akan sulit baginya untuk mendapatkan Baekhyun. Akan sulit baginya, seorang gadis yang bahkan tak istimewa, untuk menempati salah satu ruang di hati Baekhyun. Tapi Luna tak mempedulikan hal itu. Ia tetap menyukai Baekhyun. Mencintai Baekhyun dengan sepenuh hatinya.

 

Tapi hari itu, menit itu, detik itu, Luna terluka.

 

“Memangnya, kalau aku tidak cantik, kau tak mau berkenalan denganku?”

 

Lagi-lagi Luna berbicara sendiri, menyuarakan pemikirannya yang tak pernah dimengerti siapa pun. Mungkin tak seharusnya ia meminta bantuan Sulli, memohon-mohon pada sahabatnya yang terlampau baik itu untuk mengenalkannya pada Baekhyun.

Karena ketika Luna melihat konversasi Sulli dengan Baekhyun di SNS, ia terluka.

 

#

 

Luna membelai pucuk kepala Taeyeon, sedikit ganjil manakala senyuman kecil terlukis di bibir merahnya.

 

“Siapa kau? Lepaskan aku!”

 

Taeyeon berteriak, merasa kesal karena seseorang yang tak ia kenal tiba-tiba saja membelai kepalanya. Hanya saja, teriakan adalah hal yang dibenci Luna.

 

“Memangnya, kau secantik apa, hm?”

 

Jemari Luna menelusup ke sela-sela rambut Taeyeon, menjambak surai hitamnya ketika berhasil menuntaskan kalimatnya. Kepala Taeyeon tertarik, nyeri sekaligus pusing. Benda mengkilap yang sedaritadi menunggu mangsa bergerak pelan menyusuri  pipi Taeyeon, membuat gadis itu ketakutan sekaligus gemetar.

 

“Katakan padaku, memangnya kau secantik apa?!”

 

Nada suara Luna meninggi, kesal karena Taeyeon tak menjawab pertanyaannya. Baekhyun yang terduduk lemas, hanya bisa menyaksikan kejadian itu sambil menikmati rasa sakit di sekujur tubuhnya.

 

Jlebb

 

Baekhyun memalingkan wajahnya, enggan melihat adegan sadis yang akan membuat hatinya sakit seketika. Percikan cairan amis mengotori sepatunya. Tidak, itu bukan darah milik Baekhyun.

 

“A..apa..maumu sebenarnya?”

 

Luna menendang tubuh Taeyeon yang tak berdaya. Bahkan mendengar pertanyaan gadis itu saja, Luna tak sudi. Lelah bermain dengan boneka Barbie, kini Luna kembali pada Baekhyun.

 

“Aku minta maaf, Sayang. Dia belum mati. Jadi, aku akan memberikan pilihan padamu.”

 

Baekhyun melirik Luna, tertarik dengan penawarannya. Mungkin saja, ini satu-satunya jalan agar Taeyeon bisa keluar dari tempat mengerikan ini. Hidup tenang dan melupakan mimpi buruk ini.

 

“..kau bisa membunuhnya, atau kau membunuh dirimu sendiri.”

 

Luna menyodorkan pisau yang entah sudah memakan berapa korban pada Baekhyun. Tatapannya begitu lembut, seolah meyakinkan Baekhyun kalau benda itu sama sekali tak berbahaya. Baekhyun tertegun.

 

“Kau tak bisa memilih?”

 

Baekhyun menyeret tubuhnya yang sudah mati rasa mendekati Taeyeon. Ia tak berucap, tak berusaha memberitahu Taeyeon kalau ia ada di sana—di samping Taeyeon dengan pisau yang bisa saja ia tusukan ke jantungnya.

Tampak senang dengan adegan di hadapannya, Luna melangkah pasti mendekati Baekhyun. Jemarinya menari di bahu Baekhyun, seraya bibirnya meloloskan beberapa kalimat manis yang sempat menggoda Baekhyun.

Baekhyun tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

“Cepat, Sayang. Aku tak punya banyak waktu.”  Luna semakin mendesak Baekhyun, tak sabar ingin tahu mana yang dipilih pria itu.

 

#

 

Tak ada yang tahu apakah hari telah berubah jadi siang, sore, atau pun malam. Semua tampak sama, tidak ada bedanya dengan hari-hari yang lalu. Bahkan mereka tak yakin hari apa itu.

