Sidewalk

side-walk

Sidewalk

| by Shaza | Chanyeol & Sulli | 700+ words of romance and hurt | FICLET |
Thanks elisalysa for the poster.

.

Kehidupan adalah perjalanan.

.

Sepanjang sore itu, telinga Jinri tak rehat bekerja untuk mengambil setiap dengung suara Chanyeol. Meski berkali-kali pula desau angin berusaha menerbangkan setiap uliran kalimat yang dilempar Chanyeol, pria itu tetap mengambil alih gerak pada bibirnya.

Langkah kaki membawa tubuh Jinri menapak pada susur jalan kota yang padat, Jinri menyembunyikan senyumnya dibalik kerutan alis. Gumpal perasaan senang menyelubungi hatinya ketika mengetahui bahwa Chanyeol tengah berdiri di sampingnya, turut berjalan menyusuri trotoar ditemani oleh bising kendaraan jalan kota.

Mengenai fakta bahwa Chanyeol adalah teman kantor yang telah lama menawan hatinya membuat senyum Jinri terkembang, terpaksa ia menyembunyikannya—tidak ingin memberi tanda ketertarikan sama sekali. Ia tidak lupa, alasan keduanya berjalan beriringan seperti saat ini adalah tugas, perintah yang wajib dikerjakan.

Jinri menghentak sepatu haknya di tanah, tak kunjung mengalahkan bising kendaraan serta dengung pembicaraan acak yang tertangkap di pendengaran Jinri. Samar, bibir Chanyeol yang bergerak di sampingnya terasuk di benak Jinri.

“Kau tahu, Jepang mengadakan paket honey moon terfantastis tahun ini.” Itu hanyalah satu dari puluhan kalimat tanpa pola yang dimartil Chanyeol sejak lima menit yang lalu. Selalu menjadi fokus pendengaran Jinri saat ini ketika langkah kaki membawanya menuju gedung kantor, sementara tangannya menopang map dan tas.

Jinri bergeming, tak menyahut. Meski hatinya meletup ingin segera menyambar kalimat itu dengan antusiasme tak terbendung. Chanyeol adalah pria ramah yang mudah terbiasa dengan hal-hal jauh seperti Jinri. Sosok Jinri adalah gadis pekerja keras yang mengaku tak pernah menyinggung soal kekasih sepanjang usianya, apalagi menjalani hubungan spesial dengan seseorang.

Huft~ kenapa kau begitu, sih? Aku ‘kan sudah berbaik hati memberikan obrolan.” Jinri mendengar rajukan imut dari sampingnya. Menyadari bahwa sejak tadi ia tak menyisi tubuhnya pada Chanyeol sama sekali, Jinri mengerling sesaat, berkehendak keras untuk menilik ekspresi yang tengah dituding oleh teman kantornya.

Lampu lalu lintas memijar cahaya merah, seketika menghentikan segala pergerakan pada kendaraan yang berlalu-lalang. Jinri melangkah menyebrangi titik tengah jalan kota yang telah tertimbun garis berlabel zebra cross tepat di hadapan kendaraan yang tengah menjeda perjalanan, menunggu bersinarnya lampu hijau.

Jinri tetap diam, tak kunjung menanggapi ujaran Chanyeol, kendati pria itu telah merajuk imut. Pribadi Jinri yang dikenal dingin oleh orang-orang menumbuhkan harga diri tinggi untuknya merespons rajukan yang layak digaris sebagai nada bocah.

Gadis itu mengubur senyum manisnya ketika menilik ekspresi Chanyeol, pria itu mengembungkan pipi—ia selayak dengan bocah taman kanak-kanak yang tidak diperbolehkan untuk menyentuh uang. Dalam diam, ditemani sinar matahari sore yang menyelinap di balik gedung-gedung pencakar langit, Jinri tersenyum tipis—menikmati detik yang terisi oleh dengung suara Chanyeol.

