Truth About Love – Chapter One

truth-about-love

Truth About Love

Chapter One

The Cast:

Oh Sehun-Byun Jihae(OC)-Park Chanmi(OC)-Byun Baekhyun

sehun  jihae  chanmi  baekhyun

Supporting Cast:

Park Chanyeol-Dyana Kwon(OC)-Do Kyungsoo

chanyeol  dyana  kyungsoo

Others:

Girl’s Day Sojin – EXO Xiumin

Multichapter | PG15+ | Romance – Angst – Hurt

Written by © Amy Park

Thank you for your amazing poster, L.JOO @ Indo Fanfiction Art^^

Note/warning: Hanya ada konflik yang rumit dan tidak ada kisah lovey-dovey manis ala remaja di ff ini ._.

.

.

My heart hurts when i see you…

***

Wanita itu mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja. Tiada senyuman yang tersungging di bibir merah mudanya. Matanya menatap tajam pada seorang pria, tengah serius berbincang melalui sebuah ponsel.

“Oh, ayolah, Jihae-ya, kau jangan berpikiran buruk. Mungkin saja Sehun pulang larut karena sedang banyak pekerjaan.”

Pria itu menjauhkan ponselnya sejenak kemudian menatap sang kekasih yang duduk di hadapannya. Ia tersenyum lalu berucap, “Chanmi-ya, adikku baru saja menikah dua minggu yang lalu. Aku harap kau mengerti.”

Chanmi menghela napas ketika sang pria kembali berbincang melalui ponselnya. Ia tidak percaya kencannya akan selalu diganggu oleh adik sang kekasih. Awalnya Chanmi berpikir jika Jihae sudah menikah, dia tidak akan mengganggu hubungannya dengan Baekhyun. Ya, Baekhyun. Pria sialan yang tampak lebih mencintai adiknya sendiri ketimbang kekasihnya.

Sudah lima tahun lamanya Chanmi berpacaran dengan Baekhyun, sudah lima tahun pula Jihae menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat Chanmi kesal. Jika Baekhyun tiba-tiba membatalkan kencan dengan Chanmi, itu karena Jihae. Jika Baekhyun tidak jadi menjenguk Chanmi yang sedang terbaring di rumah sakit, itu juga karena Jihae. Namun, seberapa kesal Chanmi pada Jihae, dia tidak bisa mengeluh atau bahkan merajuk pada Baekhyun agar pria itu menjauhi Jihae. Chanmi lebih memilih untuk diam dan menyimpan rasa kesal yang menumpuk untuk dirinya sendiri. Chanmi bukan seorang pengecut, ia hanya takut jika kekesalannya ia ungkapan, Baekhyun akan meninggalkannya. Ya, wanita itu terlalu takut untuk kehilangan kekasihnya.

“Sudah selesai?”

Baekhyun tampak memasukkan ponsel ke dalam saku kemeja. Dia tersenyum lembut pada Chanmi seraya berdiri dan mendekat ke arah wanita itu. Baekhyun berucap, “Jihae membutuhkan aku. Dia baru saja bertengkar dengan Sehun. Aku akan ke apartemenmu nanti malam.”

Pria itu mencium pipi Chanmi kemudian pergi meninggalkannya. Chanmi kembali menghela napas lalu ia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.

“Park Sojin, aku butuh tiga botol whiskey!!”

***

“Bagaimana aku tidak kesal, dia selalu pulang pukul tiga dini hari tanpa memberikan kabar. Dia juga selalu berangkat ke kantor pukul enam pagi tanpa pamit. Apa menurutmu dia suami yang baik? Di otaknya hanya ada pekerjaan. Menyebalkan!!”

Baekhyun menanggapi keluhan adiknya dengan senyuman simpul. Ia memberikan es krim coklat kepada Jihae seraya duduk di sampingnya. “Kurasa Sehun sedang banyak proyek yang harus ia kerjakan sehingga dia lebih sering berada di kantor. Sebagai istri yang baik, kau seharusnya mengerti.”

