Goodbye~ [Ficlet]

goodbye_soosi

 

Author : Sifixo

Title  : Goodbye~

Cast  :

Park Chanyeol

Choi Sooyoung

Byun Baekhyun

Suho

Length : Ficlet

Rating : G

Note : Annyeong~ gak tahu kenapa tiba2 pengen publish ff…  FF pertama aku di IF, udah gak usah basa-basi. Happy reading… [warning : typo masih bertebaran] https://i0.wp.com/fc08.deviantart.net/fs71/f/2014/208/c/4/c4ebead9214c06bf18193c32a5efdcf8-d7nofy0.gif

Goodbye

“Chanyeol-ah, kau harus tabah…” ujar Suho sesaat sebelum keluar dari kamar Chanyeol, Suho melihat Chanyeol sebelum ia benar-benar pergi. Ia sangat kasihan melihat Chanyeol sekarang, ia begitu menyedihkan, sudah 3 hari setelah kepergian orang yang paling berarti baginya ia tidak berangkat kekampus, keluar kamarpun tidak, makanannya selalu dibiarkan di depan pintu kamarnya.

“Sesedih apapun kau sekarang, hidup harus tetap berjalan. Aku yakin dia tidak ingin melihatmu seperti ini…” Chanyeol hanya diam menatap keluar jendela, mengacuhkan sahabatnya. “Aku pulang, nanti Baekhyun akan datang.” Ucapnya dan langsung menutup pintu.

Chanyeol hanya melirik pintu kamarnya yang perlahan tertutup, tubuhnya kembali merosot kedalam selimut. Ia mencoba untuk memejamkan matanya, bibirnya bergetar, air matanya kembali menetes saat mengingat kepergian orang yang sangat ia cintai. “Ark!!” geramnya langsung bangun dan membuang selimut yang ia gunakan. Ia meraih ponsel yang ada di meja “Kuharap kau mengangkatnya..” gumamnya sambil menyeka airmata yang terus menetes dipipinya, ia menekan nomor yang ia tuju.

‘Tutt… tutt… tutt…’ ia tersenyum miris, hanya suara nada terhubung yang ia dengar. Ia semakin geram dan ‘PRAKKK’ benda tak bersalah itu langsung hancur dan berserakan di lantai kamarnya. Ia memandang sebuah foto yang tertempel didinding kamarnya.

“Ya… mau kemana kau?”

“Bukan urusanmu!”

Tubuhnya bergetar desiran aneh dan sesak menghinggapi dadanya, ia memukul pelan dadanya untuk mengurangi rasa sakit.

“Kenapa kau pergi dengannya? Bukankah kau ada janji denganku?”

“Maafkan aku tapi aku benar-benar harus pergi dengannya, maaf tidak menghubungimu.”

“Jadi dia lebih penting dari pada aku? Kenapa kau tidak berkencan saja dengannya ha!”

“Chanyeol…”

“APA?”

“Kau tahu, sebuah kertas saja bisa melukai tubuh. Dan kebohonganmu sudah melukai tubuhku, hati. Kau berselingkuh?”

“Apa?”

“Kenapa?”

“Huh… baiklah jika itu permintaanmu.”

Chanyeol menyandarkan tubuhnya dinding, kejadian itu selalu teringat di benaknya. Tubuhnya merosot di lantai, lalu menyebunyikan wajahnya diantara lututnya.

“Chanchan..” Suara Baekhyun terdengar dari arah pintu, namun Chanyeol tidak menghiraukannya. Ia masih pada posisinya. Kepala manusia berisik itu menyembul dari luar kamar, ia melirih Chanyeol yang sedang duduk di lantai.

“Aku masuk ya?” tanyanya pelan “Ne..” jawabnya sendiri, dengan tenang ia berjalan menuju ranjang Chanyeol. Ia menatap Chanyeol yang masih tertunduk lesu.

“Gwaenchanya?” tanyanya pelan, ia takut dibentak oleh sahabatnya itu. Namun tetap tidak ada jawaban, hanya ada gelengan yang ia lakukan. Baekhyun mendesah pelan, ia menatap foto yang tertempel di dinding kamarnya, menatap foto yang sama dengan Chanyeol tatap tadi. Raut wajah Baekhyunpun berubah sedih, mata indahnya kembali berkaca-kaca.