Tuan Lee yang meminta keduanya untuk mengantar berkas pada gedung sebelah ketika makan siang memenggal masa kerja mereka. Menarik waktu yang semestinya diluangkan untuk beristirahat, Jinri tak masalah apabila tugas yang ia miliki kali ini adalah mengantar berkas di gedung kantor sebelah—didukung oleh keberadaan Chanyeol di sebelahnya adalah penguat keinginan.

“Kalau begitu.., bagaimana jika kita berbulan madu lusa saja? Aku akan mengambil cuti selama seminggu.” Kalimat itu kembali terdengar, seiring dengan langkah keduanya yang menapak pada tiga-empat undakan tangga di depan gedung tujuan mereka saat ini.

Jinri spontan menghentikan langkah, mengukir kerutan di dahi ketika topik mengenai bulan madu yang ia pikir akan segera berakhir rupanya masih berlanjut hingga ke tahap yang lebih jauh. Ia mengabaikan ucapan Chanyeol sejak tadi, membiarkan pria itu berceloteh sendiri—namun, dirinya tidak menaksir bahwa rencana bulan madu-pun akan beradu di antara topik Chanyeol.

Gadis itu memutar sepatu haknya menuju tubuh Chanyeol, sadar bahwa selama perjalanannya di susur lajur kota diisi oleh tubuhnya yang menghadap ke depan. Ia menelisik sosok Chanyeol, dalam balutan jas kantornya serta tangan kanan yang menggenggam lembaran kertas.

Jinri menekan bibirnya, kembali menilik Chanyeol lebih jauh, hingga maniknya mendapati tangan kiri Chanyeol rupanya telah terangkat—berada tepat di telinga lebarnya. Ia memandang kagum pada segenggam ponsel di tangan kiri Chanyeol yang mengarah tepat ke telinga pria tersebut. Ia berdehem, berusaha memahami situasi selagi Chanyeol masih berujar.

“Aku tahu kau bosan, maka dari itu, lebih baik percepat saja acara bulan madu kita, bagaimana?” dan itu Chanyeol dengan senyuman lebarnya berbicara. Bukan kepada Jinri, namun kepada—ponselnya, seseorang yang ada dibalik ponsel Chanyeol.

Jinri mengerjap, menahan kabut gelap yang mulai menarik diri untuk mendekat pada sisi tubuh Jinri. Cabang otak di kepalanya melajur lancar, memproses setiap detil kejadian di mana awal Chanyeol membuka pembicaraan mengenai ‘bulan madu’ yang tak ia tanggapi selama di perjalanan, hingga maniknya menangkap segenggam ponsel di tangan Chanyeol.

Sementara hatinya teremuk paksa oleh ilusi, pengetahuan mengenai harapan singgah di hatinya. Terkadang, menaruh harapan terlalu banyak pada sesuatu akan membuatmu menyesal pada akhirnya.

“Park! Hentikan, kita harus mengantar berkas ini!” itu kalimat penuh emosi yang Jinri lempar setelah panjang waktunya ia bergeming. Chanyeol tersentak, tergesa menyimpan ponselnya sembari mengangguk.

“Ah, benar, Jinri-sshi.”

Kehidupan adalah perjalanan. Biarkan Jinri terus berharap di antara seluruh kejadian membahagiakan sesaat seperti sekarang, biarkan.

/fin./

.

.

Oke, apa ini? Sebenarnya aku nulis ini semenjak ngeliat banyaknya cewek yang mengeluh (di sosmed) soal cowok yang nge-PHP-in mereka. PHP itu apa sih? Pemberi harapan palsu gitu kan ya? Entah deh, dari situ—aku mikir, kayaknya istilah PHP itu gak masuk akal sama sekali 🙂

Di sini, yang salah itu ceweknya, karena berharap terlalu banyak sampe ngarepnya gitu deh, giliran tau kenyataan dia malah merasa dikhianati, padahal belum tentu udah pasti sesuatu yang dikasih cowok ini buat dia. Yah… aku mencoba menyampaikan pendapatku lewat fiksi ini. Semoga bermanfaat /?