“Aku mengerti, oppa. Aku sangat mengerti Sehun. Namun, tidak seharusnya dia mengabaikan aku, bukan? Dia bahkan tidak pernah lagi berbincang denganku lebih dari lima menit. Aku takut jika dia sudah tidak mencintaiku.” Jihae mengerucutkan bibirnya, menghela napas kemudian melahap es krim coklat kesukaannya dengan perasaan jengkel.

Baekhyun terkekeh seraya mengacak rambut Jihae, “Berhentilah berpikiran negatif. Jika memang tindakan Sehun membuatmu kesal, bicarakanlah baik-baik dengannya.”

Eomma benar.”

“Mmm?”

Jihae menatap Baekhyun serius, “Perkataan eomma waktu itu sangat benar, oppa. Aku terlalu muda untuk menikah, bahkan oppa saja belum menikah. Dan ya, aku terlalu berpikiran negatif. Malam ini akan aku bicarakan baik-baik dengan Sehun, sesuai saran oppa.”

“Baguslah kalau begitu, “ senyum Baekhyun.

Jihae teringat suatu hal, ia kembali menoleh pada Baekhyun. “Kapan oppa dan Chanmi unnie akan menikah?”

Pertanyaan sang adik membuat raut wajah Baekhyun berubah. Pria itu tampak tidak nyaman, “Aku tidak tahu.”

“Kenapa tidak tahu? Oppa dan Chanmi unnie sudah berpacaran cukup lama. Oppa yakin tidak tahu kapan kalian akan menikah?”

Baekhyun berusaha tersenyum, “Ada suatu hal yang harus aku pastikan sebelum menikahinya, Jihae-ya. Aku hanya ingin tidak terburu-buru.”

“Ada wanita lain di hati oppa?” tanya Jihae seakan tahu isi hati Baekhyun.

Baekhyun memalingkan wajahnya dari Jihae. Pria itu kini memandang ke arah lima orang anak yang sedang bermain di kolam taman yang tidak jauh dari tempat ia berada seraya menjawab, “I… don’t know.”

***

Waktumu hanya sebulan. Jika kau tidak bisa melunasi utang, kehidupan indahmu akan tamat. Kau paham persetujuannya, bukan?

Shit!!”

Sehun melempar ponselnya ke dashboard mobil. Hatinya kini sibuk menyumpahi sang ayah yang berani kabur dan membebankan semua utang padanya. Dia benar-benar mengutuk pria tua hobi berjudi yang sekarang tidak diketahui keberadaannya itu—kini Sehun sungguh tidak peduli jika ia dicap sebagai anak durhaka karena umpatan kasar pada sang ayah. Yang ada di kepala Sehun sekarang adalah bagaimana caranya dia melunasi utang tersebut. Minta pertolongan pada ibunya? Oh, itu bisa saja terjadi jika orang meninggal mampu memberikan uang kepadanya. Sehun pun yakin kini sang ibu sedang menatapnya penuh rasa kasihan dari surga.

Walaupun baru saja memiliki status sebagai pengantin baru, Sehun jarang sekali pulang ke rumah dan menikmati romantisme bersama istrinya. Dia terpaksa mengerjakan sebuah proyek mega hotel di tengah waktu istirahatnya untuk mendapatkan uang. Sehun memang seorang arsitek profesional, tetapi mustahil jika seorang arsitek bisa mendapatkan uang lima ratus juta won dalam satu kedipan mata, bukan? Maka dari itu, Sehun harus bekerja keras agar ia bisa melunasi utang ayahnya walau sang istri akan mengomelinya karena terlalu sibuk pekerja.

Sehun menghela napas setelah cukup lama merenungi nasib. Ia memutuskan keluar dari mobil dan berjalan memasuki sebuah bar. Pria itu membutuhkan sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya, walau hanya untuk sementara.

Seorang penjaga berkumis tebal menyambut kedatangan Sehun dengan sebuah high five. Sehun memang sering mengunjungi bar ini ketika ia sedang stres sehingga dia mampu mengenal hampir seluruh pegawai di bar tersebut.

“Aku tidak pernah melihat pengantin baru yang berwajah suram sepertimu, Hun. Banyak masalah?”

“Biasalah, Shin, sesuatu yang sungguh menyebalkan.”