 

“Kau masih hidup?”

 

Luna bertanya seraya memiringkan kepalanya, berusaha melihat sosok Baekhyun yang sama-sama terbaring menatap langit-langit ruangan. Tubuhnya tak kalah terluka seperti Baekhyun. Cairan amis juga keluar dari belakang kepala Luna. Selain itu, tangan kirinya juga terluka, tersayat oleh benda mengkilap yang dulu adalah budaknya.

“Cih,” Luna bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya, tersenyum miris ketika melihat bekas darah di tempat semula ia berbaring, “kalau kau mau membunuhku, seharusnya kau langsung saja menusuk perut atau sekalian jantungku.”

Yang diajak bicara masih memejam. Ia masih hidup, 100 persen masih sadar walau tubuhnya mati rasa karena kehabisan darah. “Maaf, maafkan aku.” ucap Baekhyun, benar-benar dari lubuk hatinya.

“..aku menghargai pilihanmu. Membiarkan gadis itu tetap hidup, menyuruhnya untuk memulai sesuatu yang baru dan melupakan mimpi buruk ini.” Luna mengambil jeda, menatap udara kosong barang sejenak, “Aku juga ingin.”

Baekhyun membuka matanya, berusaha bangkit. Perasaan aneh mendominasi hatinya, antara kasihan dan menyesal. Baekhyun tak dapat mendeskripsikannya.

Terseok-seok Luna melangkah, mendekati meja di sudut ruangan. Tampaknya ia ingin mengambil ponselnya. “Sudah berapa hari kita seperti ini? Apa kau menghitung?”

Rasanya tenaga Baekhyun hampir habis, sudah mendekati batas akhir. Otaknya tak dapat membayangkan hal gila macam apa lagi yang mungkin saja terjadi, toh kalau pun masih ada mungkin saja Baekhyun akan mati setelahnya. Kini maniknya hanya terfokus pada Luna, seorang gadis yang bukan hanya terluka fisik, namun juga hatinya. Sialnya, Baekhyun adalah penyebabnya.

 

“Kau sedang apa?” Merasa janggal, Baekhyun bertanya.

 

Luna menyandarkan tubuhnya di tembok, kaki-kakinya bahkan tak cukup mampu untuk menopang bebannya. “Bahkan hingga titik terakhir, aku tak bisa memilikimu dalam ilusiku.”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Aku akan mengakhirinya. Kegilaan ini dan..cintaku padamu.”

 

Luna tersenyum, sangat manis dan tulus. Lalu di detik berikutnya, tubuh itu tak lagi mampu menahan luka yang selama ini disembunyikannya. Kesadarannya hilang, sedang darah terus keluar dari luka-luka disekujur tubuhnya.

 

“Luna?”

 

Susah payah Baekhyun menyeret tubuhnya menghampiri Luna, memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu. Jemarinya ia paksa menyentuh pipi lembut Luna, menyapukan air mata yang entah sejak kapan menggenang di sudut mata gadis itu. Buru-buru Baekhyun meraih ponsel yang Luna geletakan di meja, mengecek siapa yang Luna hubungi barusan.

 

“Bodoh. Kenapa kau menghubungi polisi?” Baekhyun melempar ponsel itu, lantas merengkuh tubuh Luna yang perlahan terasa dingin, “Kau tak boleh mati. Setelah ini benar-benar berakhir, kita harus memulainya dengan baik, memulai semuanya dari awal. Jadi, kau harus tetap hidup.”

 

Tapi, seberapa kencang pun Baekhyun berucap, seberapa erat pun Baekhyun mendekap Luna, tubuh itu tak lagi meresponnya.

 

 

 

END

p.s: Sorry for the genre, hehe. It’s my first time write something like this. Review please? ^.^

9 thoughts on “Excessiveness

  1. ya ampun sadis banget ini mah segitu terlukanya luna karna tak mendapatkan cinta baekhyun ataupun hanya sekedar dekat sampai harus menjadi seorang yang sadis dan gila begitu semua emang karna sikap baekhyun yang seenaknya dan chanyeol jadi korbannya masih ada sequelnya gk gimana nasib baekhyun selanjutnya ini keren banget chingu

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s