“Kau tahu, kenapa aku tidak seperti mu saat ini ketika Sunghyun hyung meninggal.” Ia melirik Chanyeol yang perlahan merespon dirinya, Chanyeol mengangkat kepalanya dan melihat Baekhyun dengan tatapan dingin, matanya terlihat bengkak dan ia seperti tak diurus.

Baekhyun tersenyum simpul “Karena aku tahu dia tidak harus menderita, dia tidak harus menderita karena penyakit yang dideritanya dan masalah-masalah lainnya yang satu-persatu menghampirinya. Kau tahu aku dan Sunghyun hyung sangat dekat, kau tahukan…” Baekhyun mencoba untuk menahan air mata yang hampir menetes itu “Kau tahu, setelah kepergian orang tua kami hanya Hyun hyung yang aku punya. Awalnya aku sering bertengkar dengannya, karena dia hidupku jadi berantakan namun lama-kelamaan aku menikmatinya. Menikmati setiap waktu bersamanya, bertengkar denganku adalah impianku saat ini. Karena pertengkaran yang aku ingin lakukan dengannya sudah tidak ada, kini menjadi impian yang tak akan bisa kugapai. Dan sekarang kau berada diposisiku.” Tanpa ia sadari setetes kristal telah menetes dipipinya. Ia tersenyum simpul “Jadi kuharap kau bisa ikhlas akan kepergiannya dan tidak membuat jalannya menjadi gelap.” Chanyeol terdiam.

Baekhyun mengeluarkan sebuah surat dari kantong jaketnya “Ini.. kuharap setelah membacanya kau akan mengetahui yang sebenarnya.” Ucapnya sambil memberikan amplop itu pada Chanyoel, Chanyeol menatap amplop berwarna biru toska itu.

Lama Baekhyun menunggu, “Aku tahu kau takut membacanya sekarang, tapi kau harus tetap membacanya.” Pinta Baekhyun sambil meletakkan amplop itu diatas meja.

“Kau tahu…” Baekhyun kembali ketempatnya dan melihat Chanyeol yang bersuara “Kau tahu saat dimana kita harus menjalani hari-hari kita sendiri tanpa orang yang kita sayangi itu sangat menyakitkan. Kita terlalu terbiasa bersamanya, aku terlalu sering melukainya aku belum sempat membahagiakannya. Kau tahu, bahkan setelah kepergiaannya kami belum berbaikkan.” Chanyeol kembali menitihkan airmata. Ia kembali tertunduk.

Baekhyun tahu perasaan Chanyeol sekarang “Aku tahu…” ucapnya lembut, ia mencoba mendongakkan kepalanya upaya membuat air matanya tak jatuh.

“Chanyeol lihatlah…” rengek Sooyoung sambil menunjuk seekor kelinci yang berada di balik pohon.

“Aish… kau ini seperti anak kecil saja.” Chanyeol menghempaskan genggaman tangna Sooyoung.

“Ya! Lihatlah cantik bukan…”

“Shirreo!” Sooyoung langsung diam saat nada bicara Chanyeol meninggi, Chanyeol terdiam saat melihat yeoja yang berada disampingnya itu terdiam dengan raut wajah sedih.

Chanyeol mendesah pelan, “Mianhae…” ucapnya lembut.

“Shirreo!” balas Soo lalu pergi.

“Soo.. ayolah jangan seperti ini. Sooyoung…” Chanyeol terus memanggil yeoja yang terus berjalan ia dengan cepat.

“Kau jahat, kau berani membentakku dan menepis tanganku” gumamnya sambil terus berjalan.

Chanyeol merasa lelah langsung berlari untuk meraih tubuh yeoja yang sekarang yang sedang dalam pelukannya. Awalnya yeoja itu menolak, namun Chanyeol menahannya dan mempererat pelukannya.

“Lepaskan!” pinta Soo sambil memukul-mukul tangan Chanyeol.