Pria yang disebut Shin itu tertawa mendengar respon Sehun. Ia menepuk bahu Sehun kemudian menunjuk sebuah tempat, “Di sana, aku sudah memesankan sebuah tempat untukmu. Selamat bersenang-senang dengan minumanmu.”

Sehun pun berjalan menuju tempat yang ditunjuk Shin sesudah ia mengucapkan terima kasih pada pria itu. Tempat yang dipilih Shin sangat pas bagi Sehun untuk meratapi nasibnya, terdapat di pojok ruangan dengan hanya ada satu pengunjung wanita di sana. Sempurna.

“Bagaimana perasaanmu?”

Sehun yang baru saja duduk di kursi bar menoleh heran kepada seorang wanita yang duduk di sampingnya. “I’m sorry?”

Wanita itu pun menoleh seraya tersenyum, “Bagaimana perasaanmu jika kekasihmu lebih mencintai adiknya sendiri?”

Sehun tersenyum kecil melihat keadaan wanita itu yang tampak mabuk, entah mengapa rasa stres Sehun perlahan memudar ketika melihat wanita yang mengenakan blazer coklat itu. Ia menuangkan whiskey yang sudah dipesankan Shin di gelas kecil terlebih dahulu sebelum menjawab, “Perasaanku mungkin saja sakit, tetapi aku tidak akan khawatir karena mereka adalah saudara dan tidak akan mungkin menjalin hubungan. Well, yeah, setidaknya kekasihmu tidak akan berselingkuh dengan adiknya sendiri.”

Wanita itu tersenyum sinis. “Tapi jika mereka bukan saudara kandung, hal itu bisa saja terjadi, bukan?”

Sehun meneguk whiskey-nya lalu mengangguk. “Ya, mungkin saja.”

“Lalu aku harus berbuat apa? Sesungguhnya aku sudah terlalu membenci adik kekasihku. Bahkan ketika wanita tengil itu menikah, aku tidak hadir untuk memberinya selamat.”

Sebelum Sehun menjawab, seorang wanita lain berambut coklat panjang menghampiri mereka dengan langkah terburu-buru. “Chanmi-ya, astaga, kau benar-benar mabuk berat. Ikut aku, kekasihmu sudah menunggu di lobi.”

Wanita berambut coklat itu mencoba untuk menuntun Chanmi, hendak membawanya pergi. Sehun beranjak dari kursi karena dia tampak kesulitan, “Mau aku bantu?”

“Ah, tidak usah. Aku sudah terbiasa menanganinya. Lagipula, jika ada seorang pria yang menuntun, kekasihnya akan marah besar. Aku yakin kau tidak ingin bermasalah dengan kekasih Chanmi karena dia sangat menakutkan ketika cemburu. Aku pergi dulu.”

Wanita berambut coklat itu pergi bersama Chanmi setelah memberikan Sehun sebuah senyuman kecil. Dia tampak kesulitan menopang Chanmi yang sedang mabuk, tentu saja. Sehun tersenyum kecil sambil menatap kepergian mereka.

“Kekasihnya lebih mencintai sang adik? Kekasihnya akan marah besar jika dia bersama pria lain? Ck, pria brengsek macam apa yang menjadi kekasihnya, eh?”

***

Kamar bernuansa merah muda itu tampak berantakan, beberapa potong pakaian wanita dan pria tergeletak di lantai. Di atas tempat tidur king size terbaring seorang wanita dengan hanya selimut coklat yang menutupi tubuh polosnya. Terik mentari yang masuk dari jendela kamar memaksanya untuk membuka mata. Ia mengubah posisinya menjadi duduk, menyandar pada kepala tempat tidur. Kepalanya terasa berat dan pusing karena pengaruh alkohol semalam. Beberapa detik kemudian, ia sadar bahwa sesuatu telah terjadi padanya. Melihat keadaan kamar yang kacau, dia tahu siapa yang membuatnya seperti ini.

“Oh, Chami-ya, kau sudah bangun?”

Pertanyaan itu Baekhyun lontarkan ketika ia keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya memakai handuk baju dan tengah mengeringkan rambut dengan sebuah handuk kecil. Chanmi hanya menatapnya tajam, tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya.

Seolah mengerti arti dari tatapan Chanmi, Baekhyun berucap, “Jangan salahkan aku. Semalam kau mabuk dan kau yang memohon agar aku melakukannya.”