Makasih bagi yang udah baca, okay? Hehe.

5 thoughts on “Sidewalk

  1. Aku kira bang CY itu tipe temenku yg kalo ngomong ngga pernah / jarang tak sahut .-. eehh, ternyata……………. duh pasti nyesek ya kalo jadi kak Sulli :’) untung aja kak Sulli ngga nyaut pembicaraannya bang CY ya hahaha.

    Daaan.. aku setuju ttg ulasan /? PHP dibawah itu. Masa ya temen seangkatanku juga udah mikir kayak gitu, apalagi udah sampe tahap PDKT, duh gebetannya dideketin cewe lain buat kerja kelompok aja udah ribut sendiri di Twitter .-. cemburu gitu katanya. Fyi kak, hampir 80% temenku itu udah punya pacar dan pas aku dibilangin ‘yaa dini jombloo weee’, aku cuma bisa nunjukin foto Bekyun sambil bilang ‘ini pacarku mana pacarmu?’

    ((yang itu ngga usah ditanggepin kak /slap))

    Overall, ini ngena banget hiks :’) kalo misal aku jadi kak Sulli pasti aku sudah berubah jadi jambu monyet /? ((ini apa)). Ditunggu banget karya2 selanjutnya, semangaat ♥

    • Hai Bekeeeey~
      Temenmu ada yang gak pernah nyahut pas diajak ngobrol? O_O wah sama dong, aku juga T^T itu nyesek banget loh. Kita ngomong panjang kagak dibales apa-apa, pengen ditonjok /? #abaikan.

      REALLY? SERIOUSLY! YOUR FRIEND? Ada yang juga merasa di-PHP-in? Sumpah, itu gak bohong kan temenmu? 02 liner juga dong, key? Ya ampuun~ segitunya yah masalah cinta. Emang anak jaman sekarang tuh gimana gitu /? Jujur ya key, aku aja belum pernah pacaran ._.v LOH KENAPA JADI NGOMONGIN GINIAN?!

      Haha~ jadi jumbu monyet? XD LOL
      Oke, makasih udah baca dan komen yaa~ kamu juga semangat, dearest one 😉

      • Hahaha iya apalagi pas di sms panjang2 jawabnya ‘y’, ‘g’, atau ‘gtw’ ((itu anak laki banget xD)). Mereka itu belum pernah ngerasain kelilipan golok kak /?

        Iya. Nggak bohong. Mungkin merekanya yang terlalu dewasa hehe .-. sama tuhhh… aku sama sekali ngga mau pacaran walopun bang Kepeng balik ke Ekso /?. Lagian aku nunggu dilamar seseorang kokk ((toel toel Bekyun)) ((digorok Taeyeon))

        Cieee ada typo ciee ((DIBUNUH BENERAN)). Hahaha ngga tau nih kak bawaannya jambu monyet mulu. Lagi pengen kacang mede lol. Oke sama samaa =)

  2. annyeong!! huaaah untung Jinri nggak nyahutin obrolan Chanyeol, kalo iya kan dia malu sendiri..

    huaaaah, yang ditelpon chanyeol itu akuu.. kami mau bulan madu ke jepang :’D #digamparauthor #okayabaikan

    daebak! ditunggu ff lainnyaa

    • Annyeong jugaaa~
      Yap, beruntungnya Sulli kagak nyahut, LOL. Tapi tetep kesian deng /?

      What? Yang ditelpon? Anda? HAHAHA~ /entah ini ketawa apa -___-
      hestek #digamparauthor itu berlaku gak? Kalau iya, yaudah sini aku gampar /GAK/ Canda koook~ XD

      Makasih ya udah baca dan komen ❤

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s