“Tidak, sebelum kau memaafkanku.”

“Shirreo! Kau namja kasar, tengil dan jahat.”

“Mianhae… aku sangat takut dengan kelinci. Jadi aku tidak mau melihatnya… mianhae..” ucapnya pelan sambil tertunduk, ia menempelkan keningnya dikepala Sooyoung. Sooyoung terdiam ia tidak meronta, Chanyeol merutuki dirinya sendiri. Ia begitu malu untuk mengakui jika ia sangat takut dengan binatang kecil dan lucu itu. Chanyeol terdiam saat merasakan sebuah tangan mengelus tangannya, “Mianhae… aku tidak tahu jika kau-” Sooyoung menggantungkan kalimatnya. “Tidak, aku hanya malu untuk mengakuinya. Kau tahu seorang Park Chanyeol takut dengan kelinci? Itu sangat memalukan.” Potongnya.

“Semuanya akan menjadi impian sekarang, impian yang tak bisa terwujud. Jika aku bisa memutar waktu dan kembali pada masa-masa itu.” Baekhyun mengangguk, mengerti.

“Semuanya sudah takdir, dan mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuknya.” Chanyeol mengangguk pelan.

Chanyeol masih terdiam menatap amplop biru yang tergeletak diatas meja didekat lampu tidurnya, lama ia menatap dan tanpa ia sadari setetes krystal telah menetes dipipinya. ia mengerjapkan matanya beberapa kali guna menahan air mata yang akan kembali mengalir.

“.. kuharap setelah membacanya kau akan mengetahui yang sebenarnya.” | “Aku tahu kau takut membacanya sekarang, tapi kau harus tetap membacanya.”

Ucapan Baekhyun kembali terngiang dipikirannya “Apapun yang terjadi kumohon jangan pernah bersedih.” | “Sesedih apapun kau sekarang, hidup harus tetap berjalan. Aku yakin dia tidak ingin melihatmu seperti ini…” ucapan Suho juga kembali terngiang. Perlahan tangan kekar itu meraih amplop itu.

“To Chanie~

Chanie annyeong~

Bagaimana kabarmu sekarang? Ku yakin kau baik-baik saja. Aku harap kau tidak menangis dan mengurung dirimu dikamar. Aku tahu kebiasaanmu saat sedih. Aku tidak mau kau sakit, maaf telah pergi tanpa berpamitan. Maaf… hanya itu yang bisa kukatakan sekarang, saat kau membaca surat ini aku sudah tidak bisa lagi menemanimu belajar, berlatih di studio musik dan melakukan semua yang sering kita lakukan bersama.

Mandirilah, ijinkan aku pergi dengan tenang. Kau tahu betapa sakitnya ini, ini sangat menyiksaku. Karena harus meninggalkanmu, aku menulis surat ini sambil mengingat persahabatan kita, canda tawa kita bersama, saat kau memberanikan diri mengutarakan cinta, dan saat pertengkaran yang belum selesai.

Dan sekarang aku kau sudah tahu alasanku meninggalkanmu dulu, kumohon maafkan aku. Terima kasih telah mengisi hari-hariku dengan tawa, dan memberiku sedikit harapan untuk hidup. Tapi.. Tuhanlah yang tahu apa yang terbaik untuk umatnya. Kumohon jangan pernah menangis… seorang Park Chanyeol menangis? Itu memalukan…

Chanyeol-ah… mianhae…

Chanyeol-ah… gomawo…

Chanyeol-ah… saranghae…

 

Sooyoungie ”

 

Airmata itu terus mengalir, hingga menetes membasahi kertas putih yang ia pegang. Noda darah masih terlihat di beberapa sudut kertas, ia menangis sekencang-kencangnya. Mengeluarkan semua kesedihannya, ia sudah tak sanggup lagi. Dadanya terasa sangat sesak dan sakit setelah membaca dan mengingat semua hal yang ia lakukan bersama Sooyoung.

“Nado… nado saranghae..” ucapnya pelan disela-sela isakannya.

End

Cerita apa ini >_< semoga kalian sukalah.. jangan lupa L/C after reading ^_^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s