Pria itu tersenyum manis tanpa merasa bersalah. Dia berjalan menghampiri lemari kayu coklat kemudian membukanya, membawa kemeja dan celana jeans yang akan ia pakai. Ya, ini memang kamar Chanmi dan ini adalah apartemen Chanmi. Namun, tidak sedikit baju milik Baekhyun yang tersimpan rapi di lemari milik Chanmi karena pria itu sangat sering menginap, atau lebih tepatnya ini merupakan rumah kedua bagi Baekhyun.

Chanmi tidak menggubris perkataan Baekhyun. Dia hanya memerhatikan Baekhyun dengan raut wajah yang sulit diartikan. Baekhyun yang telah sepenuhnya rapi dan tengah memakai jam di pergelangan tangan, menoleh pada Chanmi sambil tersenyum jahil, “Kenapa kau terus menatapku? Terpesona?”

Perkataan Baekhyun kali ini membuat Chanmi tertawa kecil, “Yup, in your dream.”

“Ada proyek yang sedang kau kerjakan?” tanya Baekhyun kemudian.

“Ada. Proyek sebuah hotel.”

Baekhyun mengangguk kemudian berjalan mendekati Chanmi. Pria itu duduk di sisi tempat tidur seraya menggenggam tangan wanitanya, “Oke. Jangan lupa sarapan, aku sudah membuatkanmu roti bakar. Dan, ya, aku harus pergi lebih awal hari ini karena ada sesuatu yang harus diubah berhubung bintang tamu kali ini mendadak batal hadir.“

“Vokalis pria berambut panjang itu?”

Baekhyun mengangguk. “Talk show kali ini memang bukan live-show, tapi proses recording tetap harus selesai hari ini juga. Para staf sedang dipusingkan karena pembatalan mendadak itu jadi aku harus segera ke kantor dan membantu mereka. Kau tidak apa-apa, bukan?”

Chanmi mengangguk mengerti. Keadaan hening selama beberapa menit sebelum pada akhirnya Chanmi berucap, “Hyun, kau tidak akan meninggalkan aku, kan?”

What are you talking about?”

“Tidak apa-apa. Hanya saja –“

“Aku harus pergi. Sampai bertemu besok,” potong Baekhyun sambil tersenyum.

Baekhyun mengecup bibir Chanmi sekilas kemudian beranjak pergi meninggalkan wanita tersebut. Chanmi tertawa sinis dan ia bergumam lirih, “What am i to you, Baekhyun? Your girlfriend or just your toy?”

***

For godess sake, Jihae. I’m not cheating on you!!!!”

“Bohong!! Kau bilang bahwa kau banyak pekerjaan sehingga sering pulang malam. Pekerjaan apa, huh? Minum di bar dan bermain dengan wanita lain?!”

Sehun menghela napas, “Berhentilah berpikiran negatif. Oke, kau benar, semalam aku pergi ke bar, tetapi itu hanya untuk menghilangkan stres, oke? Aku tidak ‘bermain’ dengan wanita lain.”

“Temanku melihatmu sedang mengobrol dengan seorang wanita mabuk!!”

Are you kidding me? Aku hanya mengobrol dengan wanita itu, bukan—“

“Ya, kau hanya mengobrol, tetapi setelah itu kau bermain bersamanya, kan? Kau selingkuh!!!”

Sehun memejamkan mata ketika Jihae melempar kotak tisu pada wajahnya. Pria itu menatap sang istri dengan tajam, “Fine. Karanglah cerita sesukamu. Kau berpikir aku selingkuh? Oke, aku anggap perkataanmu adalah benar. Berdebat denganmu adalah hal paling kekanakan, Jihae-ya. Aku akan pergi selama tiga hari, dan aku mohon jangan menggangguku.”

Sehun segera berbalik pergi setelah menatap sang istri dengan sinis. Jihae terduduk di kasur, menatap kepergian Sehun dengan tidak percaya. Dalam kepalanya terbesit sebuah pertanyaan, apa benar suaminya selingkuh?

***

Opppaaaaaaaaaa!!!!! Suamiku benar-benar selingkuh!!!!”

Baekhyun mengusap kupingnya sejenak karena teriakan Jihae. Dia kemudian membungkuk sembilan puluh derajat untuk meminta maaf pada teman-teman satu kantor karena tindakan Jihae. Ya, wanita itu menangis histeris sambil mengadu pada Baekhyun. Tentu saja sekarang keduanya sedang menjadi pusat perhatian di kantor stasiun tv tempat Baekhyun bekerja tersebut.

“Jihae-ya, bisakah kau berhenti menangis dan kecilkan suaramu?”

“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku tidak menangis dan tetap tenang jika suamiku memiliki wanita lain di hatinya?! Jika kau berada di posisiku, apa kau bisa tetap tenang, huh???!!!!!”

Baekhyun menggaruk tengkuknya, bingung akan melakukan apa. “Bukan begitu—“

“Aku sudah ingin membicarakan masalah ini dengan Sehun secara baik-baik, tetapi dia sendiri yang membuatnya kacau! Kalau sudah begini, aku rasanya ingin mati saja!!!” Jihae kembali berteriak dan terisak secara histeris.

“Oh, ayolah, Byun Jihae, ini tempat umum. Kita bicarakan nanti, ya? Sudah ada acara yang harus—“

“Apa oppa sudah tidak peduli denganku, huh? Oppa lebih memilih untuk tetap bekerja daripada mengurusi adikmu ini yang sedang dilanda masalah?!!”

“Baekhyun, para penonton Talk Show sudah mulai protes karena keterlambatanmu.”

Baekhyun meremas rambutnya gemas. Adiknya sedang histeris dan di sisi lain sang sahabat sekaligus partner kerjanya sudah menyuruh ia untuk segera kembali mengatur jalannya acara Talk Show.

“Chanyeol-ya, aku rasa aku membutuhkan Dyana untuk menenangkan Jihae.” Ujar Baekhyun setengah berbisik kepada sahabat yang sudah berdiri di sampingnya itu.

“Istriku hanya menangani orang-orang yang mengidap penyakit kejiwaan, bukan orang patah hati. Aku dan Kyungsoo akan mengurus Jihae, kau cepat kembali ke studio jika tidak ingin kehilangan pekerjaan.”

Baekhyun mengangguk. Ia kembali menoleh pada Jihae lalu berucap, “Aku harus bekerja, Jihae-ya. Chanyeol dan Kyungsoo akan menemanimu, oke?”

Pria itu menepuk bahu adiknya terlebih dulu kemudian pergi dari ruangan tersebut. Chanyeol menghela napas lalu berjalan mendekati Jihae. “Kau menyukai es krim, bukan? Ayo ikuti aku!”

***

“Bukankah mereka baru dua minggu menikah? Sudah ada perang dingin lagi?”

Chanyeol mengangguk menanggapi pertanyaan Kyungsoo. Mereka berdua kini sedang duduk di meja kerja masing-masing sambil menatap Jihae yang tampak terduduk lesu di sebuah sofa yang berjarak cukup jauh dari meja kerja. Sebelumnya, Chanyeol sudah menawarkan diri pada Jihae untuk membelikan es krim, tetapi wanita itu menolak dan memilih menunggu Baekhyun dalam diam.

“Lalu dia sering mengadu pada Baekhyun?”

Chanyeol kembali mengangguk, “Orang tua mereka berada di luar negeri sehingga hanya Baekhyun tempat Jihae mengadu. Namun, aku khawatir hal itu malah membuat hubungan Baekhyun dan Chanmi memburuk.”

Kyungsoo menghela napas, “For your information, hubungan mereka sudah memburuk.”

What do you mean?”

“Adikmu sering menemui Dyana. Dyana juga memberitahuku bahwa Chanmi sering mengalami tekanan karena Baekhyun.”

“Apa kau berpikir Chanmi mengidap penyakit kejiwaan karena Baekhyun?” Tanya Chanyeol sambil membulatkan kedua matanya, tampak terkejut.

“Melihat dia sering berkonsultasi dengan seorang psikiater seperti Dyana, hal itu bisa saja terjadi, bukan?”

Chanyeol menggeleng tegas seraya mengepalkan kedua tangannya, “Tidak. Jangan sampai hal itu terjadi. Jika memang benar Baekhyun membuat Chanmi mengalami gangguan jiwa—bukan berarti membuatnya stres seperti orang gila, ah, kau mengerti maksudku—aku bersumpah akan menghabisi pria itu dengan tanganku sendiri, mengesampingkan kenyataan bahwa dia adalah sahabatku.”

Kyungsoo terkekeh dengan pernyataan Chanyeol yang membara. “Oke, terserahmu. Oh, ya, kita punya seseorang untuk dihibur by the way.”

Pria itu menepuk bahu Chanyeol pelan seraya beranjak dari kursi, ia berjalan mendekati Jihae dan duduk di sampingnya.

“Apa aku terlalu berlebihan menangisi Sehun yang selingkuh di belakangku?”

“Apa kau benar-benar melihatnya bermesraan dengan wanita lain?” Kyungsoo balik bertanya.

Jihae menggeleng. “Tapi temanku ada yang melihat ia bersama wanita lain. Mengobrol berdua di sebuah bar dan wanita itu dalam keadaan mabuk.”

“Aku juga pernah mengobrol dengan Dyana berdua saja di sebuah bar ketika ia sedang mabuk. Apa itu bisa diartikan bahwa aku selingkuh dengan Dyana dan mengkhianati Chanyeol?”

Jihae tampak kesulitan menjawab pertanyaan Kyungsoo. Wanita itu menghela napas, “Apa aku terlalu cepat mengambil kesimpulan?”

“Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan dan kau juga tampak tidak memercayai Sehun, itulah yang membuat pikiranmu kacau dan rumah tanggamu berantakan. Sehun sering menghabiskan waktu di kantor bukan berarti dia lebih mencintai pekerjaannya daripada dirimu. Dia hanya bekerja keras agar kalian berdua bisa bertahan hidup. Sudah sepantasnya seorang suami mencari nafkah untuk keluarga, bukan? Kau hanya terlalu khawatir kehilangan Sehun, Jihae-ya. Cobalah untuk berpikiran positif dan percaya pada Sehun.”

Jihae mengehela napas mendengar petuah dari Kyungsoo seraya berkata, “Tapi tetap saja dia menyebalkan.”

“Bagaimana jika aku membelikanmu es krim agar kau bisa melupakan rasa sebalmu pada Sehun?”

***

“Kau tahu, Chanmi, tidak baik untukmu jika kau terus-menerus menggunakan obat penenang. Sudah saatnya kau menjalani terapi.”

Seorang psikiater seperti Dyana sudah terbiasa menghadapi pasien yang keras kepala, tetapi ini berbeda, pasien yang sedang duduk di hadapannya ini merupakan sahabatnya, sahabat paling keras kepala yang pernah Dyana miliki.

“Kau juga sudah tahu, Dyana. Aku tidak mau menjalani terapi.”

“Depresimu akan semakin parah, Park Chanmi, dan kau juga tahu sendiri hal itu akan membuatmu terbaring di rumah sakit. Darah rendah itu akan kembali menyerangmu ketika kau depresi.”

Chanmi memalingkan wajahnya dari Dyana seraya memainkan jari-jari tangannya di meja. Ia tampak memikirkan sesuatu kemudian menggeleng keras lalu kembali menatap Dyana, “Aku tidak bisa. Walaupun aku menjalani terapi, selamanya aku tidak akan pernah bisa meluapkan segala emosi dan kekesalanku pada Baekhyun.”

“Kau tidak akan pernah tahu sebelum mencobanya. Ayolah, Chanmi, ini demi kesehatanmu juga. Kau harus berusaha menghilangkan trauma itu. Please?” Dyana tampak memohon seraya menggenggam tangan sahabatnya.

“Tidak sekarang, Dyana. Tidak sekarang.” Jawab Chanmi, segera melepaskan genggaman Dyana kemudian beranjak dari kursi. Wanita itu tersenyum kaku pada Dyana lalu berkata, “Aku harus menemui seseorang.”

Dyana hanya bisa menghela napas melihat kepergian Chanmi. Sahabatnya itu memiliki depresi dan trauma yang cukup serius, tetapi tidak satu pun anggota keluarganya yang mengetahui. Tentu saja Chanmi meminta Dyana agar tidak memberitahukan kondisinya tersebut kepada orang tua, kakak, dan sanak saudaranya yang lain. Namun, dengan keadaan Chanmi yang semakin memburuk, Dyana tidak bisa merahasiakan hal ini lagi. Dyana harus segera memberitahu kondisi Chanmi kepada Chanyeol, kakak kandung sahabatnya itu.

***

“Di mana Jihae?”

“Astaga.”

Chanyeol mengelus dada ketika kehadiran Baekhyun mengagetkannya. Pria yang memiliki postur yang lebih tinggi dari Baekhyun itu menunjuk pintu sebuah ruang kerja seraya menjawab pertanyaan Baekhyun, “Tertidur di dalam sana, mungkin karena terlalu capek menangisi suaminya.”

Baekhyun menghela napas mendengar perkataan Chanyeol. Ia menepuk bahu Chanyeol, “Terima kasih sudah menjaganya.”

No problem. Sebaiknya kau temui adikmu. Aku akan menemui Dyana, sepertinya ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganku sehingga aku harus segera pergi.”

Baekhyun mengangguk. “Oke. Hati-hati di jalan.”

Setelah Chanyeol berjalan menjauhi Baekhyun, pria yang kini memakai kemeja biru itu langsung melangkah memasuki ruang kerjanya. Ia tersenyum kecil melihat Jihae yang sedang tertidur pulas di sebuah sofa. Baekhyun menghampirinya, duduk berlutut agar dia bisa lebih jelas menatap wajah adik angkatnya yang damai ketika tertidur.

Jemari Baekhyun mengusap rambut Jihae dengan perlahan, sedangkan bibirnya membentuk sebuah senyuman, “This is crazy, but i think i’m in love with you, Jihae.”

***

“Kau akan bekerja sama dengan desainer interior terbaik di kota ini, Sehun. Oh, iya, aku dengar desainer itu juga merupakan kekasih dari kakak iparmu.”

Sehun yang sedari tadi cuek terhadap perkataan sahabatnya, Minseok, kali ini berhasil mengalihkan perhatian dari buku sketsa dan menatap Minseok serius, “Kekasih kakak iparku? Maksudmu, dia kekasih Byun Baekhyun?”

Minseok menyesap kopinya sebelum menjawab pertanyaan Sehun. “Ya, Byun Baekhyun, memangnya Jihae memiliki kakak selain Baekhyun? Dan, hey, kau tidak kenal dengan kekasih kakak iparmu sendiri?”

“Tidak. Bahkan aku baru tahu jika Baekhyun memiliki kekasih. Mereka tidak pernah memberitahukan hal ini padaku.” Jawab Sehun seraya menutup buku sketsanya.

Minseok mengibaskan tangan, “Tapi hari ini kau akan bertemu dengannya, bukan? Kau jangan khawatir.”

Sehun dan Minseok memang sedang menunggu kedatangan sang desainer interior tersebut di kafe bernuansa vintage. Mereka akan membicarakan proyek mega hotel yang akan dikerjakan bersama. Sehun pun sungguh tidak menyangka, ia akan menjadi partner kerja kekasih kakak iparnya.

Eoh, itu dia sudah datang.”

Sehun mengikuti arah pandang Minseok ke pintu masuk kafe. Seorang wanita yang tidak asing di mata Sehun tampak memasuki kafe dan berjalan mendekat. Wanita mabuk yang ditemuinya di bar. Wanita yang mengadu pada Sehun tentang kekasihnya yang lebih mencintai sang adik. Tadi pun Minseok memberitahunya bahwa wanita itu adalah kekasih kakak iparnya. Yang benar saja, berarti kakak iparnya yang bernama Baekhyun memiliki hubungan lebih dari sekadar kakak-adik dengan Jihae?

Sehun memejamkan mata, apa masalah utang sang ayah tidak cukup untuk menjadi beban pikirannya?

-Truth About Love-

Maaf karena menambah FF di tengah dua ff yang belum tamat ._. tangan gatel banget pingin nulis ff yang rumit sekaligus nyesek ini hehehe :’) Mau post Pluviophile, tapi masih ada beberapa part yang harus aku edit karena gak masuk akal, jadi ya ff ini yang muncul…

Ide cerita ini dari sahabat aku. Ceritanya kami, aku sama dua sahabat tercinta, lagi sibuk ngomongin situs yang bernama thesecretlanguage dot com, heboh ngejodohin diri sendiri sama para bias. Buat cara main yang lebih detail, tinggal kunjungi aja situsnya (Lah, malah promosi –) terus gak tau ada angin apa tiba-tiba temen aku ngajuin ide buat ff yang penuh dengan masalah rumit dan dengan cerita yang lebih ‘dewasa’, dan jadilah ff ini.

Karena ff ini memiliki konflik rumit, maka di chapter 1 ini aku sengaja buat garis besar tentang konflik utamanya. Masih ada yang gak ngerti jalan ceritanya? Kalau ada yang tidak dimengerti silakan tanyakan di kotak komentar ._.

 

 

 

 

Advertisements

20 thoughts on “Truth About Love – Chapter One

  1. Pingback: Truth About Love – Chapter 4 – INDO FANFICTIONS

  2. Pingback: Truth About Love – Chapter Three | INDO FANFICTIONS

  3. ini bagus banget chingu nyesekkk banget yakkk jadi chanmi juga kasian sehun merasa dikhianati orang” sekitarnya
    ternyata rmang bener baekhyun suka ma jihae that’s crazy so much

  4. Waaah ini keren bangeeeet, berasa lagi nonton drama jadi ikut banget kebawa emosinyaa, geregetan aduh baekhyun ._.
    oiya sebelumnya salam kenal ya, aku zulfa 96 lner ^^

  5. Pingback: Truth About Love – Chapter Two | INDO FANFICTIONS

  6. Aaa kak Amyyyy >,<

    Ntah geregetan gitu bacanya. Jadi Baekhyun itu suka sama Jihae? Kok nyesek gitu sih :' kak tanggung jawab lo yaaa /? aku sih ngga seberapa ngerti ceritanya sih, soalnya masih 'underage' /slap. Tapi kayaknya keren jadi ya terusin baca aja xD

    Next chapter ditunggu, semangaat ♥

    • Bahkan aku juga gregetan pas nulisnya (?) yup dia suka sama si jihae, kan kasian ya si chanmi. Yang tanggung jawab baekhyun aja ya :’)
      Okee terima kasiiiihhh ^_^

  7. hahh keren sekali kakak, belum nyampe ke konflik rumit yaa. ditunggu next chapternya jangan kelamaaaaaan, fighting muaacchhhh :*

  8. Aq ngerti ceritanya.. Ini keren banget ide ceritanya..
    Sumpah aq gemes setengah mampus sama jihae, pikirannya sempit banget.. Dia kurang dewasa makanya sehun gak pernah cerita semua masalah dia ke jihae karena sehun ngangep jihae enggak dewasa, keras kepala, dan manja *eh
    Tp ini keren keren keren ~ aq bacanya aja smpe geregetan sndiri *author tanggung jawab (?)
    Pkoknya d tunggu kelanjutannya ppalli juseyo ~~~ fighting and keep writing! D tnggu pluvofilnya jg *aq gatau deh nulisnya gimana,.
    Pkoknya d tnggu ff selanjutnya 😀

    • Hehehe makasih yaaa… ide cerita awal dicetuskan sama temen aku btw, aku cuma ngembangin aja :3
      Nah itu dia… tingkah jihae kayak anak kecil, padahal dia udah berumur loh sebenernya ._.
      Aduh jangan aku dong yang tanggung jawab, Sehun aja yang tanggung jawab (loh) #dilemparsamasehun
      Oke siap… gomawooo yaaa ^^

  9. Ceritanya rumit ya.. Tapi asalkan seru pasti aku suka. Btw di sini sehunnya dikit banget. Tambahin lg ya sehunnya dia kan main castnya.hehe jangan lama2 post chapter selanjutnyaa~ hwaitingggg!

    • Banget, rumit banget, aku sampe puyeng sendiri nulisnya -___-
      iya mi ini kan baru awal, next chapter sehun-nya banyak kok. Oke, gomawoooo ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s